
<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, Dzat yang telah menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapa yang terbaik amalannya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan juga kepada keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka denga baik. Pada kesempatan kali ini kami akan coba membahas adab ziarah kubur. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Ketahuilah hamba-hamba Allah, sadar atau tidak sadar, kita semua saat ini sama-sama sedang menuju garis akhir kehidupan kita di dunia,  meskipun jaraknya berbeda-beda setiap orang. Ada yang cepat, ada yang lama. Tetapi, perlahan tapi pasti, setiap orang menuju garis akhir kehidupannya di dunia, itulah kematian. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman :</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 18pt;">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ</span></p>
<p align="center">“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185)</p>
<p>Setelah mati, seorang hamba hanya tinggal memetik apa yang selama ini ia tanam di dunia, tidak ada kesempatan kedua untuk menambah amal. jika kebaikan yang ia tanam, itulah yang akan ia panen. Jika keburukan yang ia tanam, maka dialah yang akan merasakannya sendiri. Oleh karena itulah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintahkan kita untuk banyak-banyak mengingat kematian. Beliau bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">“أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت.</span></p>
<p align="center">“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) ”<strong>[1]</strong></p>
<p>Dan di antara cara untuk mengingat kematian adalah dengan berziarah kubur. Banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dari amalan berziarah ke kubur. Inilah yang akan menjadi topik pembahasan kali ini<strong>[2] </strong>mengingat masih banyaknya kaum muslimin yang salah dalam menyikapi ziarah ini sehingga bukannya manfaat yang mereka raih, akan tetapi ziarah mereka justru mengundang murka Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Oleh karena itu, kita harus memahami adab ziarah kubur. Semoga Allah <em>Ta’ala </em> memberikan kita semua petunjuk.</p>
<h2>Hukum ziarah kubur</h2>
<p>Ziarah kubur adalah sebuah amalan yang disyari’atkan. Dari Buraidah Ibnul Hushaib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;"> كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها</span></p>
<p align="center">“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah<em>” </em><strong>[3]</strong></p>
<h2>Bolehkah wanita berziarah kubur?</h2>
<p>Para ulama berselisih dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan ada 5 pendapat ulama dalam masalah ini :</p>
<ul>
<li>Disunnahkan seperti laki-laki</li>
<li>Makruh</li>
<li>Mubah</li>
<li>Haram</li>
<li>Dosa besar<strong>[4]</strong>
</li>
</ul>
<p>Ringkasnya, pendapat yang paling kuat –<em>wallahu a’lam</em>– adalah wanita juga diperbolehkan untuk berziarah kubur asal tidak sering-sering. Hal ini berdasarkan beberapa alasan :</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Keumuman sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam hadits yang sudah lewat :</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها</span></p>
<p align="center">“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah”<strong>[5]</strong></p>
<p>Dalam hadits ini Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak membedakan antara laki-laki dan wanita.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya wanita berziarah lebih shahih daripada hadits yang melarang wanita berziarah. Hadits yang melarang wanita berziarah tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>:</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">أن رسول الله لعن زوّارات القبور</span></p>
<p align="center">“Rasulullah melaknat wanita yang sering berziarah kubur”<strong>[6]</strong></p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Lafazh <strong>زوّارات</strong> dalam hadits di atas menunjukkan makna wanita yang sering berziarah. Al Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataan Imam Al Qurthubi : “Laknat dalam hadits ini ditujukan untuk para wanita yang sering berziarah karena itulah sifat yang ditunjukkan lafazh hiperbolik tersebut (yakni <strong>زوّارات</strong> )”<strong>[7]</strong>. Oleh karena itu, wanita yang sesekali berziarah tidaklah masuk dalam ancaman hadits ini.</p>
<p><strong>Keempat:</strong> Persetujuan (taqrir) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>terhadap seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur kemudian beliau hanya memberikan peringatan kepada wanita tersebut seraya berkata,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">اتقى الله و اصبرى</span></p>
<p align="center">“Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah!”<strong>[8]</strong></p>
<p>Dalam hadits ini Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah mengingkari perbuatan wanita tersebut. Dan sudah diketahui bahwa taqrir Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah hujjah.</p>
<p><strong>Kelima:</strong> Wanita dan laki-laki sama-sama perlu untuk mengingat kematian, mengingat akhirat, melembutkan hati, dan meneteskan air mata dimana hal-hal tersebut adalah alasan disyari’atkannya ziarah kubur. Kesimpulannya, wanita juga boleh berziarah kubur</p>
<p><strong>Keenam:</strong> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memberikan keringanan kepada para wanita untuk berziarah kubur. Dalilnya adalah hadits dari shahabat Abdullah bin Abi Mulaikah :</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">أن عائشة أقبلت ذات يوم من المقابر، فقلت لها: يا أم المؤمنين من أين أقبلت؟ قالت: من قبر أخي عبد الرحمن بن أبي بكر، فقلت لها: أليس كان رسول الله نهى عن زيارة القبور؟ قالت: نعم: ثم أمر بزيارتها</span></p>
<p align="center">“Aisyah suatu hari pulang dari pekuburan. Lalu aku bertanya padanya : “<em>Wahai Ummul Mukminin, dari mana engkau?” </em>Ia menjawab : “<em>Dari kubur saudaraku Abdurrahman bin Abi Bakr”. </em>Lalu aku berkata kepadanya : “<em>Bukankah Rasulullah melarang ziarah kubur?” </em>Ia berkata : “<em>Ya, kemudian beliau memerintahkan untuk berziarah”</em> “<strong>[9]</strong></p>
<p><strong>Ketujuh:</strong> Disebutkan dalam kisah ‘Aisyah yang membuntuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ke pekuburan Baqi’ dalam sebuah hadits yang panjang, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون</span></p>
<p align="center">“Ya Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kubur-ed)?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah : <em>Assalamu’alaykum wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang dating kemudian. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian”</em><strong>[10]</strong></p>
<p>Syaikh Al Albani <em>rahimahullah </em>berkata setelah membawakan hadits ini : “Al Hafizh di dalam <em>At Talkhis </em>(5/248) berdalil dengan hadits ini akan bolehnya berziarah kubur bagi wanita”<strong>[11]</strong></p>
<p>Dengan berbagai argumen di atas jelaslah bahwa wanita juga diperbolehkan berziarah kubur asalkan tidak sering-sering. Inilah pendapat sejumlah ulama semisal Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Al ‘Aini, Al Qurthubi, Asy Syaukani, Ash Shan’ani, dan lainnya <em>rahimahumullah</em>.<strong>[12]</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/34001-ziarah-kubur-antara-sunnah-dan-bidah.html" target="_blank" rel="noopener">Ziarah Kubur, antara Sunnah dan Bid’ah</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Hikmah ziarah kubur</h2>
<p>Ziarah kubur adalah amalan yang sangat bermanfaat baik bagi yang berziarah maupun yang diziarahi. Bagi orang yang berziarah, maka ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا</span></p>
<p align="center">“Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena ziarah dapat melembutkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan akhirat. Dan janganlah kalian mengucapkan <em>al hujr</em><strong>[13]</strong>”<strong>[14]</strong></p>
<p>Dalam hadits tersebut, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjelaskan hikmah dibalik ziarah kubur. Ketika seseorang melihat kubur tepat di depan matanya, di tengah suasana yang sepi, ia akan merenung dan menyadari bahwa suatu saat ia akan bernasib sama dengan penghuni kubur yang ada di hadapannya. Terbujur kaku tak berdaya. Ia menyadari bahwa ia tidaklah hidup selamanya. Ia menyadari batas waktu untuk mempersiapkan bekal menuju perjalanan yang sangat panjang yang tiada akhirnya adalah hanya sampai ajalnya tiba saja. Maka ia akan mengetahui hakikat kehidupan di dunia ini dengan sesungguhnya dan ia akan ingat akhirat, bagaimana nasibnya nanti di sana? Apakah surga? Atau malah neraka? <em>Nas-alullahas salaamah wal ‘aafiyah</em>.</p>
<p>Selain itu, ziarah kubur juga bermanfaat bagi mayit yang diziarahi karena orang yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Tetapi, ini khusus untuk orang yang meninggal di atas Islam. Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم</span></p>
<p align="center">“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “<em>Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka””</em><strong>[15]</strong></p>
<p>Adapun jika mayit adalah musyrik atau kafir, maka tidak boleh mendo’akan dan memintakan ampunan untuknya berdasarkan sabda beliau,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">زار النبي قبر أمه. فبكى, وأبكى من حوله، فقال: استأذنت ربي في أن أستغفر لها، فلم يؤذن لي، واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت</span></p>
<p align="center">“Nabi pernah menziarahi makam ibu beliau. Lalu beliau menangis. Tangisan beliau tersebut membuat menangis orang-orang disekitarnya. Lalu beliau bersabda : “<em>Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian</em>”<strong>[16]</strong></p>
<p>Maka ingatlah hal ini, tujuan utama berziarah adalah untuk mengingat kematian dan akhirat, bukan untuk sekedar plesir, apalagi meminta-minta kepada mayit yang sudah tidak berdaya lagi. Pahamilah adab ziarah kubur dengan benar.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/8610-keutamaan-ziarah-kubur.html" target="_blank" rel="noopener">Keutamaan Ziarah Kubur</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Adab Islami ziarah kubur</h2>
<p>Agar berbuah pahala, maka ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan syari’at yang mulia ini. Berikut ini adab ziarah kubur :</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Hendaknya mengingat tujuan utama berziarah</p>
<p>Ingatlah selalu hikmah disyari’atkannya ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran dan mengingat kematian.</p>
<p>Imam Ash Shan’ani <em>rahimahullah </em>berkata : “Semua hadits di atas menunjukkan akan disyari’atkannya ziarah kubur dan menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud (yang artinya<em>) </em>: “<em>Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”</em>. Jika tujuan ini tidak tercapai, maka  ziarah tersebut bukanlah ziarah yang diinginkan secara syari’at”<strong>[17]</strong></p>
<p><strong>Kedua:</strong> Tidak boleh melakukan safar untuk berziarah</p>
<p>Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى</span></p>
<p>“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah, ed) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>(Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha”<strong>[18]</strong></p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan</p>
<p>“Dari Buraidah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dahulu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengajarkan mereka (para shahabat) jika mereka keluar menuju pekuburan agar mengucapkan :</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ</span></p>
<p align="center">“<em>Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”</em><strong>[19]</strong></p>
<p><strong>Keempat:</strong> Tidak memakai sandal ketika memasuki pekuburan</p>
<p>Dari shahabat Basyir bin Khashashiyah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>: “Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا</span></p>
<p align="center"><em>“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!”</em> Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya”<strong>[20]</strong></p>
<p><strong>Kelima:</strong> Tidak duduk di atas kuburan dan menginjaknya</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata : Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 18pt;">لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ</span></p>
<p align="center">“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur”<strong>[21]</strong></p>
<p><strong>Keenam:</strong> Mendo’akan mayit jika dia seorang muslim</p>
<p>Telah lewat haditsnya di footnote no. 14. Adapun jika mayit adalah orang kafir, maka tidak boleh mendo’akannya.</p>
<p><strong>Ketujuh:</strong> Boleh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit tetapi tidak boleh menghadap kuburnya ketika mendo’akannya (yang dituntunkan adalah menghadap kiblat)</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi’ Al Gharqad. Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berhenti di dekat Baqi’, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendo’akan mereka.<strong>[22]</strong> Dan ketika berdo’a, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan do’a adalah intisari sholat.</p>
<p><strong>Kedelapan:</strong> Tidak mengucapkan <em>al hujr</em></p>
<p>Telah lewat keterangan dari Imam An Nawawi <em>rahimahullah </em>bahwa <em>al hujr </em>adalah ucapan yang bathil. Syaikh Al Albani <em>rahimahullah </em>mengatakan : “Tidaklah samar lagi bahwa apa yang orang-orang awam lakukan ketika berziarah semisal berdo’a pada mayit, beristighotsah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah dengan perantaranya, adalah termasuk <em>al hujr</em> yang paling berat dan ucapan bathil yang paling besar. Maka wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyari’atkan dan tujuan syar’i dari ziarah tersebut”<strong>[23]</strong></p>
<p><strong>Kesembilan:</strong> Diperbolehkan menangis tetapi tidak boleh meratapi mayit</p>
<p>Menangis yang wajar diperbolehkan sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau sehingga membuat orang-orang disekitar beliau ikut menangis. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.</p>
<p>Itulah adab ziarah kubur yang harus kita pahami dan amalkan.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/54967-hukum-mengkhususkan-hari-raya-dan-hari-jumat-untuk-ziarah-kubur.html" target="_blank" rel="noopener">Hukum Mengkhususkan Hari Raya dan Hari Jum’at untuk Ziarah Kubur</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Rambu-rambu untuk para peziarah</h2>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan ziarah kubur ini agar ziarah kubur yang dilakukan menjadi amalan shalih, bukan menyebabkan murka Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> :</p>
<ul>
<li>Hikmah disyari’atkannya ziarah kubur adalah untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat, bukan untuk <em>tabarruk </em>kepada mayit meskipun dia dahulu orang sholeh. Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> mengatakan : “(Hendaknya) tujuan ziarahnya adalah untuk mengambil pelajaran, nasihat, dan mendo’akan mayit. Jika tujuannya adalah untuk tabarruk dengan kubur,  atau melakukan ritual penyembelihan di sana, dan meminta mayit untuk memenuhi kebutuhannya dan mengeluarkannya dari kesulitan, maka ini ziarah yang bid’ah lagi syirik”<strong>[24]
</strong><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<strong><br>
</strong>
</li>
<li>Tidak boleh mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah karena hal itu tidak ada dalilnya. Kapan saja ziarah itu dibutuhkan, maka berziarahlah. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Diantara hal yang tidak ada tuntunannya juga adalah kebiasaan menabur bunga di atas kuburan. Penta’liq <em>Matan Abi Syuja’ –</em>kitab fikih madzhab syafi’i- berkata : “Diantara bid’ah yang diharamkan adalah menaburkan/meletakkan bunga-bunga di atas jenazah atau kubur karena hanya buang-buang harta”<strong>[25]</strong>
</li>
</ul>
<p>Selesailah pembahasan tentang adab ziarah kubur ini. Semoga  Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>agar menjadikan penjelasan adab ziarah kubur ini sebagai amalan yang memberatkan timbangan kebaikan di hari perhitungan kelak  dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengannya. <em>Aamiin. Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘aalamin.</em></p>
<p><strong><em>Baca Juga</em>: </strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/20252-ziarah-kuburan-untuk-pengingat-kematian.html" target="_blank" rel="noopener">Ziarah Kuburan untuk Mengingat Kematian</a></strong></li>
<li><strong><a href="https://buletin.muslim.or.id/bt1601/" target="_blank" rel="noopener">Agar Ziarah Bernilai Ibadah</a></strong></li>
</ul>
<p><em> —</em></p>
<p><strong>Penulis: Yananto</strong></p>
<p><strong>Artikel muslim.or.id</strong></p>
<p>—</p>
<div>
<p> </p>
<div>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> HR. At Tirmidzi (no. 2307), Ibnu Majah (no. 4258), An Nasa’I (4/4), Ahmad (2/292,293). Syaikh Salim Al Hilaly <em>hafizhahullah </em>mengatakan: “hadits <em>shahih li ghairihi</em>”. Lihat <em>Bahjatun Nazhirin</em> (1/581), Daar Ibnul Jauzy</p>
</div>
<div>
<p><strong>[2]</strong> Dan hal yang sangat mengherankan bagi penulis yakni adanya orang-orang yang menuduh Salafiyyun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, atau yang mereka sebut sebagai <em>Wahhabi, </em>yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Nabi, mengharamkan ziarah kubur secara mutlak. Semoga Allah memberikan mereka petunjuk kepada sunnah.</p>
</div>
<div>
<p><strong>[3]</strong> HR. Muslim no. 977. Lihat <em>Bahjatun Nazhirin </em>(1/583)</p>
</div>
<div>
<p><strong>[4]</strong> Lihat <em>Asy Syarhul Mumti</em> (5/380)</p>
</div>
<div>
<p><strong>[5]</strong> HR. Muslim no. 977</p>
</div>
<div>
<p><strong>[6]</strong> Hadits ini hasan dengan beberapa penguatnya. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1056 dan beliau berkomentar : <em>hadits hasan shahih</em>, juga oleh Ibnu Majah no. 1576 dan Al Baihaqi (4/78). Lihat <em>Jaami’ Ahkaamin Nisaa </em>(1/580).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[7]</strong> Lihat <em>Fathul Baari </em>(3/149), Maktabah As Salafiyyah (versi pdf)</p>
</div>
<div>
<p><strong>[8]</strong> HR. Bukhari no. 1283</p>
</div>
<div>
<p><strong>[9]</strong> HR. Al Hakim (1/376) dan Al Baihaqi (4/78). Adz Dzahabi berkata : “Shahih”. Al Bushiri berkata : “Sanadnya shahih dan perawinya tsiqah”. Syaikh Al Albani berkata : “Hadits ini (derajatnya) sebagaimana penilaian mereka berdua”. Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal. 230, Maktabah Al Ma’arif</p>
</div>
<div>
<p><strong>[10]</strong> HR. Muslim (3/14), Ahmad (6/221), An Nasa’I (1/286), dan Abdurrazzaq (no. 6712)</p>
</div>
<div>
<p><strong>[11]</strong> Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal. 232, Maktabah Al Ma’arif</p>
</div>
<div>
<p><strong>[12]</strong> Lihat <em>Bahjatun Nazhirin</em> (1/583), Daar Ibnul Jauzy</p>
</div>
<div>
<p><strong>[13]</strong> <em>Al Hujr </em>adalah ucapan yang bathil. Lihat <em>Al Majmu’ </em>(5/310), Maktabah Syamilah</p>
</div>
<div>
<p><strong>[14]</strong> HR. Al Hakim (1/376), dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal. 229</p>
</div>
<div>
<p><strong>[15]</strong> HR. Ahmad (6/252). Syaikh Al Albani berkata : “Shahih sesuai syarat <em>Syaikhain </em>(yakni Bukhari dan Muslim-ed)”. Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz</em> hal. 239</p>
</div>
<div>
<p><strong>[16]</strong> HR. Muslim (3/65). Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya menziarahi makam orang kafir dengan tujuan hanya untuk mengambil pelajaran saja, bukan untuk mendo’akannya.</p>
</div>
<div>
<p><strong>[17]</strong> Lihat <em>Subulus Salaam (</em>1/502), Maktabah Syamilah</p>
</div>
<div>
<p><strong>[18]</strong> <em>Muttafaqun ‘alaihi</em> dari shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em></p>
</div>
<div>
<p><strong>[19]</strong> HR. Muslim no. 974</p>
</div>
<div>
<p><strong>[20]</strong> HR. Abu Dawud (2/72), An Nasa’I (1/288), Ibnu Majah (1/474), Ahmad (5/83), dan selainnya. Al Hakim berkata : “Sanadnya shahih”. Hal ini disetujui oleh Adz Dzahabi dan juga Al Hafizh di <em>Fathul Baari </em>(3/160). Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal. 173, Maktabah Al Ma’arif</p>
</div>
<div>
<p><strong>[21]</strong> HR. Muslim (3/62)</p>
</div>
<div>
<p><strong>[22] </strong>Syaikh Al Albani mengatakan : “Diriwayatkan oleh Ahmad (6/92), dan hadits ini terdapat di <em>Al Muwaththo’ </em>(1/239-240), dan An Nasa’I dengan redaksi yang semisal tetapi disana tidak disebutkan (kalau Nabi) mengangkat tangan. Dan sanad hadits ini hasan”. Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal. 246, Maktabah Al Ma’arif</p>
</div>
<div>
<p><strong>[23]</strong> Lihat <em>Ahkaamul Janaa-iz </em>hal.227, Maktabah Al Ma’arif</p>
</div>
<div>
<p><strong>[24]</strong> Lihat <em>Al Mulakhkhos Al Fiqhi</em> hal. 248, Daarul Atsar</p>
</div>
<div>
<p><strong>[25]</strong> <em>Ta’liq Matan Al Ghayah wat Taqrib fi Fiqhis Syafi’I</em> hal. 106, Daar Ibnu Hazm</p>
</div>
</div>
 