
<p><strong>PengusahaMuslim.com –</strong> ACEH  JEZZ BUBUR ( bubur jagung ) merupakan sebuah usaha keluarga yang di  kelola secara profesional sejak tahun 2007 lebih tepatnya didirikan pada tanggal 07 Agustus 2007. AJB berfokus pada unit usaha  aneka bubur, yang terus melakukan inovasi baru dalam menciptakan aneka  bubur yang berlokasi dii jalan margonda raya no. 416, Depok, Indonesia 16426.</p>
<p><img loading="lazy" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/63849_129006497151484_111134048938729_189862_4844270_n.jpg" alt="Aceh jezz bubur sukses tanpa riba" width="304" height="409"></p>
<p>ACEH  JEZZ BUBUR ( bubur jagung ) merupakan sebuah usaha keluarga yang di  kelola secara profesional sejak tahun 2007. AJB berfokus pada unit usaha  aneka bubur, yang terus melakukan inovasi baru dalam menciptakan aneka  bubur.</p>
<p>“Saat ini kita baru terfokus pada enam jenis bubur yang  sangat dominan disukai oleh masyarakat, yaitu bubur jagung, bubur ketan  saus durian, bubur jali, bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, bubur  sumsum. Alhamdulillah dengan kehendak Allah diantara semua bubur, bubur  jagunglah yang sangat disukai oleh masyarakat ( 70 % pelanggan memilih  bubur jagung).</p>
<p>InsyaAllah di waktu mendatang kami akan terus berupaya menciptakan bubur lain.</p>
<p>AJB  telah berjalan selama hampir lima tahun, dalam kurun waktu tersebut  kami telah mendirikan tiga buah outlet ( Banda Aceh, Depok, Cibubur)  dengan penjualan mencapai antara 700 s/d 1000 porsi perhari. Omzet kotor  yang kami peroleh sekarang kurang lebih antara Rp 10.000.000 s/d  Rp.15.000.000 perhari untuk ketiga outlet.</p>
<p>InsyaAllah di tahun 2012 kami mengupayakan untuk membuka 3 outlet lagi di wilayah JABODETABEK.</p>
<p>Sekarang kami sedang melakukan penjajakan untuk mem FRANCHISE kan usaha bubur jagung,</p>
<p>InsyaAllah paling cepat awal 2013 sudah LOUNCHING FRANCHISE dan paling lambat 2014.</p>
<p>Waktu setahun kedepan ini kami manfaatkan untuk persiapan SDM FRANCHISOR dan Proses Legalitas.</p>
<p>Semua  ini kami lakukan untuk kenyamanan kedua belah pihak ( pemberi waralaba  dan penerima waralaba), karena ini adalah amanah dan kami harus  pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak maka kami tidak ingin buru  buru dan kami harus banyak belajar dulu. “ Sebagaimana dipaparkan  oleh  ACEH JEZZ BUBUR di halaman <a href="http://www.facebook.com/pages/ACEH-JEZZ-BUBUR/111134048938729?sk=info" target="_parent">facebook</a>-nya.</p>
<h2><strong>Liku-liku Sejarah Perjalanan Bisnis Aceh Jezz Bubur (Bubur Jagung)</strong></h2>
<p>Teuku  Chaidil (pemilik ACEH JEZZ BURGER )  menuturkan, “25 April 1962  lahirlah saya dari seorang ibu bernama Cut Nurhayati, ayah saya bernama  Teuku Adjoeran yang bekerja di kantor DOLOG. Kami mempunyai saudara  kandung 9 orang dari dua ibu, ibu tiri saya bernama Siti Sofiah, saya  anak ke tiga, saudara laki laki ada 5 dan saudara perempuan ada 4.  Pendidikan awal dimulai dengan sekolah di TK Bayangkari Banda Aceh, SD  26 Banda Aceh, SMP 3 Banda Aceh. Pada sore hari saya belajar mengaji  pada seorang ustad.</p>
<p>Baru setahun sekolah di SMP 3 Banda Aceh orang  tua saya dapat promosi jabatan menjadi kepala Sub Depot logistik  Lhoseumawe, dan sayapun ikut serta pindah ke Lhokseumawe. Di Lhokseumawe  saya masuk SMP 1 , kemudian melanjutkan lagi SMA ADIDHARMA Banda Aceh ,  kemudian saya pindah ke SMA 2 Banda Aceh, kemudian pindah lagi SMA 1  Lhokseumawe. Tahun 1994 saya lulus sekolah SMA dan diterima di Fakultas  Pertanian Unsyiah.</p>
<p>Setelah menyelesaikan Kuliah pada tahun 1991  saya mendapat pekerjaan di PT. SEMEN ANDALAS INDONESIA ( perusahaan  Asing) pada departemen Public relation untuk bidang Community  Development dengan masa kontrak kerja 2 tahun.</p>
<p>Keluar dari PT Semen Andalas pada tahun 1993 saya bekerja di CV MIRZEN pada departemen pertamanan.</p>
<p>Sambil  bekerja di CV Mirzen saya membuka sebuah unit usaha Burger di kaki lima  pada tahun 1994 di Jalan Teuku Umar Setui Banda Aceh dan kami PELOPOR  BURGER di ACEH.</p>
<p>Ide untuk berjualan burger muncul ketika saya  sedang melakukan perjalananan ke kota Medan, saat itu saya melihat  banyak pedagang burger di kaki lima yang sukses.</p>
<p>Kemudian saya  melakukan survei dan mewawancarai pedagang Burger kaki lima tentang kiat  kesuksesan mereka. Dari situ mulailah timbul keberanian saya untuk  berjualan Burger bersama dengan seorang karyawan saya.</p>
<p>Dengan bermodalkan uang Rp. 500.000 saya mulai berdagang burger dan roti bakar.</p>
<p>Alhamdulillah,  qadarullah usaha yang saya tekuni berjalan baik, penjualan kian hari  semakin meningkat terus, modal awal Rp. 500.000 dapat tertutupi pada  bulan pertama.</p>
<p>Rata- rata penjualan perhari mencapai 100 porsi  dengan omzet perhari pada bulan pertama Rp. 250.000. Omzet perhari terus  bertambah, sampai pada tahun pertama omzet mencapai Rp.500.000 /hari</p>
<p>Pada  tahun 1995 saya ikut bergabung di perusaan PT. KESAYANGAN PRAKARSA  (Kontraktor dan Suplier) untuk menduduki jabatan Manager Perusahaan  dengan membawahi 7 anak perusahaan.</p>
<p>Sambil bekerja di PT. Kesayangan Prakarsa saya pindahkan usaha saya ke kota Lhokseumawe/Aceh Utara.</p>
<p>Di  kota Lhokseumawe tepatnya di depan radio DIPRA saya harus memulai dari  nol kembali. Sehingga omzet penjualan menurun dibandingkan dengan di  Banda Aceh. Dengan kepindahan ke kota Lhokseumawe saya terpaksa harus  membawa rombongan karyawan saya yang di Banda Aceh, akibatnya biaya  operasional tinggi, disamping itu antusias masyarakat terhadap burger  dan roti bakar kurang.</p>
<p>Usaha di Lhokseumawe hanya berjalan satu tahun saja, usaha saya tutup dan saya mengkonsentrasikan pada pekerjaan saya.</p>
<p>Setelah  cukup banyak pengalaman sebagai Maneger Keuangan di PT. Kesayangan  Prakarsa, saya memutuskan untuk hijrah ke kota Jakarta pada tahun 1997  untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Maka dengan bermodal sisa gaji yang saya terima, saya memulai melangkah ke Jakarta.</p>
<p>Selama  dua bulan saya mengajukan permohonan kerja di beberapa perusahaan,  tidak ada satupun perusahaan yang memanggil saya, maka saya putuskan  untuk kembali ke Banda Aceh.</p>
<p>Di Banda Aceh saya sempat menganggur selama 6 bulan dengan tanpa gaji, apalagi orang tua sudah pensiun.</p>
<p>Kebutuhan hidup keluarga kami hanya mengandalkan pensiunan dari orang tua.</p>
<p>Ada timbul keinginan untuk berjualan lagi, tapi uang tidak ada dan tabungan kosong sama sekali.</p>
<p>Alhamdulillah  pada bulan April 1998 ada teman yang mau buka usaha burger, dan dia  membeli peralatan (tempat panggang burger) saya dulu dengan harga Rp  200.000.</p>
<p>Dengan bermodal uang Rp 200.000 inilah saya kembali bersemangat untuk berjualan agar bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga.</p>
<p>Uang tersebut hanya saya gunakan untuk membeli bahan saja, sementara peralatan kerja masih layak untuk digunakan.</p>
<p>Saya  berjualan sendiri di depan warung adik saya dekat rumah dengan  pertimbangan tidak perlu sewa tempat karena keterbatasan dana serta  tidak ada tambahan biaya transportasi. Setelah berjalan selama 1 bulan  penjualan hanya laku 15 s/d 20 porsi saja atau sekitar Rp.70.000,per  hari, maka saya putuskan untuk pindah lokasi yang lebih strategis yaitu  di pinggir jalan besar yang ramai dilalui orang.</p>
<p>Saya dapatkan  sebuah restoran teman yang masih punya tempat untuk numpang jualan yang  lokasinya di Jl. Mugayatsyah dan agak jauh dari rumah. Jauhnya lokasi  membuat saya harus extra kerja dengan mengayuh sepeda sejauh 6 km pulang  pergi.</p>
<p>Sepeda inilah saya gunakan setiap hari untuk menjalankan  usaha, kalau di pagi hari jam 6 pagi saya harus ke pasar dengan sepeda  sejauh 8 km pulang pergi untuk membeli bahan dagangan. Di siang hari  sepeda tersebut kembali saya kayuh dengan membawa barang dagangan,  begitu juga ketika pulangnya dilarut malam dengan kondisi tubuh yang  sudah kelelahan saya harus kembali mengayuhkan sepeda untuk bisa sampai  di rumah. Semua pekerjaan saya lakukan sendiri untuk memperkecil biaya  karena daya jual masih sangat rendah.</p>
<p>Perjalan waktu satu  bulan di tempat baru hanya bisa mendongkrak penjualan 10 porsi saja  yaitu antara 20 s/d 30 ( Rp 100.000 ) perharinya. Keuntungan dari  penjualan hanya cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga saja.</p>
<p>Melihat  angka penjualan yang stagnan maka saya mulai membaca literatur  marketing tentang bagaimana memasarkan sebuah produk. Dengan izin Allah  dari situ mulai terbuka pikiran saya betapa pentingnya marketing dalam  menjalankan sebuah usaha.</p>
<p>Perubahan drastis mulai saya lakukan,  pertama saya melakukan perubahan kualitas burger yang lebih baik, kedua  menata outlet yang lebih indah, ketiga menjaga kebersihan outlet,  keempat menciptakan kehangatan hubungan dengan pelanggan dengan bersikap  ramah, kelima mempercepat kerja. Setelah lima langkah tersebut mampu  saya lakukan dengan baik maka mulailah saya mengemas sebuah publikasi  yang unik.</p>
<p>Publikasi yang saya lakukan adalah dengan membuat  sebuah potongan papan triplek ukuran 60 x 15 cm dengan tulisan JEZZ  BURGER pada baris atas dan tulisan JL. MUGAYATSAH 8 dengan perpaduan  warna yang sangat kontras dan indah. Media iklan tersebut saya tempelkan  pada pohon di sepanjang jalan di wilayah kota Banda Aceh. Sehingga  kemanapun orang akan pergi pasti melihat papan iklan tersebut.</p>
<p>Alhamdulillah  metoda tersebut berhasil sehingga angka penjualan meningkat antara 50  s/d 70 porsi ( Rp 200.000 ) di bulan kedua. Dengan adanya peningkatan  penjualan saya mulai menambah karyawan yaitu adik saya sendiri. Angka  penjualan terus meningkat dari hari ke hari sampai 100 porsi perharinya  pada bulan ke 8, dan lagi lagi saya harus menambah seorang karyawan lagi  untuk membantu operasional.</p>
<p>Dengan angka penjualan 100 porsi ( Rp. 300.000) per hari sudah cukup untuk membiayai keluarga dan sedikit menyimpan tabungan.</p>
<p>Saat  penjualan mulai membaik datang seorang teman untuk meminta bantuan  mengelola usahanya, untuk menduduki jabatan sebagai Maneger operasional  di perusahan PT. ZEIN BERSAUDARA ( Distribution &amp; Suplier ).</p>
<p>Alhamdulillah  dimasa penjualan sudah mulai membaik ALLAH mempertemukan dengan seorang  gadis cantik tamatan perguruan tinggi IAIN Ar-Raniri Banda aceh bernama  CUT RABIATUN ADAWIYAH. Perkawinan saya tergolong lambat, usia saya saat  itu 37 tahun dan istri saya 27 tahun, tapi saya percaya kepada Allah  bahwa inilah waktu yang terbaik bagi saya untuk berumah tangga. Seluruh  biaya perkawinan saya dibiayai oleh orang tua saya karena tabungan saya  belum mencukupinya</p>
<p>Setelah usaha berjalan satu tahun saya mendapat  tawaran dari teman kuliah untuk menyambung sewa toko yang belum habis  masa sewa. Kesempatan inipun tidak saya sia-siakan, apalagi masa sewa  dibayar sebulan sekali setelah saya menggunakannya.</p>
<p>Untuk memulai  jualan di toko akan banyak pengeluaran membeli peralatan sebuah  restoran, sementara tabungan saya tidak cukup dan saya coba  berkonsultasi dengan istri. Alhamdulillah istri dengan senang hati  menjual 10 mayam mas kawin yang saya berikan untuk membantu membeli  peralatan restoran atau cafe.</p>
<p>Restoran itu kami beri nama JEZZ  CAFE di Jalan Teuku Umar Banda Aceh. Pada awal 1999 kami mulai berjualn  dengan format CAFE TERBUKA. Format cafe model ini belum ada saat itu  sehingga ini menjadi daya tarik bagi kawula muda Banda Aceh.</p>
<p>Kami  mulai menambahkan menu baru yaitu PISANG BAKAR KEJU. Sedangkan untuk  katagori minuman kami menyediakan segala jenis jus, minuman botol, ES  TELER dan MILKSHAKE.</p>
<p>Dengan format cafe yang kami tawarkan  ternyata memberi dampak yang sangat baik bagi usaha kami. Saya mulai  menambah lagi karyawan dan menggantikan sepeda dengan sepeda motor untuk  operasional saya. Angka penjualan terus meningkat, saya telah mampu  mempekerjakan 10 orang karyawan. Omset penjualan telah mencapai  1.500.000 per hari dengan penjualan 300 porsi burger dan roti ditambah  penjualan minuman)</p>
<p>Kabar gembira muncul lagi dengan lahirnya anak  kami yang pertama yang kami beri nama ABDURRAHMAN AL-MANSYOER yang  menjadi amanah bagi kami untuk mendidiknya.</p>
<p>Toko yang tadinya kami  sewa per bulan kini kami sewa pertahun dengan nilai kontrak 4 juta.  Setelah waktu dua tahun menempati toko tersebut dimana pengunjung tidak  tertampung lagi maka kami putuskan untuk menyewa toko yang di sebelahnya  lagi dengan kapasitas pengunjung 160 orang, dan kami mulai menambah  karyawan lagi menjadi 25 orang, Kami pun menambah menu-menu baru lagi  seperti :</p>
<p>KENTANG GORENG, CREP, TOATS, OMELET, sedangkan untuk minuman kami menambah beberapa jenis seperti ICE CREAM, PUNCH, FLUTE.</p>
<p>Suasana  toko saya tata sedimikian rupa dengan desain  yang menarik, pengunjung  semakin ramai, setiap sore cafe dipenuhi sesak oleh kawula muda,  sehingga jalanan dibuat macet tiap sorenya. Target pasar saya saat itu  memang kawula muda, ALHAMDULILLAH penjualan terus meningkat .</p>
<p>Ramainya  pengunjung yang datang ke JEZZ CAFÉ membuat perusaan Rokok A Mild ikut  mempromosikan produknya di Cafe. Kerjasamapun ditandatangani dan A Mild  mempunyai hak eklusif untuk beriklan di Cafe, seluruh cafe dipenuhi oleh  materi iklan A Mild.</p>
<p>Hak eklusif lainnya yang di dapat, mereka bisa menyelenggarakan LIVE Musik serta mendatangkan artis ibukota.</p>
<p>Saat itu JEZZ CAFÉ benar benar menjadi TRADE MARK bagi kawula muda Banda Aceh untuk kongko-kongko sore dan malam.</p>
<p>Dari  hasil penjualan burger saya sudah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga  dan membantu seluruh anggota keluarga, dan saya juga sudah bisa  membiayai perkawinan adik adik saya dan sudah bisa menyimpan tabungan.</p>
<p>Selama kurun waktu lima tahun saya sendiri selalu terjun langsung di warung untuk mengatur semua operasionalnya.</p>
<p>Disamping itu saya juga berusaha untuk dapat mengikuti kajian agama di pesantren.</p>
<p>Selama waktu tiga bulan saya belajar ilmu agama saya merasakan ada sesuatu yang kurang berkenan dengan apa yang saya dapati.</p>
<p>Saya  mulai berdoa pada Allah “ YA ALLAH JIKA ADA TEMPAT LAIN YANG MEMBUAT  SAYA BENAR BENAR TENTRAM, MAKA PERTEMUKANLAH SAYA DENGAN MEREKA “.</p>
<p>Alhamdulillah  doa saya di kabulkan oleh ALLAH dan saya diketemukan dengan sebuah  jamaah pengajian yang bermanhaj AHLUL SUNAH WAL JAMAAH yang murni  mengambil dalil dari Al-Qur’an dan hadist yang shahih.</p>
<p>Dari  situlah saya mulai mendapat hidayah dari Allah untuk tetap berpegang  teguh pada Al-Qur’an dan hadist dalam menyikapi setiap permasalahan  hidup yang saya hadapi .</p>
<p>Saya mulai berkonsultasi dengan Ustad untuk menayakan status usaha saya dipandang dari sudut syariat islam.</p>
<p>Maka  beberapa perubahan dratis mulai saya lakukan, walau resiko yang akan  saya hadapi sangat besar. Saya harus istiqamah dan percaya bahwa “BARANG  SIAPA YANG MEMBELA AGAMA ALLAH MAKA ALLAH AKAN MEMUDAHKAN SEGALA  URUSANNYA”</p>
<p><strong>Perubahan yang saya lakukan yaitu:</strong></p>
<ol>
<li>Menutup warung pada waktu shalat.</li>
<li>Tidak lagi menjual rokok.</li>
<li>Tidak lagi menyelenggarakan live musik.</li>
<li>Sedangkan menyedikan makan di tempat dan tidak adanya karyawan wanita belum saya berlakukan.</li>
</ol>
<p>Dengan perubahan yang begitu drastis saya mulai menuai cemoohan dari pelanggan dan teman teman.</p>
<p>Gaya  saya yang biayanya gaya anak gaul saya rubah menjadi gaya islami.  Diantara cemoohan yang sangat berbekas sampai saat ini adalah ;</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>“ Emang lu aja yang beragama islam, belagu amat lu.”</em></p>
<p><strong>Kedua,</strong> asal ketemu teman saya dipanggil <em>embeek</em> ( menirukan suara kambing, karena saya berjenggot) dan banyak lagi  cemoohan yang saya terima, saya tetap bersabar karena ini adalah ujian.</p>
<p>Banyaknya  perubahan drastis yang saya lakukan membuat kawula muda mulai menjauh  dari cafe kami, saya sadar mereka adalah kawula muda yang tidak mau  digurui seperti itu, apalagi Cafe mulai bermunculan . Angka penjualanpun  turun drastis, dari bulan ke bulan. Kalau sebelum saya berlakukan  sistim dagang menurut syariat, saya bisa memperoleh keuntungan satu  bulan mencapai 25 juta, maka ketika saya berlakukan peraturan seperti  itu saya hanya memperoleh keuntungan cuma 2, 5 juta per bulan, tapi saya  merasa senang karena itu lebih barokah.</p>
<p>Di saat saya mulai mengenal sunnah, kami dianugerahi anak kedua yang bernama Abdullah Al-Mansyoer.</p>
<p>Qadarullah tahun 2004 Banda Aceh di landa tunami, beberapa bagian bangunan saya hancur terkena gempa.</p>
<p>Satu bulan pertama setelah tsunami kita bisa berdagang, masyarakat terkonsentrasi untuk membantu korban tsunami.</p>
<p>Masa  satu bulan membuat tabungan habis untuk keperluan dimasa tanggap  darurat. Saya mengambil keputusan untuk tidak lagi melanjutkan usaha  saya karena dua hal yang belum saya berlakukan tadi akan menjadi kurang  barokah.</p>
<p>Bulan bulan berikutnya saya sama sekali tidak ada  penghasilan dan hanya berharap bantuan dari orang tua dan saudara  saudara, apalagi masa itu saya masih terlalu shok dengan Tsunami.</p>
<p>Setelah  masa tenang terlalui saya mulai berpikir untuk bisa menghasilkan uang,  kami sekeluarga sepakat untuk jualan “Nasi Gurih”. Kamipun mulai kerja  keras lagi, ternyata usaha dagang nasi sangat menyita waktu dan hampir  tidak ada waktu yang tersisa siang dan malam. Usaha ini hanya bertahan 1  bulan dan kamipun memutuskan untuk berhenti dagang nasi karena seluruh  karyawan terlalu lelah.</p>
<p>Pada bulan April 2005,kami sepakat bersama  istri untuk hijrah ke Jakarta untuk berdagang burger dan roti bakar.  Langkah kamipun saat itu mulai tertuju ke Jakarta. Dengan bermodal hasil  jualan nasi sebulan dan bantuan dari orang tua serta pinjaman saudara,  saya membuka usaha di wilayah Lebak Bulus.</p>
<p>Penjualan  nyaris tidak laku, malah lebih sering tidak laku sama sekali. Tabungan  terus terkuras, untuk biaya hidup saja kami tidak dapat terpenuhi, lagi  lagi kami meminta tambahan pinjaman dari saudara. Selama kurun waktu  tujuh bulan penjualan benar benar nihil dan utangpun terus bertambah,  kami hidup penuh dalam keprihatinan, malah beberapa waktu tidak satupun  yang bisa dimakan lagi karena sisa uang sudah habis sama sekali.</p>
<p>Selanjutnya kami berkonsultasi dengan istri dan kamipun sepakat untuk kembali ke kampung halaman.</p>
<p>Uang  untuk ongkos kembali tidak ada, kami berinisiatif untuk mengover  kontrak toko, alhamdulillah ada yang mau. Uang yang kami peroleh  digunakan untuk membeli tiket pesawat, tetapi untuk mengangkut seluruh  peralatan kerja tidak ada, maka kamipun meminta tambahan pinjaman dana  dari saudara sehingga total pinjaman sudah mencapai 40 juta.</p>
<p>Setiba  di Banda Aceh pada bulan 12 tahun 2005 kami hidup dari nol kembali.  Dengan kebaikan adik ipar yang meminjamkan dana sebesar 15 juta kami  merenovasi kamar untuk disewakan kepada tamu dari luar Aceh dan luar  negeri yang membantu rehabilitas area Tsunami.</p>
<p>Untuk mengisi perabot kamar kami mengutang Rp 10 juta di toko perabotan.</p>
<p>Alhamdulillah  usaha dapat berjalan, dan keuntungan hanya cukup untuk membiayai  kebutuhan sehari-hari saja sementara utang belum bisa tertutupi.</p>
<p>Usaha  sewa kamar hanya bisa bertahan selama satu tahun, tabungan sama sekali  tidak ada. Dalam kondisi seperti ini kami mencoba lagi untuk kembali  berjualan burger.</p>
<p>Penjualan dimulai dari berjualan di depan warung  kakak ipar, selama tiga bulan tidak ada perkembangan sama sekali.  Kemudian kami memutuskan untuk pindah ke kampus Unsyiah dekat fakultas  ekonomi, tempat ini juga tidak mendongkrak penjualan. Selama tiga bulan  kami bisa bertahan dan lagi-lagi kami harus kembali ke Neusu dekat  rumah. Tapi ternyata penjualan burgerpun tidak mampu membiayai kebutuhan  hari hari.</p>
<p>Peminat burger tidak mengalami peningkatan, sehingga  kami tidak bisa mempekerjakan karyawan, semuanya ditangani sendiri.  Istri dalam kondisi hamil harus bekerja extra siang dan malam tanpa ada  pembantu, sementara saya pagi ke pasar siang sampai malam berjualan.</p>
<p>Akhir  tahun 2006, dalam usia kandungan kehamilan sembilan bulan kami  berkonsultasi dengan dokter kandungan tentang kondisi istri, secara  fisik istri memang ukuran kehamilannya sangat besar. Dokter mengambil  kesimpulan untuk operasi, biaya operasi 8 juta, sementara kami tidak  punya uang sama sekali, qadarullah dengan kebaikan dokter, kami diberi  bayar dulu sebesar uang yang kami punya. Anak ketiga yang lahir kami  beri nama AISYAH AL-MANSYOER</p>
<p>Dari kunjungan saudara dan rekan  rekan kami mendapatkan uang 3 juta, uang tersebut kami gunakan untuk  menbayar biaya kelahiran, sedangkan sisa 5 juta kami berhutang lagi.</p>
<p>Qadarullah  pada saat saya mendampingi Ustad mengisi ceramah di Meuredu Aceh Pidie,  di tempat tersebut saya melihat ada pedagang BUBUR KANJI RUMBI ( bubur  tradisional Aceh ) yang banyak peminatnya. Saya menjadi tertarik untuk  mencoba berdagang bubur kanji rumbi. Pada awal bulan 7 tahun 2007,  setelah berkonsultasi dengan istri dan ibu tiri saya kami sepakat untuk  menambah menu dagangan. Alhamdulillah penjualan bubur kanji ada  peminatnya, selanjutnya kami menambah jenis bubur tradisional aceh yaitu  BUBUR IE BU PEUDAH.</p>
<p>Tapi penjualan tetap saja hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan sehari hari.</p>
<p>Pada  bulan 10 tahun 2007 warung yang kami tempati di sewa sama orang lain,  kami tidak punya tempat lagi untuk berdagang, dan kamipun pindah lokasi  di depan warung nasi goreng DAUS.</p>
<p>Ditempat baru inipun penjualan  tidak mengalami kenaikan, malah menurun. Dalam kondisi seperti ini suami  adik saya meminjamkan uang sebesar 20 juta untuk menyewa sebuah toko di  Jalan Teuku Umar Setui Banda Aceh, sehingga total utang kami mencapai  90 juta.</p>
<p>Akhir tahun 2007 kami mulai menempati tempat baru di  pinggir jalan utama, ternyata penjualannya tidak mengalami kenaikan sama  sekali.</p>
<p>Waktu sudah berjalan tiga bulan.</p>
<p>Qadarullah sore itu istri saya minta ikut ke pasar untuk belanja bahan jualan, kami singgah di warung langganan saya.</p>
<p>Di  warung tersebut istri saya melihat beras ketan hitam dan membelinya  untuk dibuat bubur ketan hitam. Setelah bubur dimasak, alhamdulillah  rasanya sangat enak, saya sempat memberikan kepada karyawan saya, kami  merekomendasi bubur yang dibuat istri untuk dijual.</p>
<p>Dengan penuh  keberanian kami sepakat untuk coba menjual bubur ketan hitam fan bubur  kacang hijau. Satu minggu sebelum penjualan kami telah pasang spanduk di  depan warung dengan tulisan <strong>“SEGERA HADIR BUBUR KETAN HITAM DAN KACANG HIJAU”</strong>.</p>
<p><img loading="lazy" title="dapur produksi aceh jezz bubur" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/59181_124167854302015_111134048938729_163245_3153752_n.jpg" alt="dapur produksi aceh jezz bubur" width="471" height="297"></p>
<p>Antusias pengunjung ternyata baik dan banyak menanyakan kapan kami jualan.</p>
<p>Tepat  saat launching kedua bubur tersebut hanya dalam hitungan satu jam bubur  terjual habis, keesokannya kami menambah porsi dan buburpun terjual  habis, begitu seterusnya. Penjualan terus mengalami peningkatan</p>
<p>Pada  bulan pertama penjualan mencapai 100 porsi, bulan kedua 150 porsi,  bulan ketiga 200 porsi, bulan ke empat 250 porsi, bulan kelima 300  porsi.</p>
<p>Jenis buburpun kami tambah dengan bubur sumsum, bubur ayam dan bubur sagu.</p>
<p>Alhamdulillah pada bulan ke enam saya sudah bisa melunasi seluruh hutang saya sejumlah 90 juta.</p>
<p>Satu  tahun setelah menjual aneka bubur (2008) kami menciptakan inovasi baru  dengan menghadirkan BUBUR JAGUNG, alhamdulillah peminat BUBUR JAGUNG  sangat banyak peminatnya .</p>
<p>Untuk operasional pengangkutan bubur  saya masih menggunakan becak barang, dan baru pada tahun kedua (2009)  saya sudah bisa membeli kendaraan baru secara kontan untuk kenderaan  operasional serta merenovasi rumah.</p>
<p>Alhamdulillah usaha terus mengalami peningkatan sampai pada tahun ke tiga.</p>
<p>Pada tahun 2010 kami sepakat bersama istri untuk kembali ke Jakarta dengan membuka cabang baru.</p>
<p>Kehidupan  baru di Depok mulai kami jalani, selama satu bulan saya mensurvei  kompetitor dan area penjualan, akhirnya pilihan kami jatuh di kota  Depok, dengan pertimbangan biaya sewa masih tergolong murah ( 50 % )  dibandingkan dengan Jakarta, disamping itu juga lokasinya yang dekat  dengan rumah.</p>
<p>Dengan bermodal Rp 300 juta kami membuka outlet di  Depok. Outlet kami tata sedemikian rupa dengan corak warna yang menyolok  dan indah. Untuk desain background kami serahkan ahli desain, sedangkan  pola tata ruang saya sendiri yang desain.</p>
<p>Untuk menarik minat pembeli maka saya buat texline :</p>
<p><strong>“ BUBUR JAGUNG…..JANGAN BELI NANTI BISA KETAGIHAN”</strong> .</p>
<p>Untuk  menjaga kulitas terbaik dari bubur yang kami produksi maka kami hanya  menggunakan bahan yang terbaik baik import maupun lokal.</p>
<p>Proses  pengolahan tanpa menggunakan bahan penyedap, tanpa pengawet, tanpa  pewarna, tanpa pemanis buatan serta di produksi dengan memakai air  mineral.</p>
<p>Konsep penjualan murni mengikuti syar’i diantaranya ;</p>
<p>1. Sumber dana yang kami gunakan tidak memakai dana BANK, untuk menghindari riba.</p>
<p>2. Warung tidak menyediakan tempat duduk agar tidak bercampurnya laki laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam satu meja.</p>
<p>3. Setiap waktu shalat warung ditutup untuk sementara, mengikat hukum shalat berjamaah ke mesjid bagi laki-laki adalah wajib.</p>
<p>4. Karyawan menggunakan pakaian muslim.</p>
<p>5. Promosi  produk kami lakukan lewat koran, jejaring social Facebook ( Aceh jezz  bubur ) dan twitter (bubur_jagung) disamping itu juga kami promo di  KASKUS (UNIK…bubur jagung yang enggak bisa dibeli ).</p>
<p>Promo  demikian ternyata ampuh, penjualan kami pun di bulan bulan pertama sudah  mencapai 100 porsi / hari, semua bubur kami hargai Rp. 15.000.</p>
<p>Untuk  Outlet Depok kami menambah 2 jenis bubur baru yaitu BUBUR KETAN SAUS  DURIAN dan BUBUR JALI. Penjualan terus meningkat mencapai 200 porsi pada  bulan ketiga.</p>
<p>Tingginya daya jual dan sistim take a way serta  tutupnya warung serta model jualan secara syariat menarik minat media  televisi dan media cetak untuk mengexsposenya.</p>
<p>Kadarullah Stasion  Televisi pertama yang meliput usaha bubur dari TRANS TV ( ACARA JELANG  SIANG) berdampak sangat positif, sehingga hasil penjualan kami pada  bulan ketiga sudah mencapi 300 porsi per hari.</p>
<p>Pada tahun 2011  kami kembali membuka cabang baru di CIBUBUR, di cibubur penjualan pada  bulan pertama juga sudah mencapai 100 porsi.</p>
<p>Sekarang usaha sudah  berjalan hampir lima tahun, total penjualan untuk ketiga wilayah sudah  mencapai 1000 porsi dengan omset 15 juta perhari.</p>
<p>Alhamdulillah dengan hasil penjualan saya sudah bisa Umroh dua kali serta ikut mengumrohkan ketiga orang tua saya.</p>
<p>Sampai  saat ini sudah 10 station Televisi meliput profil bubur jagung dan  banyak juga dari media cetak maupun online yang meliputnya.</p>
<p>Qadarullah  dengan banyaknya liputan dari media televisi dan cetak serta situs  online membuat bubur jagung sudah mencapai BRAND IMAGE yang merupakan  salah satu target kami.</p>
<p>Alhamdulillah hampir setiap hari kami  mendapat tilpon dari masyarakat untuk bisa ikut bermitra (FRANCHISE),  sekarang kami lagi mempersiapkan proses perizinan waralaba.</p>
<p>Penting  kami informasikan bahwa apa yang menjadi alur cerita perjalanan bisnis  kami ini semata mata karena banyaknya permintaan dari media televisi dan  cetak untuk mendapat informasi detil seluruh perjalan usaha kami dan  latar belakan kehidupan dari keluarga kami.</p>
<p>Cerita yang kami  sampaikan ini sedikitpun tidak ada maksud untuk menyombongkan diri, tapi  hanya sebagai ibrah dan sharing bagi pelanggan setia serta masyarakat  pada umumnya, yang terpenting dari kisah ini dapat kita ambil kesimpulan  bahwa <strong>SEBUAH USAHA HARUS DI TEMPUH DENGAN PENUH PERJUANGAN DAN KESABARAN</strong>.</p>
<p>Perlu  juga saya garis bawahi bahwa keberhasilan perjalan bisnis saya semata  mata karena kehendak Allah…. Tiada daya dan upaya kecuali atas izin  Allah.</p>
<p>Bagi yang ingin punya rencana bermintra dengan kami dengan sistim FRANCHISE, maka kami ingin menyampaikan pesan bahwa:</p>
<p>KAMI TIDAK PERNAH MEMBERI JAMINAN KE PADA ANDA BAHWA ANDA AKAN MERAUP UNTUNG JIKA MENGGUNAKAN MEREK DAGANG ACEH JEZZ BUBUR.</p>
<p>Urusan  rezeki adalah HAK ALLAH, ALLAH-lah yang menentukannya. Kita tidak  pernah tau apa yang terjadi besok, tugas kita hanya bekerja keras dengan  penuh kesabaran dan mohon doa pada Allah.</p>
<h3>
<strong>Penghargaan:</strong><br>
</h3>
<p>1. Pemateri CHEM ENTERPRENEUR DI KAMPUS UNIVERSITAS INDONESIA<br>2. Pemateri Talk show Kewirausahaan di Fakultas Pertanian, kampus  UNSYIAH Banda aceh.</p>
<p><img loading="lazy" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/396055_301403896578409_111134048938729_962710_1038843569_n.jpg" alt="Aceh jezz bubur sukses tanpa riba" width="408" height="268"></p>
<h3><strong>Produk:</strong></h3>
<p>1. BUBUR JAGUNG, BUBUR KETAN SAUS DURIAN (sementara hanya ada di depok), <br>2. BUBUR SAGU, BUBUR KACANG HIJAU, BUBUR KETAN HITAM, BUBUR SUMSUM, BUBUR  AYAM, BUBUR KANJI RUMBI ( sementara hanya ada di Banda aceh</p>
<p>Email         : acehjezzbubur@ymail.com<br>Telepon      : +620811155199<br>Situs Web   : http://www.bisnisbubur.com</p>
<p><strong>[Amin/<a href="http://www.facebook.com/pages/ACEH-JEZZ-BUBUR/111134048938729?sk=info" target="_parent">AJB</a>]</strong></p>
 