
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menunjuki jalan pada   bersihnya hati. Sungguh beruntung orang yang mau mensucikan hatinya.   Sungguh merugi orang yang mengotori hatinya. Shalawat dan salam kepada   Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain, sedangkan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> besar yang ada di depan mata tidak   diperhatikan. Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> saudaranya padahal ia tidak suka dibicarakan. Jika  dibanding-bandingkan  diri kita dan orang yang digunjing, boleh jadi dia  lebih mulia di sisi  Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan  dengan hal yang  sia-sia. Semut di seberang lautan seakan nampak, namun  gajah di pelupuk  mata seakan-akan tak nampak, artinya aib yang ada di  diri kita sendiri  jarang kita perhatikan.</p>
<p><strong>‘Aibmu Sendiri yang Lebih Seharusnya Engkau Perhatikan</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه</p>
<p>“<em>Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya</em>.” [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak, pen].<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Wejangan Abu Hurairah ini amat bagus. Yang seharusnya kita pikirkan   adalah <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita   bercapek-capek memikirkan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain, atau bahkan menceritakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> saudara kita di hadapan orang lain. <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>Aib</strong></a> kita, kitalah yang lebih  tahu.  Adapun <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk  hati  mereka.</p>
<p><strong>Anggap Diri Kita Lebih Rendah Dari Orang Lain</strong></p>
<p>‘Abdullah Al Muzani mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إن عرض لك  إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر  منك فقل قد  سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر  منك فقل قد  سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك  لا ترى  أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.</p>
<p>“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari   muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua   darimu, maka seharusnya engkau katakan, “<strong><em>Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku</em></strong>.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “<strong><em>Aku   telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas   mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik   dariku</em></strong>.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Mengapa Sibuk Membicarakan </strong><a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>Aib</strong></a><strong> Orang Lain?</strong></p>
<p>Jika kita memperhatikan nasehat-nasehat di atas, maka sungguh kita   pasti tak akan ingin menggunjing orang lain karena <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> kita sendiri   terlalu banyak. Itulah yang kita tahu.</p>
<p>Menceritakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan <strong><em>ghibah</em></strong>.   Karena ghibah artinya membicarakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain sedangkan ia tidak   ada di saat pembicaraan. <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>Aib</strong></a> yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka   diketahui oleh orang lain.</p>
<p>Keterangan tentang ghibah dijelaskan dalam hadits berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ أَبِى  هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «   أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.   قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ   فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ   اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah bertanya, “<em>Tahukah kamu, apa itu ghibah?</em>” Para sahabat menjawab, “<em>Allah dan Rasul-Nya lebih tahu</em>.” Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<strong><em>Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai</em></strong>.” Seseorang bertanya, “<em>Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?</em>” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, “<em>Apabila   benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu   telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan   itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh   tanpa bukti)</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn3">[3]</a> Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama dua keharaman. Namun   untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan   dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi   <em>rahimahullah. </em>Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengadu      tindak kezholiman kepada penguasa atau pada pihak yang   berwenang. Semisal      mengatakan, “Si Ahmad telah menzholimiku.”</li>
<li>Meminta      tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar   dan untuk membuat orang      yang berbuat mungkar tersebut kembali pada   jalan yang benar. Semisal      meminta pada orang yang mampu   menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat      telah melakukan   tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar      lepas dari   tindakannya.”</li>
<li>Meminta      fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya   mufti, “Saudara kandungku      telah menzholimiku demikian dan demikian.   Bagaimana caranya aku lepas dari      kezholiman yang ia lakukan.”</li>
<li>Mengingatkan      kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan      seorang perowi hadits.</li>
<li>Membicarakan      orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan   bid’ah terhadap maksiat      atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada   masalah lainnya.</li>
<li>Menyebut      orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf   dengannya seperti      menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang   bagus, itu lebih baik.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn4">[4]</a>
</li>
</ol>
<p>Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا  الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ  إِنَّ بَعْضَ  الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ  بَعْضُكُمْ بَعْضًا  أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ  مَيْتًا  فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ  رَحِيمٌ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka,   karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari   keburukan orang. <strong>Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah   seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah   mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya</strong>. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. Al Hujurat: 12)</p>
<p>Kata Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em>, “Ghibah diharamkan  berdasarkan  ijma’ (kesepakatan para ulama). Dan tidak ada pengecualian  dalam hal  ini kecuali jika benar-benar jelas maslahatnya.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Allah Ta’ala   memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai   seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak tahu siapa yang memakan   dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui   siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> kembali menjelaskan, “Dalam ayat  di  atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana   dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu   pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan   agar seseorang menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa   ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang   yang melakukan ghibah.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Jika kita sudah tahu demikian tercelanya membicarakan <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> saudara   kita –tanpa ada maslahat-, maka sudah semestinya kita menjauhkan diri   dari perbuatan tersebut. <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>Aib</strong></a> kita sebenarnya lebih banyak karena itulah   yang kita ketahui. Dibanding <a title="Pengusaha Muslim" href="baca/artikel/960/aib-anda-atau-orang-lain" target="_blank"><strong>aib</strong></a> orang lain, sungguh kita tidak   mengetahui seluk beluk dirinya.</p>
<p>Nasehat ini adalah nasehat untuk diri sendiri karena asalnya nasehat   adalah memang demikian. Ya Allah, tunjukkanlah pada kami jalan untuk   selalu memperbaiki jiwa ini. <em>Amin Yaa Samii’um Mujiib</em>.</p>
<p>Sore hari menjelang berbuka, 5 Ramadhan 1431 H (15 Agustus 2010)</p>
<p>Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="PengusahaMuslim.Com" href="http://PengusahaMuslim.Com" target="_blank">PengusahaMuslim.Com</a></p>
<p> </p>
<hr>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Adabul Mufrod</em> no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Hilyatul Awliya’</em>, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref3">[3]</a> HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 16/124-125.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim,</em> Ibnu Katsir, <em>Muassasah Qurthubah,</em> 13/160.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref6">[6]</a> Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali, Asy Syaukani, <em>Mawqi’ At Tafasir</em>, 7/17.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3162-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html#_ftnref7">[7]</a> Idem.</p>
 