
<p>Di antara metode yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya agar usahanya diberkahi Allah <em>Ta’ala</em> dan mendatangkan keberhasilan ialah dengan menggunakan modal yang  diperoleh dari jalan yang baik, serta diperoleh tanpa ambisi dan  keserakahan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه  وسلّم كان يُعْطِي عُمَرَ بن الْخَطَّابِ رضي الله عنه الْعَطَاءَ فيقول له  عُمَرُ: أَعْطِهِ يا رَسُولَ اللَّهِ أَفْقَرَ إليه مِنِّي. فقال له رسول  اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أو تَصَدَّقْ بِهِ،  وما جَاءَكَ من هذا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ ولا سَائِلٍ،  فَخُذْهُ وما لا فلا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ. قال سَالِمٌ: فَمِنْ أَجْلِ ذلك  كان بن عُمَرَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شيئا ولا يَرُدُّ شيئا أُعْطِيَهُ.  متفق عليه</p>
<p><em>“Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari hendak memberi Umar bin  Khatthab radhiallahu ‘anhu suatu pemberian, kemudaian Umar berkata  kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, berikanlah kepada orang yang lebih  membutuhkannya daripada aku.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda kepadanya, “Ambillah, lalu gunakanlah sebagai modal atau  sedekahkanlah, dan harta yang datang kepadamu sedangkan engkau tidak  berambisi mendapatkannya tidak juga memintanya, maka ambillah, dan harta  yang tidak datang kepadamu, maka janganlah engkau berambisi untuk  memperolehnya.” Oleh karena itu, dahulu Abdullah bin Umar tidak pernah  meminta kepada seseorang dan tidak pernah menolak sesuatu yang diberikan  kepadanya.”</em> (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Pemaparan di atas adalah sedikit bukti bakwa sifat <em>qana’ah</em> adalah sumber kebahagiaan hidup di dunia. Tidak mengherankan bila banyak  ulama, di antaranya sahabat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Ikrimah  (baca <em>Tafsir ath-Thabary</em>, 14/171 dan <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>,  2/586) menyatakan bahwa “kehidupan yang baik/bahagia” yang dimaksud  pada ayat 97 surat an-Nahl(1) adalah sifat <em>qana’ah</em>. Yang demikian itu,  karena dengan sifat <em>qana’ah</em>, seseorang akan senantiasa merasa puas dan kecukupan dengan apa yang telah Allah <em>Ta’ala</em> karuniakan kepadanya.</p>
<p>Dahulu sebagian orang berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أطول الناس همّاً الحسودُ وَأَهْنَؤُهم عَيْشاً القَنُوعُ</p>
<p>“<em>Orang yang paling banyak dirundung rasa gundah adalah orang yang  paling besar rasa hasadnya, dan orang yang paling bahagia kehidupannya  adalah orang yang paling besar rasa qana’ah-nya</em>.” (<em>Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab</em>, 1/67).</p>
<p>Betapa tidak, sifat tamak dan serakah manusia tidak akan pernah  padam, walaupun ia telah dikaruniai segala macam kekayaan dan  keberhasilan. Bila seseorang senantiasa menuruti ambisi dan  keserakahannya, niscaya ia tidak akan pernah merasakan kedamaian dan  kepuasan hidup. Terlebih-lebih, bila ambisinya tersebut sampai  menjadikannya menempuh segala macam cara untuk meraih harta impiannya.  Rasa tamak dan serakah yang ada dalam dada manusia hanya akan padam bila  hayat telah terpisah dari badan.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(لو كان لابن آدَمَ وَادِيَانِ من مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا ولا يَمْلَأُ  جَوْفَ بن آدَمَ إلا التُّرَابُ وَيَتُوبُ الله على من تَابَ (متفق عليه</p>
<p>“<em>Andai seorang manusia telah memiliki dua lembah harta benda  (emas), niscaya ia masih menginginkan untuk mendapatkan lembah ketiga.  Dan tidak akan pernah ada yang dapat memenuhi perut manusia selain  tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari  perangai buruk tersebut-pen.) .</em>” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Sebagian ulama menyatakan, bahwa maksud dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “<em>Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari perangai buruk tersebut-pen.)</em>”  adalah setiap manusia memiliki tabiat cinta terhadap harta kekayaan dan  biasanya ia tidak akan pernah berhenti dari mengumpulkannya. Orang yang  dijaga dan diberi taufik oleh Allah sajalah yang mampu membersihkan  perangai buruk ini dari jiwanya. Tentu orang yang demikian itu sangat  sedikit jumlahnya (<em>Fathul Bari</em>, 11/256). Penyataan ini selaras dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Dan siapa yang dipelihara/dihindarkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</em>” (Qs. al-Hasyr: 9).</p>
<p>Pada hadits lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(يَكْبَرُ بن آدَمَ وَيَكْبَرُ معه اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ (متفق عليه</p>
<p>“<em>Seseorang semakin bertambah banyak umurnya (menjadi tua),  semakin besar pula kecintaannya kepada harta benda dan kepada umur  panjang</em>.” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Bila demikian adanya, akankah orang yang telah tua renta, bungkuk  punggungnya, dan lemah ototnya, akan dapat merasakan kebahagian hidup?  Tentu tidak, karena jiwanya senantiasa terpanggang oleh panasnya gelora  ambisi, sedangkan fisiknya tidak lagi kuasa untuk merealisasikannya.</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
<p> </p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>(1) Ayat tersebut adalah firman Allah <em>Ta’ala </em>berikut,</p>
<p> مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ  فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم  بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ</p>
<p> “<em>Barangsiapa yang beramal shaleh, baik lelaki maupun perempuan  sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya  kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada  mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka  kerjakan.</em>” (Qs. an-Nahl, 97).</p>
 