
<ol>
<li><strong>Adab-Adab Terhadap Ahlul Bait </strong></li>
</ol>
<p>Dari keterangan pembahasan sebelumnya, tampaklah bahwa ahlul bait <em>Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam </em>memiliki keutamaan dan hak-hak yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Diantaranya adalah kita diperintahkan untuk memberikan hak mereka berupa <em>fa’i</em> (harta rampasan perang dari non muslim yang diperoleh tidak dengan jalan perang) dan <em>al khumus</em> (seperlima dari <em>ghanimah</em>), menghormati mereka, berwala’ terhadap mereka, bershalawat atas mereka, dan dilarang menyakiti mereka baik melalui ucapan maupun perbuatan, seperti mencela atau berbicara buruk tentang mereka, atau menyakiti mereka secara fisik.</p>
<p> </p>
<p><strong>Beberapa Sikap Terkait Ahlul Bait </strong></p>
<p>Sebagaimana telah disebutkan di awal, bahwa mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam terbagi menjadi beberapa golongan dalam menyikapi ahlul bait Rasulullaah <em>Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. </em></p>
<p><em><strong> 1.</strong> </em><strong><em>Syiah</em></strong><strong> <em>Rafidhah</em></strong></p>
<p>Golongan pertama, Syiah Rafidhah, dan yang semisal mereka, meyakini bahwa ahlul bait Rasulullaah hanya terbatas pada ‘Ali, Faathimah, Hasan, Husain, dan 9 imam lainnya dari keturunan Husain <em>radhiyallaahu’anhum</em> (<em>Ahlul Bait ‘Inda Syiah</em>, <em>shiaweb.org</em>). Dan merekalah yang disematkan kepadanya berbagai keyakinan bathil, seperti mengangkat mereka lebih tinggi dari tingkatan kenabian, bahkan menyifatkan mereka dengan sifat yang khusus bagi Allaah, seperti meyakini mereka mengetahui ilmu ghaib seperti berbagai hal yang telah dan akan terjadi hingga hari akhir, begitu pula meyakini wajibnya menaati mereka seperti menaati Rasulullah <em>Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam</em>, dan mengingkari mereka sebagaimana mengingkari Allah dan RasulNya. (<em>Haqiiqatu Syiah wa Hal Yumkinu Taqaarubuhum ma’a Ahli Sunnah?</em>, hal. 72-75).</p>
<p>Bersamaan dengan sikap <em>ghuluw</em> tersebut, mereka membenci, bahkan mengkafirkan sebagian besar sahabat, meski mereka masih termasuk Bani Hasyim, seperti Al Abbas paman Nabi dan Abdullaah bin ‘Abbas, <em>radhiyallaahu ‘anhuma</em> (<em>Haqiiqatu Syiah wa Hal Yumkinu Taqaarubuhum ma’a Ahli Sunnah?</em>, hal. 387-388), serta istri-istri Rasulullaah <em>Shallallaahu’alaihi wa Sallam</em> (<em>Haqiiqatu Syiah wa Hal Yumkinu Taqaarubuhum ma’a Ahli Sunnah?</em>, hal. 392-397).</p>
<p><strong><em>2. Khawarij</em></strong></p>
<p>Sedangkan golongan kedua, yakni mereka yang dikenal dengan nama Khawarij, bersikap sebaliknya, khususnya terhadap amiirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>.</p>
<p style="text-align: right;"> ، نواصب: جمع ناصب، وهو من ناصب العداوة أهل البيت، وعلى رأسهم علي بن أبي طالب رضي الله عنه بعد رسول الله، فأفضل أهل البيت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب، آذوهم بقول إما بسب، أو شتم، أو لعن، أو تكفير، أو تفسيق، أو بعمل، وذلك بأن يوصل إليهم الأذى الحسي، ومنه أذى قبورهم إن عرفت بأن يلقى عليها القاذورات أو تمتهن، فإن هذا من الإيذاء وإن كان لا يصل إليهم بذواتهم، لكن هو إيذاء معنوي نظير السب والشتم،</p>
<p>“Nawashib (Khawarij), jamak dari kata naashib, adalah golongan yang menampakkan permusuhan terhadap ahlul bait, utamanya terhadap ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>, yang merupakan ahlul bait yang paling utama setelah Nabi <em>Shallallaahu’alaihi wa Sallam</em>. Khawarij menyakiti beliau dengan ucapan, baik dengan mencela, mengutuk, melaknat, mengkafirkan, atau memfasikkan beliau. Atau dengan perbuatan, seperti menyakiti mereka secara fisik. Termasuk juga merusak kubur mereka, dengan menaruh kotoran atau semisalnya, yang meskipun tidak sampai secara dzatnya, namun merupakan gangguan maknawi yang menampakkan celaan dan kecaman” (<em>Syarah Aqidah Al Waasithiyyah li Khalid Al Mushlih, </em><a href="http://islamweb.net/">islamweb.net</a> )</p>
<p><strong><em>3. Ahlussunnah</em></strong> <strong><em>wal Jama’ah</em></strong></p>
<p>Adapun golongan ketiga, sekaligus golongan pertengahan dan terbaik dalam menyikapi ahlul bait adalah ahlus sunnah wal jamaah. Merekalah yang paling berilmu, lagi mengamalkan perintah Allaah dan RasulNya terhadap ahlul bait beliau dalam KitabNya dan sunnah yang shahih. Diantara keyakinan dan sikap ahlussunnah terhadap ahlul bait adalah:</p>
<ol>
<li>Ahlussunnah mengetahui kewajiban mereka terhadap hak hak ahlul bait, seperti <em>khumus</em> dan <em>fa’i</em>. Allaah <em>Ta’ala</em> juga memerintahkan untuk bershawalat atas mereka, mengikuti shalawat atas Nabi <em>Shallallaahu’alaihi wa Sallam. </em>
</li>
<li>Ahlussunnah berlepas diri dari jalannya orang orang Khawarij yang keras terhadap ahlul bait, atau Rafidhah yang berlebihan dalam menyanjung mereka.</li>
<li>Ahlussunnah mencintai istri-istri Nabi <em>Shallallaahu’alaihi wa Sallam</em> dan ridha terhadap mereka. Mengetahui hak hak mereka. Dan beriman bahwa mereka adalah istri beliau di dunia dan akhirat.</li>
<li>Ahlussunah tidak mengeluarkan sifat sifat ahlul bait dari batas-batas syariah. Mereka tidak berlebihan dalam menyifati mereka. Tidak meyakini sucinya mereka dari kesalahan, bahkan meyakini mereka adalah manusia biasa yang bisa terjatuh dalam kesalahan sebagaimana manusia lainnya.</li>
<li>Ahlussunah meyakini ahlul bait tidak otomatis terampuni dosanya. Bahkan diantara mereka ada yang baik, ada yang jahat, ada yang shalih dan ada pula buruk amalnya.</li>
<li>Ahlussunah meyakini bahwa pembahasan keutamaan ahlul bait tidak berarti mengutamakan mereka dalam segala hal, dan atas seluruh manusia. Bahkan terkadang ditemui pada selain mereka orang orang yang lebih utama dari mereka dari sisi lain. (Disadur dari F<em>adhlu Ahlil Bait wa ‘Uluwwu Makaanatihim ‘inda Ahlissunnati wal Jamaa’ati,</em> Syaikh Abdil Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, dorar.net/aqadia/3926).</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Semoga kita senantiasa termasuk ke dalam golongan yang terbaik dalam menjaga hak-hak ahlu bait Rasulullaah <em>Shallallaahu’alaihi wa Sallam</em> yang semestinya, sebagai bentuk pemuliaan dan kepatuhan kepada beliau.</p>
<p> </p>
<p><em>Allaahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, wa shahbihi ajma’iin. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>—</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Penyusun: Ika Kartika</strong></p>
<p><em> </em></p>
<ul>
<li>
<em>Ahlul Bait ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.</em> Doktor ‘Umar bin Shaalih Al Qurmusy. Cetakan I/1434 H. Markaaz At Taashil Li Diraasati wal Buhuts, KSA</li>
<li>
<em>Ahlul Baiti ‘inda Syi’ah</em>, shiaweb.org/shia/aqaed_sunnah_shia/pa32.html</li>
<li>
<em>Fadhlu Ahlil Bait wa ‘Uluwwu Makaanatihim ‘inda Ahlissunnati wal Jamaa’ati li Abdil Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr</em>. dorar.net/aqadia/3926</li>
<li>
<em>Man Hum Aalul Baiti</em>. Shaalih bin Ahmad Asy Syaami. <a href="http://www.alukah.net/spotlight/0/112703/#ixzz5K5brwWO6">http://www.alukah.net/spotlight/0/112703/#ixzz5K5brwWO6</a>
</li>
<li>
<em>Haqiiqatu Syiah wa Hal Yumkinu Taqaarubuhum ma’a Ahli Sunnah?</em>. Muhammad Bayyummi. Cetakan I/1428 H. Daar Al Ghadd Al Jadiid, Mesir.</li>
<li>
<em>Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah</em>. Khaalid bin ‘Abdillaah bin Muhammad Al-Mushlih. <a href="http://islamweb.net/">net</a>
</li>
</ul>
<p><em>Syarah Riyaadush Shaalihiin.</em> Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin. 1426 H. Daarul Wathon lin Nasyr, Riyadh, KSA</p>
<p> </p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 