
<h2><strong>Amalan-amalan Shalih yang Bisa Dilakukan di Bulan Ramadhan</strong></h2>
<p><strong>Oleh Ustadz Dr. Aris Munandar, S.S, M.P.I</strong></p>
<p>Artikel ini penggalan dari ebook <a href="https://ustadzaris.com/bila-ini-ramadhan-terakhirku-bag-1" target="_blank" rel="noopener">BILA INI RAMADHAN TERAKHIRKU</a></p>
<p><strong>(<a href="https://drive.google.com/file/d/1VuMTQxbyMxLhi36J6HBx_QNQn9I6UUbo/view" target="_blank" rel="noopener">Download Full Ebook</a>)</strong></p>
<p>Ini dia 60 amal sholih yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan:</p>
<p>1. Sholat lima waktu yang berkualitas, kita hormati sholat dengan cara sudah berada di masjid sebelum iqomah. Jadikan momen Ramadhan bisa membuat kita berada di masjid sebelum iqomah berkumandang.</p>
<p class="arab">سُفْيَانَ، يَقُولُ: قَالَ رَجُلٌ: مِنْ ‌تَوْقِيرِ ‌الصَّلَاةِ أَنْ تَأْتِيَ قَبْلَ الْإِقَامَةِ</p>
<p>Dari Sufyan ats-Tsauri, ada orang yang mengatakan, “Termasuk bentuk menghormati shalat adalah datang ke masjid sebelum iqomah” [Hilyah al-Auliyā’ 7/285].</p>
<p>2. Puasa Ramadhan (berusaha menjalankan sebulan penuh).</p>
<p>3. Sholat tarawih. Di antara hal yang membuat sholat tarawih kita tidak maksimal yakni acara buka bersama, terutama buka puasa di restauran, maka buka puasa yang lebih baik itu buka puasa di Masjid, sehingga tidak ketinggalan sholat tarawih.</p>
<p>4. Menyegerakan berbuka, ketika waktu sudah tiba.</p>
<p>5. Mengakhirkan sahur, waktu sahur itu 1/6 malam terakhir, sekitar 2 jam atau 1,5 jam sebelum waktu subuh.</p>
<p>6. Ucapan dzikir, سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ<br>
“Subhaanal malikil qudduus” dibaca 3x yang dibaca setelah selesai shalat Witir<br>
(artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan)” (HR. Abu Daud no. 1430, An-Nasai no. 1735, dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatkaan bahwa sanad hadits ini shahih)</p>
<p>7. Berupaya sholat rawatib 12 rakaat selama Ramadhan.</p>
<p><a href="https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan.png"><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-7409" src="https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-400x210.png" alt="" width="300" height="158" srcset="https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-400x210.png 400w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-250x131.png 250w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-150x79.png 150w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-50x26.png 50w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-100x53.png 100w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-200x105.png 200w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-300x158.png 300w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-350x184.png 350w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan-450x236.png 450w, https://ustadzaris.com/wp-content/uploads/2022/03/amalan-di-bulan-ramadhan.png 480w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px"></a></p>
<p>8. Sholat Dhuha, minimal 2 rakaat, Sebagian ulama mengatakan, sholat Dhuha minimal 2 rakaat dan maksimal 8 rakaat. Bagi yang belum terbiasa, bisa dibiasakan minimal 2 rakaar. Bagi yang sudah biasa 2 rakaat, bisa ditambah menjadi 8 rakaat. Termasuk bagian sholat Dhuha yakni sholat isyraq, sholat sunnah 2 rakaat sesaat setelah matahari terbit.</p>
<p>9. Bersedekah, berusaha bersedekah setiap hari. bisa kita contoh ulama salaf yang bernama Abul Khoir, setelah mendengar keutamaan bersedekah, kelak kita akan dinaungi oleh sedekah kita ketika di hari kiamat. Beliau setiap hari bersedekah, meski hanya dengan sepotong bawang, karena pada beliau adanya hanya itu.</p>
<p class="arab">عن يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ ، أَنَّ أَبَا الْخَيْرِ، حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ – أَوْ قَالَ: يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ</p>
<p>Dari Yazid bin Abi Habib, Abul Khoir bercerita bahwa beliau mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda, “Setiap orang itu berada dalam naungan sedekahnya sampai Allah memberi keputusan di antara manusia”.</p>
<p class="arab">قَالَ يَزِيدُ: ” وَكَانَ أَبُو الْخَيْرِ لَا يُخْطِئُهُ يَوْمٌ إِلَّا تَصَدَّقَ فِيهِ بِشَيْءٍ<br>
وَلَوْ كَعْكَةً، أَوْ بَصَلَةً ، أَوْ كَذَا</p>
<p>Yazid mengatakan bahwa gurunya Abul Khoir Martsad bin Abdillah itu bersedekah setiap hari meski hanya sepotong kue, sebuah bawang atau semisalnya. [HR Ahmad no 17333].</p>
<p>10. Memperbanyak bacaan tahlil, “Laa illaha illallaah”</p>
<p>11. Memperbanyak bacaan tasbih, “Subhanallahu.”</p>
<p>12. Memperbanyak bacaan tahmid “Alhamdulillah”.</p>
<p>13. Memperbanyak bacaan takbir “Allahu akbar”.</p>
<p>14. Memperbanyak bacaan “Laa haulaa walaa quwwata illa billaah”</p>
<p>15. Menirukan bacaan muadzin ketika berkumandang adzan, jika banyak suara adzan berkumandang maka kita berpatokan pada masjid yang biasa kita sholat di sana.</p>
<p>16. Perbanyak istigfar, terutama istigfar setelah sholat Dhuha.</p>
<p>“Rabbighfir-lii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabul ghofur“</p>
<p class="arab">عَنْ زَاذَانَ، عَنْ رَجُلٍ، مِنَ الْأَنْصَارِ قَالَ: مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي الضُّحَى، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «اللهُمَّ ‌اغْفِرْ ‌لِي، ‌وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ» حَتَّى عَدَدْتُ مِائَةَ مَرَّةٍ خَالَفَهُ خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، رَوَاهُ عَنِ حُصَينٍ، عَنْ هِلَالٍ، عَنْ زَاذَانَ، عَنْ عَائِشَةَ</p>
<p>Dari Zādān dari salah seorang shahabat Nabi dari kalangan Anshar. Beliau bercerita bahwa suatu ketika beliau melewati Rasulullah yang sedang mengerjakan shalat Dhuha. Lantas beliau mendengar Rasulullah mengucapkan “Allahummaghfir li wa tub ‘alayya. Innaka antat Tawwabul Ghafur” kuhitung Rasulullah mengucapkannya sebanyak seratus kali<br>
[HR Nasai dalam Sunan Kubro no 9854].</p>
<p>17. Perbanyak doa di waktu-waktu mustajab, di antaranya, saat berbuka, antara adzan dan iqomah, saat mendengar ayam berkokok, saat turun hujan, saat 1/3 malam terakhir, saat sahur dll.</p>
<p>18. Perbanyak sholawat pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Di antara kiatnya bisa dengan membaca hadits, baca buku Riyadush Shaalihin selama Ramadhan, khatamkan. Saat membaca buku Riyadhus Shalihin dan membaca nama Nabi semestinya kita mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<p>19. Tilawah Quran</p>
<p>20. Tadabbur al Quran, baca terjemahnya juga dan catatan kaki di bawah.</p>
<p>21. Menghafal Al Quran, alokasikan waktu untuk menghafalnya.</p>
<p>22. Mudarosah, ikut kajian.</p>
<p>23. Membaca tafsir Al Quran</p>
<p>24. Mengajarkan Al Quran, terutama Qs Al Fatihah untuk anak-anak.</p>
<p>25. Bertaubat, sesali dosa-dosa yang sudah kita lakukan selama ini.</p>
<p>26. Membantu orang tua, ringankan kesusahan orang tua. Jangan kira membantu ibu memasak untuk buka puasa itu bukan amal sholih, itu adalah amal sholih. Termasuk juga bantu ibu ketika pulang kampung.</p>
<p>27. Silaturahim pada saudara, pada kerabat.</p>
<p>28. Menjalin hubungan baik pada kawah ayah.</p>
<p>29. Memuliakan tamu.</p>
<p>30. Mengantarkan tamu, mengantarkan hingga ke depan rumah, ke kendaraan, bahkan membukakan pintu kendaraannya jika tamu misalnya tamu membawa mobil. Itu semua bentuk amal sholih.</p>
<p>31. Menjadi tetangga yang baik, berbagi makanan, berbagi hadiah dengan tetangga.</p>
<p>32. Menyebarluaskan salam, setiap bertemu orang tidak lelah untuk menebarkan salam.</p>
<p>33. Berbagi makanan baik pada tetangga, orang miskin, atau orang lain.</p>
<p>34. Husnul kalam kalam, bertutur kata yang baik lagi lembut. Tidak bersuara tinggi pada orang yang kita hormati, pada orang yang lebih tua, pada kakak, pada guru dll.</p>
<p>35. Jangan tinggalkan dzikir pagi-petang, dzikir pagi bisa mulai dilakukan setelah subuh, Adapun dzikir petang bisa dilakukan setelah ashar atau magrib.</p>
<p>36. Juga membiasakan diri untuk berdzikir setiap saat., dzikir yang dituntunkan pada kondisi kondisi tertentu. Contohnya Dzikir keluar rumah, masuk rumah, naik kendaraan, masuk masjid, keluar masjid, bersin dll</p>
<p>37. Tidur dalam keadaan berwudhu, coba jadikan Ramadhan menjadi momen kita untuk berubah, membiasakan diri tidur dalam keadaan sudah berwudhu. Itu adalah amal sholih.</p>
<p>38. Mandi Jumat.</p>
<p>39. Memakai parfum ketika hendak pergi sholat Jumat untuk laki-laki.</p>
<p>40. Berpagi-pagi berangkat ke Masjid untuk sholat Jumat, tidak mepet waktu.</p>
<p>41. Mendekat dengan imam ketika sholat berjamaah di Masjid.</p>
<p>42. Shadul furjah, menutup celah shaff sholat ketika sholat berjamaah di Masjid.</p>
<p>43. Menyempurnakan shaff, jika saff pertama belum penuh maka jangan buat shaff baru.</p>
<p>44. Tersenyum, latihlah untuk menjadi orang yang senyumnya manis. Ketika sudah bisa menjadi orang yang memiliki senyum manis, maka latih untuk mudah tersenyum. Bisa dengan berkaca, untuk mencari tahu apakah senyum kita sudah manis atau belum, apa yang kurang, bagaimana senyum yang paling manis yang bisa kita lakukan. Setelah itu berikan senyum pada tetangga, karena tersenyum pada orang lain itu seperti sedekah, apalagi jika tersenyum pada suami/istri, anak, orangtua, lebih-lebih besar lagi pahalanya. [1]</p>
<p>45. Memikirkan ayat-ayat kauniah, ketika melihat bulan, bintang, matahari dan semua ayat-ayat Allah (tanda kekuasaan Allah) maka berfikirlah dan berdzikirlah.</p>
<p>46. Ihtimal adza, menjadi orang yang bersabar menghadapi gangguan orang muslim, semisal tetangga yang mengganggu, suami/istri yang sering membuat jengkel, anak yang sering membuat kesal. Jadilah orang yang sabar, yakni dengan menhan diri agar tidak marah-marah.</p>
<p>47. Berinteraksi dengan manusia dengan interaksi terbaik, ramah, lembut dan sopan pada setiap orang.</p>
<p>48. Jadilah orang yang tidak tergesa-gesa. Di antaranya jangan suka gebut di jalan.</p>
<p>49. Berwajah ceria, mata berbinar.</p>
<p>50. Tahan amarah, apalagi saat puasa, jangan luapkan dengan kata-kata atau sikap.</p>
<p>51. Tepati janji, jika mungkin berhalangan maka kasih kabar, jangan sampai menunggu ditanya dahulu.</p>
<p>52. Sholat taubat, sholat untuk mengikrarkan penyesalan kita, 2 rakaat sebagaimana biasa. Inti dari sholat taubat yakni memohon ampun kepada Allah dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya.</p>
<p class="arab">مَا مِنْ رَجُلٍ ‌يُذْنِبُ ‌ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ</p>
<p>Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang pun yang melakukan dosa kemudian berdiri lantas berwudhu kemudian mengerjakan shalat dan dilanjutkan dengan memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah ampuni” [HR Tirmidzi no 406 dari Ali bin Abi Thalib dari Abu Bakr].</p>
<p>53. Sholat sunnah 2 rakaat setelah wudhu.</p>
<p>54. Memberikan saran pada orang-orang yang membutuhkannya, baik kita yang memberikan atau kita yang diminta saran.</p>
<p>55. Beri pengajaran pada orang yang tidak tahu dengan bahasa yang baik tanpa mengggurui.</p>
<p>56. Amar ma’ruf, berbuat baik dan perbaikan.</p>
<p>57. Nahi mungkar, mencegah keburukan.</p>
<p>58. Membela orang yang terdzolimi, turut prihatin jika tahu berita tentang kedzoliman yang terjadi.</p>
<p>59. Menundukkan pandangan, dan di antaranya menundukkan pandangan dari kemewahan hidup di dunia.</p>
<p class="arab">أرشد المؤمنين، وقل لهم: الذين معهم إيمان، يمنعهم من وقوع ما يخل بالإيمان: {يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ} عن النظر إلى العورات وإلى النساء الأجنبيات، وإلى ‌المردان، الذين يخاف بالنظر إليهم الفتنة، وإلى زينة الدنيا التي تفتن، وتوقع في المحذور</p>
<p>Ibnu Sa’di mengatakan, “Berilah bimbingan dan sampaikan kepada mereka, orang-orang yang memiliki iman yang akan menghalangi mereka untuk terjerumus dalam hal-hal yang merusak iman agar menundukkan pandangan dari melihat 1) aurat,<br>
2) wanita ajnabiah,<br>
3) laki-laki baby face yang jika dipandang dikhawatirkan akan menimbulkan rasa suka dengan sesama jenis dan<br>
4) kemewahan dunia yang demikian menggoda dan menjerumuskan ke dalam bahaya”<br>
[Tafsir as-Sa’di hlm 659 ketika menjelaskan QS an-Nur: 30].</p>
<p>60. Berkunjung pada sahabat yang kita kenal dalam ketaatan, yang kita kenal dan kita jumpai dalam ketaatan, semisal kawan kajian, teman Ma’had dan lain-lain</p>
<p>Footnote:</p>
<p class="arab">[1] وَقَالَ جَرِيْرٌ: مَا رَآنِي رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-:إِلَاّ تبسَّمَ.</p>
<p>Jarir, salah satu shahabat Nabi mengatakan, “Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku” [HR Bukhari no 3035]. Terkait hadis ini adz-Dzahabi berkomentar,</p>
<p class="arab">فَهَذَا هُوَ ‌خُلُقُ ‌الإِسْلَامِ، فَأَعْلَى المَقَامَاتِ مَنْ كَانَ بَكَّاءً بِاللَّيْلِ، بَسَّاماً بِالنَّهَارِ.</p>
<p>“Tersenyum adalah akhlak Islam. Idealnya seorang muslim adalah seorang yang banyak menangis di malam hari namun suka tersenyum di siang hari.”</p>
<p>وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: (لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، فَلْيَسَعْهُم مِنْكُم بَسْطُ الوَجْهِ</p>
<p>Nabi bersabda, “Kalian tidak akan bisa mengambil hati banyak orang dengan harta. Sebaliknya kalian bisa mengambil hati banyak orang dengan berwajah ceria” [HR al-Bazzar no 1977 dari Abu Hurairah].</p>
<p>بَقِيَ هُنَا شَيْءٌ يَنْبَغِي لِمَنْ كَانَ ضَحُوكاً بَسَّاماً أَنْ يُقَصِّرَ مِنْ ذَلِكَ، وَيَلُوْمَ نَفْسَهُ حَتَّى لَا تَمَجُّهُ الأَنْفُسُ، وَيَنْبَغِي لِمَنْ كَانَ عَبُوساً مُنْقَبِضاً أَنْ يَتَبَسَّمَ، وَيُحسِّنَ خُلُقَهُ، وَيَمْقُتَ نَفْسَهُ عَلَى رَدَاءةِ خُلُقِهِ، وَكُلُّ انحِرَافٍ عَنِ الاعتدَالِ فَمَذْمُوْمٌ، وَلَا بُدَّ لِلنَّفْسِ مِنْ مُجَاهدَةٍ وَتَأْدِيْبٍ.</p>
<p>‌‌Ada hal yang penting untuk diperhatikan. Orang yang terlalu banyak tertawa dan tersenyum hendaknya mengurangi intensitas senyum dan tawanya serta menegur dirinya sendiri karena terlalu banyak tersenyum sehingga banyak orang yang ‘jijik’ karena murah senyum tidak pada tempatnya. Sebaliknya orang yang suka cemberut dan berwajah mengkerut hendaknya berlatih untuk tersenyum, memperbagus akhlaknya dan marah besar terhadap diri sendiri yang jelek akhlaknya karena suka cemberut. Semua hal yang tidak proposional termasuk dalam hal ini senyum atau pun tidak senyum adalah hal yang tercela. Kita semua wajib ‘berperang’ dan mendidik diri kita masing-masing agar proposional dalam semua hal” [Siyar A’lām an-Nubalā’ 10/141].</p>
 