
<p><strong>AHLUS SUNNAH MENYURUH YANG MA’RUF DAN MENCEGAH YANG MUNKAR MENURUT KETENTUAN SYARI’AT</strong></p>
<p>Oleh<br>Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas <strong>حَفِظَهُ الله تَعَالَى</strong></p>
<p>Definisi ma’ruf menurut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu suatu nama yang mencakup apa-apa yang dicintai Allah dari iman dan amal shalih. Adapun munkar yaitu, suatu nama yang mencakup bagi setiap apa-apa yang tidak disukai Allah dan yang dilarang-Nya.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ</strong></p>
<p>“<em>Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar</em>.” [Ali ‘Imran/3: 110]</p>
<p><strong>وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</strong></p>
<p>“<em>Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung</em>.” [Ali ‘Imran/3: 104]<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْماَنِ.</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu lakukanlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.</em>”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>, dan pelakunya harus memenuhi ketentuan berikut ini:</p>
<p>1<strong>. Berilmu</strong><br>Firman-Nya:</p>
<p><strong>قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</strong></p>
<p>“<em>Katakanlah: ‘Ini jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.</em>” [Yusuf/12: 108]</p>
<p>2<strong>. Lemah Lembut</strong><br>Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ.</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya adanya kelemahlembutan pada sesuatu, pasti akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (kelemah-lembutan), melainkan akan mencemarkan sesuatu itu.</em>”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>3<strong>. Sabar</strong><br>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p><strong>يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ</strong></p>
<p>“<em>Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.</em>” [Luqman/31: 17]</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p><strong>وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا</strong></p>
<p>“<em>Sabarlah kamu dari apa-apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.</em>” [Al-Muzammi/73: 10]</p>
<p>4<strong>. Ada Kemampuan dan Kekuasaan</strong><a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>5<strong>. Harus Ikhlas Semata-mata Karena Allah</strong></p>
<p>Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah amal yang wajib, paling utama, dan paling baik.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p><strong>Keutamaan amar ma’ruf dan nahi munkar sangat banyak, di antaranya</strong>:</p>
<ol>
<li>Merupakan tugas para Nabi dan Rasul, <strong>صلوات الله وسلامه عليهم</strong>.</li>
<li>Kewajiban dalam Islam yang paling penting.</li>
<li>Keutamaan ummat ini di antara ummat-ummat yang lain dengan sebab amar ma’ruf nahi munkar<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>.</li>
<li>Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan sebab mendapatkan pertolongan Allah, kemuliaan dan kejayaan.<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a>
</li>
<li>Masyarakat akan menjadi baik dan mulia dengan adanya amar ma’ruf nahi munkar dan mereka akan binasa, rusak dan hina dengan sebab meninggalkan kewajiban ini.</li>
<li>Amar ma’ruf nahi munkar adalah tanda dari tanda-tanda keimanan dan merupakan hak Muslim atas saudaranya.<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a>
</li>
<li>Amar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah dan ganjarannya besar.<br>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>…وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ…</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;">“…<em>Menyuruh yang ma’ruf adalah shadaqah, dan mencegah yang munkar adalah shadaqah</em>…”<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<ol start="8">
<li>Apabila amar ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan, maka do’a pun tidak dikabulkan.<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a>
</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ</strong>.</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian bersunguh-sungguh menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, atau Allah akan menimpakan siksaan kepada kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan do’a kalian</em>.</p>
<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]<br>_______<br>Footnote<br><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat Iqtidhaa’ush Shiraatil Mustaqiim (hal. 106) ta’liq Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. VI/Daarul ‘Ashimah, th. 1419 H<br><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat juga dalam al-Qur’an surat At-Taubah/9: 71 dan al- A‘raaf/7: 157<br><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> HR. Muslim (no. 49 (78)), Ahmad (III/10), Abu Dawud (no. 1140, 4340), at-Tirmidzi (no. 2172), an-Nasa-i (VIII/111-112) dan Ibnu Majah (no. 4013), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyalallahu anhu<br><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Majmuu’ Fataawaa (XXVIII/134) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah HR. Muslim (no. 2594 (78)), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma<br><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Lihat adh-Dhawaabitul Amr bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar ‘inda Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (hal. 35) oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cet. I, th. 1414 H<br><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Lihat Majmuu’ Fataawaa (XXVIII/134) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<br><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Lihat al-Qur’an surat Ali ‘Imran/3: 110<br><a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Lihat al-Qur’an surat Al-Hajj/22: 40-41<br><a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Lihat al-Qur’an surat At-Taubah/9: 71 dan 112<br><a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> HR. Muslim (no. 720 (84)), dari Sahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu.<br><a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Lihat al-Ma’aashi wa Atsaaruha ‘alal Fardi wal Mujtama’ (hal. 270-276) oleh Hamd bin Muhammad Hamd al-Muslih, Maktabah adh-Dhiya’, th. 1414 H.<br><a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> HR. At-Tirmidzi (no. 2169), dari Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu. Hadits ini memiliki dua syahid dari Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, yang diriwayat-kan oleh Imam ath-Thabrani dalam Mu’jamul Aushath, hadits ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi</p>


<p></p>
 