
<p>Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala  sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua  urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam  urusan dunia maupun agama.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">{وَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}</p>
<p><em>”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk  menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang  yang berserah diri.” </em>(QS. An-Nahl: 89).</p>
<p>Dan ketika sahabat yang mulia, Salman Al-Farisy <em>radhiallahu ‘anhu</em> ditanya oleh seorang musyrik, Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab, ”Benar, Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar dan ketika buang air kecil…<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan  mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam  Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, dengan tujuan untuk membimbing  orang-orang yang beriman agar mereka meraih keberkahan dan keutamaan  dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam pembelanjaan harta mereka yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ  أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»</p>
<p><em>“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan  tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti)  kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun  makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a></em></p>
<p>Disamping itu, mengatur pembelanjaan harta sesuai dengan petunjuk Allah <em>Ta’ala</em> merupakan cara terbaik untuk mengatasi keburukan nafsu manusia yang  tidak pernah puas dengan harta dan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi)  harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Juga sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn4">[4]</a></p>
<h2>Kewajiban mengatur pembelanjaan harta</h2>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ  عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا  أَبْلاَهُ»</p>
<p><em>“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari  kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya  kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya,  tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya,  serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”</em><a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan  harta dengan menggunakannya untuk hAl-hal yang baik dan diridhai oleh  Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai  pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di  dunia.<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) <em>idha’atul maal</em> (menyia-nyiakan harta).<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn7"><em>[7]</em></a></p>
<p>Arti “<em>idha’atul maal</em>” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan.<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn8">[8]</a></p>
<h2>Antara pemborosan dan penghematan yang berlebihan</h2>
<p>Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}</p>
<p><em>“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang  apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan  tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah  antara yang demikian.”</em> (QS. Al-Furqaan: 67)</p>
<p>Artinya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta  sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga  tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan)  hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka  (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan  sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan).<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Juga dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">{وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا}</p>
<p><em>Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu  (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu  boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”</em> (QS. Al-Israa’: 29)</p>
<p>Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti  ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara  berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan  larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi  kebutuhan, sehingga menjadikannnya <em>musrif</em> (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap <em>ifrath</em> (melampaui batas) dan <em>tafrith</em> (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya  bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh  Allah.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn10">[10]</a></p>
<h2>Waspadai fitnah (kerusakan) harta!</h2>
<p>Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan  harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang  berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan  oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabda beliau,</p>
<p class="arab">«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»</p>
<p>“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah  fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan  pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arab">{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}</p>
<p><em>“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”</em> (QS. At-Tagaabun: 15).<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan  terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia,  karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa  puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya,  bagaimanapun berlimpahnya<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn13">[13]</a>, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, <em>“Seandainya  seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka  dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga</em>.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan  mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk  tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras  untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus  siksaan besar bagi dirinya di dunia.</p>
<p>Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai  dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan  dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang,  keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf  berkata, “Barangsiapa yang  mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia  mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn16">[16]</a></p>
<h2>Zuhud dalam masalah harta</h2>
<p>Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah <em>Ta’ala</em>,  tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada  harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak  menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan  segera menggunakannya untuk hAl-hal yang diridhai oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad  bin Hambal ketika beliau ditanya, Apakah makna zuhud di dunia (yang  sebenarnya)? Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang  angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia  berkata, Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan  mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta,  akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan  (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu,  dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai)  maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat  kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn18">[18]</a></p>
<h2>Jangan lupa menyisihkan sebagian harta untuk sedekah</h2>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}</p>
<p>“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan  menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS.  Sabaa’: 39).</p>
<p>Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ  إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»</p>
<p><em>“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah  menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya)  kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di  (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya.”</em><a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hAl-hal yang akan  merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan  kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim  ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan  sebagian dari rizki yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.</p>
<p>Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil  tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka  akan bernilai besar di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Dalam hadits lain beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan  baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau  menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn24">[24]</a></p>
<h2>Nasehat dan penutup</h2>
<p>Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja  keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan,  karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran,  nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.</p>
<p>Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat <em>qana’ah</em> (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam  diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda  Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Bukanlah kekayaan itu  karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang  hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Sifat <em>qana’ah</em> ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan  kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan  orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan  merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta  (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”</em><a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn26">[26]</a></p>
<p>Arti “ridha kepada Allah sebagai <em>Rabb</em>” adalah ridha kepada  segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya,  serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn27">[27]</a>.</p>
<p>Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat <em>qana’ah</em> dialah  yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di  akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian  mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya  sifat <em>qana’ah</em> (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikan kepadanya.”<a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftn28">[28]</a></p>
<p>Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan  nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna,  agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat <em>qana’ah</em> dan  semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk  memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar,  sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p><a><strong>www.PengusahaMuslim.com</strong></a></p>
<hr size="1">
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> HSR Muslim (no. 262).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> HSR Al-Bukhari (no. 56) dan Muslim (1628).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref3">[3]</a> HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref4">[4]</a> HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref5">[5]</a> HR At-Tirmidzi (no. 2417), Ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam “<em>As-Shahiihah</em>” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “<em>Bahjatun naazhirin syarhu riyaadhish shaalihin</em>” (1/479).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref7">[7]</a> HSR Al-Bukhari (no.1407) dan Muslim (no.593).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref8">[8]</a> Lihat kitab “<em>an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar</em>” (3/237).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref9">[9]</a> Kitab “<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>” (3/433).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref10">[10]</a> Kitab “<em>Fathul Qadiir</em>” (3/318).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref11">[11]</a> HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref12">[12]</a> Lihat kitab “<em>Faidhul Qadiir</em>” (2/507).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref13">[13]</a> Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “<em>Igaatsatul lahfan</em>” (hal. 84 – <em>Mawaaridul amaan</em>).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref14">[14]</a> HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref15">[15]</a> Kitab “<em>Igaatsatul lahfan</em>” (hal. 83-84, Mawaaridul amaan).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref16">[16]</a> Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “<em>Igaatsatul lahfan</em>” (hal. 83 – Mawaaridul amaan).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref17">[17]</a> Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “<em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em>” (2/384).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref18">[18]</a> Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “<em>Jaami’ul ‘uluumi wal hikam</em>” (2/179).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref19">[19]</a> Lihat “<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>” (3/713).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref20">[20]</a> HSR. Muslim (no. 2588).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref21">[21]</a> Lihat kitab “<em>Syarhu shahihi Muslim</em>” (16/141) dan “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/503).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref22">[22]</a> HSR Al-Bukhari (no. 1351) dan Muslim (no. 1016).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref23">[23]</a> HSR Muslim (no. 2626).<br> 1 HSR Al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).<br> 2 HSR Al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref26">[26]</a> HSR Muslim (no. 34).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref27">[27]</a> Lihat kitab “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 81).<br> <a href="http://konsultasisyariah.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref28">[28]</a> HSR Muslim (no. 1054).</p>
 