
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang belum dipahami oleh sebagian orang. Mereka merasa aneh dengan orang yang memakai cadar. Mungkin mereka belum tahu bahwa memakai cadar juga termasuk ajaran Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab (dianjurkan).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita dapat melihat dalam hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berikut, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepada para wanita,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Wanita yang berihrom itu tidak boleh </span></i><i><span style="font-weight: 400;">mengenakan niqob</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> maupun kaos tangan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari, An Nasa’i, Al Baihaqi, Ahmad dari Ibnu Umar secara </span><i><span style="font-weight: 400;">marfu’</span></i><span style="font-weight: 400;"> –yaitu sampai kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">-). Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika menafsirkan surat An Nur ayat 59 berkata, ”Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">mereka itu menutup wajah</span><span style="font-weight: 400;"> dan kedua tangan mereka.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai bukti lainnya juga, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">Ummahatul Mukminin</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Ibunda orang mukmin yaitu istri-istri Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">) biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Kami biasa </span></i><i><span style="font-weight: 400;">menutupi wajah kami</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah kami menyisir rambut.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Hakim. Dikatakan oleh Al Hakim : hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi)</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Dari Shafiyah binti Syaibah, dia berkata, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Saya pernah melihat Aisyah melakukan thowaf mengelilingi ka’bah dengan memakai cadar</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Ibnu Sa’ad dan Abdur Rozaq. Semua periwayat hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">tsiqoh</span></i><span style="font-weight: 400;">/terpercaya kecuali Ibnu Juraij yang sering mentadlis dan dia meriwayatkan hadits ini dengan lafazh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘an</span></i><span style="font-weight: 400;">/dari)</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Ibnu Sa’ad)</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga hal ini dipraktekan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, ”Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ’Semoga Allah merahmati engkau. …’ “ (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan istri-istri beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun mengenakannya bahkan hal ini juga dilakukan oleh wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Lihat penjelasan ini di kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, 104-109, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Edisi terjemahan ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Jilbab Wanita Muslimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Media Hidayah’)</span></p>
<h2><b>Lalu bagaimana hukum menutup wajah itu sendiri? Apakah wajib atau mustahab (dianjurkan)?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut kami akan sedikit menyinggung mengenai hal tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka</span></i><i><span style="font-weight: 400;">“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya</span></i><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari tafsiran yang shohih ini terlihat bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dianjurkan).</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/1634-ulama-besar-syafiiyah-bicara-hukum-cadar.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ulama Besar Syafi’iyah Bicara Hukum Cadar</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/2777-cadar-dalam-kitab-syafiiyah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cadar dalam Kitab Syafi’iyah</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<p><b>Rujukan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, </span></i><span style="font-weight: 400;">Amr Abdul Mun’im Salim, hal. 14</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, edisi terjemahan ‘Jilbab Wanita Muslimah’</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel https://rumaysho.com</strong></p>
 