
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya</strong> <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a class="row-title" style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54491-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-7-optimalkan-masa-muda-untuk-belajar.html" aria-label="“Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 7) : Optimalkan Masa Muda untuk Belajar” (Edit)" data-darkreader-inline-color="">Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 7) : Optimalkan Masa Muda untuk Belajar</a></strong></span></p>

<p><strong><i>Bismillah</i>…</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di serial tulisan bagian perdana<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/41419-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-1-bersihkan-wadah-ilmu-hati.html" data-darkreader-inline-color=""> Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag.1) : Bersihkan Wadah Ilmu, Hati </a></span></span><span style="font-weight: 400;">telah kita pelajari bahwa pemikul ilmu adalah hati. Dan hati adalah salah satu dari organ tubuh manusia. Layaknya tangan atau punggung, sama-sama organ tubuh kita, mengangkat tumpukan bata seberat 100 kg sekali angkat, dia pasti kesusahan, atau bahkan tidak kuat. Jika dipaksakan, bisa berakibat patah tulang atau cidera otot. Yang pasti, memikul beban di luar kemampuan akan membuat orang mudah patah arang. Berbeda jika bata-bata itu diangkat satu persatu, atau dua perdua, akan lebih ringan dipikul. Ia akan terus termotivasi untuk membuat tembok yang tinggi dan kokoh, dari bata-bata yang disusunnya. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mempelajari Ilmu Secara Bertahap</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya dengan hati, pemikul ilmu. Ketika seorang belajar di luar dosisnya, maka hati akan cepat lelah, putus asa. Proses belajar tidak akan berjalan lama, rawan berhenti di tengah jalan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah telah mensifati, bahwa ilmu ini berat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” </span><b>(QS. Al-Muzammil: 5)</b></p>
<p><em><strong>Belajar itu, sabar …</strong></em></p>
<p><em><strong>Belajar itu, bertahap …</strong></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bisa anda bayangkan, seorang siswa kelas 3 SD, diajari materi kimia kelas 3 SMA, bisakah dia paham? Tentu tidak. Salah paham iya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, mengapa ada orang yang sudah <a href="https://muslim.or.id/56281-hadits-belajar-alquran.html" target="_blank" rel="noopener">belajar Al-Qur’an</a>, belajar hadis, tapi pemahamannya membuat kulit dahi berkerut, kepala bergeleng-geleng? Bisa jadi satu di antara sebabnya adalah karena belajar yang tidak bertahap. Semua dilahap tanpa melihat daya nalarnya. Ingin cepat jadi ulama dalam waktu yang singkat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Benar apa kata seorang ulama di Damaskus, bernama Abdul Karim Ar-Rifa’ii,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>طعام الكبار سم الصغار</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Makanan orang dewasa, bisa menjadi racun bila dimakan oleh anak balita.” </span><b>(</b><b><i>Khulashah Ta’dhimil ‘Ilmi,</i></b><b> hal. 27)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51513-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Keutamaan Belajar Ilmu Agama</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil Menuntut Ilmu Tidak Boleh Terburu-Buru</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita perhatikan bagaimanakah proses Al-Qur’an diturunkan? Ayat per ayat. Bertahap sesuai peristiwa yang dialami oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan para sahabatnya. Jadi bertahap tidak terburu-buru dalam belajar, itu adalalah metode robbani, seperti itulah Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja seluruhnya?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya.” </span><b>(QS. Al-Furqan: 32)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita perhatikan ayat ini, ternyata tergesa-gesa itu karakternya orang-orang kafir. Mereka ingin Al-Qur’an diturunkan utuh secara instan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun sabar, bertahap dalam belajar, adalah karakter Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan orang-orang beriman. Mereka sabar menerima ilmu dari Allah Ta’ala, ayat per ayat. Kemudian apa hasil dari belajar yang bertahap?  </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya.”</span></p>
<p><strong>Agar ilmu menancap kuat di dalam hati …</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Benar apa kata Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الأناة من الله تعالى، والعجلة من الشيطان</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sikap tenang itu dari Allah Ta’ala, adapun sikap tergesa-gesa itu dari setan.” </span><b>(HR. Tirmidzi)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika hasil dari belajar bertahap itu adalah ilmu yang menancap kuat di hati, maka hasil dari sikap sebaliknya: gegabah, ceroboh, dan ergesa-gesa dalam menuntut ilmu; juga sebaliknya, yaitu keilmuan dan pemahaman yang rapuh.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47061-hanya-ada-waktu-waktu-sisa-untuk-belajar-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Hanya Ada Waktu- Waktu Sisa untuk Belajar Ilmu Agama</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bagaimanakah Cara Belajar dengan Bertahap? </b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi </span><i><span style="font-weight: 400;">-hafidzahullah-,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ومقتضى لزوم التأني والتدرج : البداءة بالمتون القصار المصنفة في فنون العلم, حفظا واستشراحا, والميل عن مطالعة المطولات التي لم يرتفع الطالب بعد إليها</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wujud dari tidak tergesa-gesa dalam belajar adalah: memulai belajar agama dengan mempelajari matan-matan ringkas pada setiap disiplin ilmu agama. Dengan menghafal dan juga mempelajari penjelasannya. Kemudian tidak terjun belajar pada kitab-kitab tebal, yang sama sekali tidak akan meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">upgrade </span></i><span style="font-weight: 400;">kualitas keilmuan seorang pelajar. </span><b>(</b><b><i>Khulashah Ta’dhiimil ‘Ilmi,</i></b><b> hal. 27)</b></p>
<p><strong><span style="font-size: 18pt;">Inilah dua metode bertahap dalam belajar:</span></strong></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Menguasai matan-matan ringkas.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Di awal belajar, jangan terjun mempelajari kitab-kitab tebal.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Jalanilah perjuangan menunut ilmu dengan bertahap. Dimulai dari kitab-kitab ringkas, kemudian berlanjut ke tahap menengah, lanjut ke tahap yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Jalani belajarmu dengan rapi. Jangan terburu-buru ingin belajar pada kitab-kitab yang tebal dan rumit. Karena makanan orang dewasa, bisa menjadi racun bila dimakan anak kecil. Sehari dua hari mungkin si anak bisa bertahan. Tapi di hari-hari berikutnya bisa jadi dia mati karena makanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah perumpamaan orang yang tidak rapi dan terstruktur dalam belajar agama, satu dua hari, pekan, bulan … mungkin dia masih bisa bertahan. Namun setelah itu, dia akan ‘mati’ karena ilmu yang dia serap bukanlah santapannya. Matinya seorang karena ilmu adalah berhenti belajar. Makanya, mengapa orang tidak bisa istiqamah menunut ilmu agama? Padahal para ulama salaf  dahulu menjalani proses menuntut ilmu sampai akhir hayat?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya, karena cara belajar yang tidak beraturan dan bertahap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka mari kita perjuangkan status penuntut ilmu ini tetap melekat sampai ajal menjemput. Karena menuntut ilmu itu ibadah. Sedangkan ibadah tidak memiliki masa ujung kecuali satu, yaitu kematian …</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Beribadahlah kepada Tuhanmu, sampai bertemu kematian.” </span><b>(QS. Al-Hijr: 99)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersahabatlah dengan ilmu sampai akhir hayat. Jangan sampai menjadi “mantan penuntut ilmu”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekian..</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bis shawab.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45313-semangat-belajar-dan-meneliti-ilmu-kedokteran.html" data-darkreader-inline-color="">Semangat Belajar dan Meneliti Ilmu Kedokteran</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43306-belajar-dengan-banyak-guru.html" data-darkreader-inline-color="">Belajar Dengan Banyak Guru</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">__</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color=""> Ustadz Ahmad Anshori, Lc</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 