
<p>Mukmin yang istimewa adalah sosok yang hidupnya selalu terobsesi untuk meraih kebahagiaan akhirat. Saat rezeki melimpah dia tetap konsekuen dalam jalur taqwa dan dikala diuji dengan berbagai kesulitan hidup imannya tetap membara untuk mencari kebahagiaan hakiki. Kondisi dunia dengan segala perhiasan indahnya tak menggoyahkan kekuatan imannya untuk selalu memprioritaskan akhiratnya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.</p>
<p>“<em>Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya”</em> (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam <em>Ash Shahihah</em> no. 950).</p>
<p>Kecintaan pada dunia hendaknya tetap dalam level biasa yang tak ternoda dengan berbagai perilaku, ucapan, sikap yang membuat berpaling dari misi hidup sesungguhnya yakni terminal akhirat. Dia mensikapi dunia dengan bijak dan lebih percaya dengan apa-apa yang ada di sisi Allah <em>Ta’ala</em>. Rasa keimanannya serta kehebatan tawakalnyalah yang membuatnya selalu membutuhkan Allah <em>Ta’ala</em> dalam segala situasi dan tempat. Ibnu Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Semakin cinta manusia terhadap dunia semakin malas dari ketaatan dan amal akhirat sesuai dengan kadarnya.” (<em>Al-Fawa’id</em> hal. 180).</p>
<p>Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata: “Sesungguhnya diantara lemahnya imanmu engkau lebih percaya kepada harta ditanganmu daripada apa yang ada di sisi Allah.” (<em>Jamiul ‘Ulum Wal Hikam</em>, 2/147)</p>
<p>Dia tak merasa hasad dengan apa yang Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada manusia, mereka merasa cukup dan menerima segala karunia Allah <em>Ta’ala</em>. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">وأعلَمْ اَنَّ شَرَفَ المُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِالَيلِعِزَهُ إِسْتِغنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ</p>
<p>“<em>Ketahuilah, bahwa kemuliaan seorang mukmin pada shalat malamnya, sedang kemuliaannya ada pada tidak butuhnya ia kepada (apa yang dimiliki) manusia</em>.” (HR. Al-Hakim 4/324, dishahihkan Al Albani dalam <em>Ash-Shahihah</em> [831])</p>
<p>Mukmin yang dicintai Allah <em>Ta’ala</em> selalu meyakini apa yang ditakdirkan Allah <em>Ta’ala</em> adalah yang terbaik. Ketika kita mencari akhirat niscaya dunia akan mendatangi. Inilah buah ketakwaan yang selalu menjadikan akhirat sebagai target hidupnya.</p>
<p>Mukmin cerdas tidak menggantungkan harapan yang berlebihan pada dunia dengan segala isinya, bahkan semakin hebat badai dunia menggilas, semakin tegar keterikatannya pada Allah <em>Ta’ala</em>. Ini terwujud dalam lentera keimanannya karena dia tahu kehebatan dunia bagai fatamorgana dan betapa berharganya kehidupan akhirat. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wa sallam</em> ditanya:</p>
<p style="text-align: right;">يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ</p>
<p>“<em>Wahai Rasulullah, orang Mu’min mana yang paling utama? Nabi menjawab: ‘yang paling baik akhlaknya’. Orang Anshar bertanya lagi: lalu orang Mu’min mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: ‘yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas</em>” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al Albani dalam <em>Shahih Ibni Majah</em>).</p>
<p>Keyakinan yang kuat inilah yang memotivasi imannya untuk selalu berupaya memantaskan diri menjadi mukmin yang menjaga adabnya kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Mukmin yang menjadikan akhirat di hati, percaya akan beruntung karena ia bergantung hanya pada Allah <em>Ta’ala</em> dan ridha dengan takdir Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Sebagian salaf berkata, “Bersikap ridhalah kepada Allah pada segala sesuatu yang Dia lakukan padamu, karena tidaklah Dia menahanmu kecuali untuk memberimu, tidaklah Dia mengujimu kecuali untuk menyelamatkanmu, tidaklah Dia yang membuatmu sakit kecuali agar menyembuhkanmu, Dan tidaklah Dia mewafatkanmu kecuali agar menghidupkanmu. Jangan sampai kamu terpisah dari ridha kepadaNya sekejap matapun, yang bisa membuatmu jatuh di mataNya.” (<em>Madarijus Shalihin</em> 2/216)</p>
<p>Orang yang menggantungkan dirinya kepada Allah <em>Ta’ala</em> maka Allah akan mengabulkan permintaannya, menjaganya, dan mencintainya. Al-Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Demi Allah, Andaikan Allah <em>Ta’ala</em> mengetahui bahwa engkau telah mengeluarkan (ketergantungan) kepada manusia dari kalbumu sehingga di dalam kalbumu tidak ada tempat lagi untuk selainNya, maka tidaklah engkau meminta sesuatu kepada Allah melainkan Dia pasti akan mengabulkan permintaanmu.” (<em>Shifatus Shafwah</em> 2/241)</p>
<p>Dan wanita shalihah yang mencintai akhirat tentunya akan bahagia ketika ia mampu menjadi mukminah yang selalu dalam ketaatan pada hukum-hukum Allah <em>Ta’ala</em>, meneladani Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wa sallam</em>, dan berdampingan dengan lelaki shalih. Sosok suami yang juga merindukan akhirat dan tidak terpedaya kenikmatan semu dunia. Lelaki yang hatinya dipenuhi obsesi akhirat akan selalu membersamai istrinya untuk selalu menjadikan akhirat sebagai prioritas hidupnya. Syaikh An-Najmi <em>hafizhahullah</em> berkata, “Seorang wanita tidak akan tenang dan tidak akan baik kehidupannya kecuali dengan suami yang shalih.” (<em>Taisirul Ahkam,</em> hlm. 4/176).</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik.</p>
<p>Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa</p>
<p>Referensi:</p>
<p>1. <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 2, THN XV, 1436</p>
<p>2. <em>Majalah As-Sunnah</em>, edisi 06/THN XX/1437H</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 