
<p>Saudaraku, tahukah Anda apa yang dikatakan oleh orang-orang  mendambakan agar memiliki kekayaan dan keberhasilan seperti yang dicapai  oleh Karun, di saat mereka menyaksikan adzab yang menimpa idola mereka?  Mereka serentek mengakui bahwa kepandaian, kegigihan, dan kehebatan  Karun tidaklah berguna. Rezeki, kebahagiaan, keselamatan, dan  kesengsaraan adalah bagian dari ketentuan Allah yang berlaku pada  makhluk-Nya. Oleh karen itu, mereka berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ  وَيَقْدِرُ لَوْلا أَن مَّنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا  وَيْكَأَنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ</p>
<p>“<em>Aduhai, benarlah (hanya) Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi  siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.  Kalaulah Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, niscaya Dia  telah membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntuk  orang-orang yang kufur (mengingkari nikmat Allah)</em>.” (Qs. al-Qashash: 82).</p>
<p>Saudaraku, coba bandingkanlah ucapan mereka di atas dengan keadaan  kita pada saat ini. Kita semua ramai-ramai mengakui, bahwa tidak semua  apa yang ada dan diterapkan oleh dunia barat layak untuk ditiru. Mungkin  sekarang ini -dengan terpaksa- banyak dari pakar ekonomi yang mengakui,  bahwa berbagai paham dan teori ekonomi yang mereka pelajari dari para  pewaris Karun tidak dapat menyelamatkan dan memakmurkan dunia. Di  berbagai mass media, kita dapatkan berbagai ulasan yang merinci berbagai  kesalahan dan kebobrokan paham ekonomi yang dianut oleh dunia barat.</p>
<p>Saudaraku, tidakkah krisis ekonomi global ini cukup menjadi  peringatan bagi kita untuk kembali kepada Syariat Allah?! Bukankah kita  semua menyadari dan beriman, bahwa dunia berserta isinya adalah ciptaan  Allah? Akan tetapi, mengapa kita tidak mengindahkan dan menerapkan  aturan dan ketentuan yang telah Allah turunkan dalam memakmurkan dunia?!</p>
<p>Bukankah bila kita membeli suatu mesin dari suatu perusahaan, dengan  sepenuhnya kita mematuhi tatacara pengoperasian dan perawatan yang  mereka tentukan?! Akan tetapi, mengapa kita menyelisishi kebiasaan ini,  tatkala kita hendak menggunakan dan merawat dunia yang merupakan ciptaan  Allah?!</p>
<p>Saudaraku! Simaklah janji Allah<em> Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ  حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ  إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ  قَدْرًا</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan  mengadakan beginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang  tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah,  niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya, Allah (berkuasa untuk)  melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya, Allah telah  mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan</em>.” (Qs. at-Thalaq: 2-3).</p>
<p>Pada ayat lain, Allah<em> Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ لَكُمْ  رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا  لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. (العنكبوت: 17</p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu  memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan  beribadah dan bersyukurlah kepada-Nya,. Hanya kepada-Nyalah kamu akan  dikembalikan.</em>” (Qs. al-Ankabut: 17).</p>
<p>Janji Allah <em>Ta’ala</em> pada ayat kedua ayat ini bukan berarti bila  kita telah shalat, puasa, dan berdzikir lalu akan segera turun hujan  emas dan perak. Tidak demikian, ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(لو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ على اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ  كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً (رواه أحمد  وغيره</p>
<p>“<em>Andaikata engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya  tawakkal, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki-Nya kepadamu,  sebagaimana Allah melimpahkan rezeki kepada burung, yang (setiap) pagi  pergi dalam keadaan lapar dan pada sore hari pulang ke sarangnya dalam  keadaan kenyang.</em>”  (HR. Ahmad dan lain-lain).</p>
<p>Demikianlah aplikasi ayat ini, umat Islam harus bekerja keras,  berjuang dengan pantang menyerah. Gambaran tawakkal umat Islam adalah  bagaikan seekor burung yang bekerja jeras pantang menyerah. Pada setiap  pagi, setiap burung meninggalkan sarangnya menuju ke berbagai arah, guna  mengais rezekinya, dan pada sore hari, masing-masing kembali ke  sarangnya dalam keadaan kenyang.</p>
<p>Alangkah indahnya jiwa seorang mukmin yang mengamalkan ayat dan  hadits di atas. Ia bekerja keras, pantang menyerah, dan pada saat yang  sama, ia beriman bahwa rezekinya ada di Tangan Allah <em>Ta’ala</em>.  Setiap usahanya senantiasa diiringi dengan iman, doa dan tawakkal, serta  ditutup dengan rasa syukur. Semboyannya adalah sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ  نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ  عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ  وَدَعُوا مَا حَرَمَ</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(رواه ابن ماجة وعبد الرزاق وابن حبان والحاكم وصححه الألباني)</p>
<p>“<em>Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan  tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya  tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam  seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada  Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah  jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram</em>.” (HR. Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban dan al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel www.PengusahaMuslim.com</p>
 