
<p><strong>Kiat ketiga menggapai keberkahan: Mensyukuri segala nikmat.</strong></p>
<p>Tiada kenikmatan -apapun wujudnya- yang dirasakan oleh manusia di dunia ini, melainkan datangnya dari Allah <em>Ta’ala</em>. Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> mewajibkan atas mereka untuk senantiasa bersyukur kepadanya yaitu  dengan senantiasa mengingat, bahwa kenikmatan tersebut datangnya dari  Allah, kemudian ia mengucapkan <em>hamdalah</em> dan selanjutnya ia  menafkahkannya di jalan-jalan yang diridhai Allah. Orang yang telah  mendapatkan karunia untuk dapat bersyukur demikian ini, akan mendapatkan  keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa  melipatgandakan untuknya kenikmatan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ</p>
<p>“<em>Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mengumandangkan, “Sesungguhnya jika  kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika  kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedi</em>h.” (Qs. Ibrahim: 7).</p>
<p>Dan pada ayat lain Allah<em> Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri.</em>” (Qs. an-Naml: 40).</p>
<p>Imam al-Qurthuby berkata, “Tidaklah manfaat syukur akan didapat  selain oleh pelakunya sendiri, di mana dengannya ia berhak mendapatkan  kesempurnaan dari nikmat yang ia dapat dan nikmat tersebut akan kekal  dan ditambah. Sebagaimana syukur juga berfungsi untuk mengikat  kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum  dicapai.” (<em>Tafsir al-Qurthuby</em>, 13/206).</p>
<p>Sebagai contoh nyata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ  وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ  طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ {15} فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ  سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى  أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di  tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di  sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki  yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.  (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha  Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka  banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun  yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara)  dan pohon bidara</em>.” (Qs. Saba’: 15-16).</p>
<p>Tatkala kaum Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tentram, Allah <em>Ta’ala</em> hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur.  Ini menunjukkan  bahwa dengan syukur, mereka dapat menjaga kenikmatan mereka dari  bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang belum pernah mereka  dapatkan.</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 