
<p><strong>ABDULLAH BIN ABI AUFA RADHIYALLAHU ANHU</strong></p>
<p><strong>Nasab ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu Anhu </strong><br>
‘Abdullâh bin Abi Aufa‘Alqamah bin Khâlid bin al-<u>H</u>ârits bin Abu Asîd bin Rifa’ah bin Tsa’labah bin Hawazin  bin Aslam  al-Aslami al-Kufi. Berkunyah Abu Ibrahim, atau Abu Muhammad atau Abu Mu’awiyah. <a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p><strong>Keutamaan ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu Anhu </strong><br>
‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu telah merengkuh kemuliaan yang sangat istimewa dengan menjadi salah satu Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan kemuliaan tersebut juga digapai sang ayah,‘Alqamah bin Khâlid Radhiyallahu anhu  dan saudara lelakinya,  Zaid.</p>
<p>Selain itu, ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu termasuk kaum Mukminin yang berbaiat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Baiat Ridhwân pada tahun ke-6 H. Allâh Azza wa Jalla telah memberitahukan tentang keridhaan-Nya kepada kaum Mukminin yang berjumlah 1400<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> yang ikut serta dalam baiat yang bersejarah tersebut.</p>
<p>Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Allâh telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allâh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). </em>[Al-Fat<u>h</u>/48:18].</p>
<p>Ini sudah cukup menjadi keutamaan bagi orang-orang yang mengikutinya. Apalagi bila ditambah dengan keikutsertaan ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu dalam beberapa jihad <em>fî sabîlillâh</em> bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketabahannya dalam peperangan .</p>
<p>‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu pernah mengatakan:</p>
<p><strong>غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ</strong></p>
<p><em> “Kami berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tujuh peperangan, sedang kami memakan belalang”.</em><a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><strong>Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam </strong><strong>Bagi Keluarga ‘Abdullâh bin AbiAufa Radhiyallahu Anhu </strong><br>
Keberkahan doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperoleh oleh keluarga besar ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu. Dari ‘Abdullâh bin Abi Aufa, “Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila diserahi zakat satu kaum, beliau mendoakan mereka. Lalu datanglah ayahku membawa zakatnya, kemudian Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan:</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِيْ أَوْفَى</strong></p>
<p><em>Ya, Allâh, rahmatilah</em> <em>keluarga</em> <em>Abi</em> <em>Aufa</em> [HR. Al-Bukharidan Muslim]</p>
<p><strong>Jumlah Hadits ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu </strong><br>
Imam Ibnul  Mulaqqin asy-Syâfi’i rahimahullah (wafat tahun 804 H) menyebutkan bahwa jumlah hadits ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu sebanyak 95 hadits. Sejumlah 10 hadits disepakati oleh Imam Al-Bukhâri dan  Imam Muslim. <a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Salah satu hadits yang diriwayatkannya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوْا اللهَ الْعَافِيَةَ. فَإِذَا لَقِيْتَهُمْ فَاصْبِرُوْا. وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوْفِ</strong></p>
<p><em>“Wahai</em> <em>sekalian</em> <em>manusia, janganlah kalian berharap</em> <em>bertemu</em> <em>musuh.</em> <em>Mohonlah keselamatan kepada Allâh. Apabila kalian telah menghadapi mereka, bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah bayang-bayang pedang”</em>. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]</p>
<p><strong>Murid-Murid  ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu Anhu </strong><br>
Orang-orang yang meriwayatkan dan belajar dari ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu di antaranya ialah Ibrâhîm bin Muslim al-Hajari, Ibrâhîm bin ‘Abdur Ra<u>h</u>mân as-Saksaki, ‘Athâ bin Saib, Abu Ishaq asy-Syaibâni dan  Sulaimân Al-A’masy dan lain-lain.</p>
<p><strong>‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu Anhu , Sahabat Nabi Yang Paling Akhir Meninggal Di Kota Kufah</strong><br>
Sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu berpindah ke kota Kufah. Allah Azza wa Jalla karuniakan umur panjang kepada ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu. Ia wafat pada tahun 86 H<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>dalam usia hampir 100 tahun dan merupakan sahabat nabi yang paling akhir meninggal di kota Kufah. Dan sekaligus, dengan wafatnya ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu , telah berpulanglah orang terakhir dari Sahabat Nabi yang ikut serta dalam Baiat Ridhwan. <a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Pada akhir hayat, ‘Abdullâh bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu yang dikenal sebagai orang faqih ini mengalami kebutaan mata karena usia. Radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p><em>Disusun oleh</em><br>
<em>Ustadz Abu Minhal, Lc</em></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1] </a><em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em> 3/423, <em>Al-Ishâbah</em> hlm. 843.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2] </a>Berdasarkan berita dari Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri rahimahullah dalam <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>nya no.4154.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3] </a>HR. Al-Bukhâri dan Muslim.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]  </a><em>Al-I’lâm bi Fawâidi ‘Umdatil A<u>h</u>kâm</em> 10/94.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5] </a>Sebagian Ulama menyebutkan wafatnya tahun 88 H.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6] </a><em>Tadrîbur Râwî</em> 3/ 441-442. Sedangkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling akhir wafatnya secara mutlak adalah Abu Thufail Âmir bin Watsilah al-Laitsi yang meninggal tahun 110 H.</p>
 