
<p>Agar kita semakin memahami betapa besarnya peranan doa keberkahan  atas kenikmatan yang ada pada kita, maka saya mengajak pembaca untuk  bersama-sama merenungkan beberapa hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">العَينُ حقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيءٌ سَابَقَ القَدَرَ، سَبَقَْهُ العَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلتم فَاغْسِلُوا. رواه مسلم</p>
<p>“<em>(Pengaruh buruk) mata adalah benar adanya, dan seandainya ada  sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya akan didahului oleh mata  (al-‘ain). Dan bila engkau diminta untuk membasuh diri, maka basuhlah.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Pada hadits lain, dengan lebih tegas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan pengaruh langsung dari pandangan orang tidak memohonkan keberkahan untuk kenikmatan yang ia saksikan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(أَكْثَرُ مَنْ يَمُوتُ مِنْ أًُمَّتِي بَعْدَ كِتَابِ الله وَقَضَائِهِ  وَقَدَرِهِ بِالأَنْفُس ( يعني بالعين) (رواه البزار والطَّيالسي وابن أبي  عاصم وحسنه الألباني</p>
<p>“<em>Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku -setelah karena  ketentuan dan takdir Allah- adalah akibat pengaruh  jiwa.” Maksudnya  “pandangan mata.</em>” (HR. al-Bazzar, ath-Thayalisy, Ibnu Abi Ashim dan dihasankan oleh al-Albany).</p>
<p>Pada hadits lain Nabi <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(العَيْنُ تُدْخِلُ الرَّجُلَ القَبْرَ وَالجَمَلَ القِدْرَ. (رواه ابن عدي وأبو نعيم وحسنه الألباني</p>
<p>“<em>(Pengaruh) al-‘ain (daapt) menyebabkan seseorang masuk ke dalam  liang kuburannya dan unta ke dalam panci</em>.” (HR. Ibnu ‘Adi, Abu Nuaim dan  dihasankan oleh al-Albani).</p>
<p>Pada suatu hari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat anak-anak sahabat Ja’far bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhuma</em> yang berbadan kurus, maka beliau bertanya kepada ibu mereka yaitu Asma’ bintu ‘Umais<em> radhiallahu ‘anha</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(مَا لِي أَرَى أَجْسَامَ بَنِي أَخِي ضَارِعَةً، تُصِيبُهُمْ الْحَاجَةُ؟  قالت: لاَ، وَلَكِنْ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إليه. قال: أرقيهم، قالت:  فَعَرَضْتُ عليه، فقال أرقيهم.( رواه مسلم</p>
<p>“<em>Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku (keponakanku)  kurus-kurus, apakah mereka ditimpa  kekurangan/ kemiskinan?”  Maka Asma’  menjawab, “Tidak, akan tetapi (pengaruh mata) cepat sekali menimpa  mereka?” Maka beliau bersabda, “Jampi-jampilah (ruqyahlah) mereka.”  Asma’ berkata, “Maka akupun memaparkan bacaan jampi-jampi kepadanya.”  dan beliau bersabda, “Jampi-jampilah mereka (dengannya-pen.).</em>” (HR. Muslim).</p>
<p>Dari beberapa hadits di atas, jelaslah bagi kita bahwa di antara kiat  mewujudkan keberkahan dalam hidup kita adalah dengan berdoa kepada  Allah <em>Ta’ala</em> memohon keberkahan, yaitu dengan mengucapkan</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ فِيهِ</p>
<p>“S<em>emoga Allah memberkahinya</em>“, atau ucapan doa yang semakna  dengannya. Dengan doa-doa semacam ini, -insya Allah- diri kita,  keluarga, dan harta-benda kita akan  mendapatkan keberkahan alias  langgeng, dan terhindar dari petaka.</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel <a href="http://manisnyaiman.com/wp-admin/www.PengusahaMuslim.com" target="_self">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 