
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44188-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-4-jangan-mubadzirkan-semangat-belajarmu.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu 4 : Jangan Mubadzirkan Semangat Belajarmu</a></span></strong></p>

<p><em><span style="font-weight: 400;">Bismillah…</span></em></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Setiap Tujuan Memiliki Jalur</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap tempat tujuan memiliki jalur yang menghantarkan pelancong ke sana. Setiap cita-cita ada jalan yang menghantarkan para pejuang untuk meraihnya. Demikian pula ilmu. Syekh Sholih Al-‘Ushoimi (Pngajar di dua masjid suci : Masjidil Haram dan masjid Nabawi) menasehatkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وإن للعلم طريقا من أخطأها ضل ولم ينل المقصود, ربما أصاب فائدة قليلة مع تعب كثير</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu itu memiliki jalur, yang siapa keliru memilih jalur, dia tidak akan sampai tujuan. Sehingga bisa jadi dia telah banyak lelah, namun ilmu yang didapat sedikit.” (</span><span style="font-weight: 400;">Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, hal. 19)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti saat anda pergi ke suatu tempat, lalu tersesat. Sehingga berjalan berkali-kali lipat dari jalan yang sebenarnya. Lelah dan menghabiskan banyak waktu. Itulah gambaran akibat dari tidak mengetahui cara yang benar dalam belajar.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47202-selektif-dalam-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Apa Gerangan Jalan yang Tepat Meraih Ilmu?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syekh Muhammad Murtadho bin Muhammad Az-Zubaidi, penulis kitab Tajul ‘Arus mengungkapkan metode yang tepat dalam menuntut ilmu agama dalam bait syair karyanya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فما حوى الغاية في ألف سنة                شخص فخذ من كل علم أحسنه</b></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بحفــظ متن جامعٍ للراجــــــحِ                تأخذه على مفيد ناصـــــــــــــحِ.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tak mungkin semua cita-cita dapat seorang raih, meski berjuang seribu tahun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka ambillah yang terbaik dalam setiap disiplin ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan menghafal matan yang terbaik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu engkau pelajari di hadapan guru yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mufid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">nashih</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43401-berkorban-harta-untuk-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Berikut Jalur yang Tepat dalam Menuntut Ilmu</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka jalur yang benar dalam belajar ilmu agama, ada di dua hal berikut :</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Langkah Pertama</span></strong></h3>
<p>Menghafal matan – matan ilmiyah terbaik untuk setiap cabang ilmu.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Matan adalah, kitab-kitab ringkas yang berkaitan disiplin ilmu agama. Seperti al Ajurrumiyah dalam ilmu nahwu, Ushul Tsalatsah dalam ilmu akidah, al Waroqot dalam ilmu Ushul Fikih, Nazom Al Baiquni dalam ilmu hadis dst.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena menuntut ilmu tak bisa lepas dari aktivitas menghafal. Sampai Syekh Sholih Al-‘Ushoimi rahimahullah menegaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فمن ظن أنه ينال العلم بلا حفظ فغنه يطلب محالا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa yang menduga bahwa ilmu pengetahuan itu dapat diraih tanpa menghafal, makai a sedang mencari sesuatu yang mustahil.” </span><span style="font-weight: 400;">Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, hal. 20)</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Langkah Kedua</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Kuasai matan-matan ilmiyah itu dengan belajar di hadapan guru yang punya dua sifat ini :</span></p>
<h4><span style="font-size: 14pt;"><strong><i>Mufid / ifadah</i></strong></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya kapabel, atau benar-benar mengilmui ilmu yang akan kita ambil darinya.</span></p>
<h4><span style="font-size: 14pt;"><strong><i>Nashih / nashihah.</i></strong></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya sosok guru yang padanya ada dua kriteria :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Akhlaknya layak dijadikan teladan</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Mengetahui cara yang hikmah dalam mengajarkan ilmu. </span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia menguasai metode menyampaikan ilmu yang mudah dipahami murid dan dia bisa mengajarkan ilmu yang paling susuai dibutuhkan anak didiknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa mencari ilmu itu harus dengan talaqi kepada guru yang mumpuni. Maksudnya talaqi, kita harus datang ke kajian, duduk menyimak mencatat memahami ilmu yang disampaikan oleh guru kita. Tidak bisa ilmu ini hanya di dapat memalui video singkat yang kita dapat di pesan sosmed, beranda sosmed atau di youtube. Meski tak bisa dipungkiri, di situ juga ada manfaat. Namun itu hanya penunjang belajar, bukan cara belajar yang pokok. Kecuali mereka yang berada di kindisi mendesak, seperti tak ada guru di tempat ia tinggal yang layak diambil ilmunya, itu lain cerita. Seorang untuk dapat benar-benar meraih ilmu, harus siap merendahkan hati dan berjuang, belajar di hadapan guru.</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Dalil Metode Menuntut Ilmu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil metode ini adalah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud no. 3659 dalam Sunannya, dengan sanad yang kuat. Dari Ibnu Abbad radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تسمعون ويسمع منكم ويسمع ممن يسمع منكم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang kalian menyimak ilmu. Lalu nanti orang-orang akan menyimak ilmu dari kalian. Lalu orang-orang akan menyimak ilmu dari murid-murid kalian.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">60 Adab Dalam Menuntut Ilmu</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25161-perjalanan-menuntut-ilmu-syari-1.html" data-darkreader-inline-color="">Perjalanan Menuntut Ilmu Syar’i</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Smeoga diterima oleh Allah sebagai ilmu bermafaat yang menjadi pahala jariyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jogja, 6 Jumadil Awal 1441 H</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color=""> Ustadz Ahmad Anshori, Lc</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">___</span></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Penjabaran dari kitab : </span><span style="font-weight: 400;">Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi -hafidzohullah-.</span>
</li>
</ul>
 