
<p><em>Al Fa’lu</em> adalah berangan-angan dan merasa optimis terhadap kebaikan. <em>Al Fa’lu</em> adalah lawan dari <em>tathayyur</em> atau <em>thiyarah</em> yaitu beranggapan sial terhadap sesuatu, sering disebut masyarakat kita dengan <em>tahayul</em>.</p>
<p>Contoh <em>thiyarah</em> adalah mengatakan:</p>
<p>“<em>burung gagak itu terbang ke kiri, berarti kalau kita lewat jalan yang sebelah kiri akan sial</em>”</p>
<p>“<em>jangan berdiri di pintu, nanti kamu sulit jodoh</em>“.</p>
<p>Ini adalah thiyarah dan ini terlarang dalam Islam. Nabi <em>Shallallahu’alahi wasallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الطيرة شرك، الطيرة شرك، وما منا إلا، ولكن الله يذهبه بالتوكل</p>
<p>“<em>thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, dan tidaklah itu muncul dari diri kita kecuali dalam benak saja, namun Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal</em>” (HR. Abu Daud no. 3850, At Tirmidzi no. 1614, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Abu Daud</em>).</p>
<p>Adapun <em>al fa’lu</em> adalah kebalikan dari itu, seperti mengatakan:</p>
<p>“<em>wah, alhamdulillah datang teman kita si Sahl (artinya mudah), insya Allah urusan kita akan mudah</em>“.</p>
<p>“<em>bayi saya senang dan tertawa kalau digendong pak guru, nampaknya dia akan menjadi anak pandai</em>“.</p>
<p>Ini adalah <em>al fa’lu</em> dan ini dibolehkan dalam Islam. Nah, apa saja yang termasuk <em>al fa’lu</em>? Silakan simak penjelasan berikut ini.</p>
<p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Wahai Syaikh, semoga Allah senantiasa menjaga anda, apakah perkataan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;">يُعْجِبُني كذا</p>
<p>“<em>hal ini membuatku takjub</em>”</p>
<p>itu merupakan sifat yang manusiawi ataukah menunjukkan suatu hukum syar’i? Semisal sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:</p>
<p style="text-align: right;">لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الفَأْلُ</p>
<p>“<em>tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, dan al fa’lu membuatku kagum</em>” (HR. Bukhari – Muslim)[1].</p>
<p>Dan juga pada hadits <em>al fa’lu</em> ini disebutkan الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ dua kata yang <em>ma’rifah </em>(istilah dalam ilmu nahwu), yang menunjukkan pembatasan. Maka apakah kita katakan bahwa <em>al fa’lu</em> yang dibolehkan hanya <em>kalimat thayyibah</em> (kalimat-kalimat yang baik) saja ataukah juga mencakup yang lainnya? Semoga Allah memberkahi anda.</p>
<p><strong>Syaikh Muhammad Ali Farkus menjawab:</strong></p>
<p style="text-align: right;">الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:</p>
<p>Makna dari يُعْجِبني (membuatku takjub) adalah: “<em>al fa’lu</em> membuatku kagum karena <em>al fa’lu</em> adalah mengangan-angankan kebaikan”. Dan mengangan-angankan kebaikan itu dianjurkan. Karena tathayyur itu merupakan bentuk prasangka buruk kepada Allah, sedangkan <em>al fa’lu</em> adalah prasangka baik kepada Allah. Dan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam hal ini menjelaskan perkara yang sudah menjadi tabiat manusiawi, dan menunjukkan kecintaan beliau kepada fitrah manusia yang ia sesuai dengan tabiat manusiawi tersebut. Sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim[2] <em>rahimahullah</em> bahwa kecintaan beliau ini sebagaimana kecintaan beliau terhadap manisan dan madu[3]. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ</p>
<p>“<em>Aku ditakdirkan untuk memiliki kecintaan pada beberapa perkara dari dunia kalian…</em>”</p>
<p>Dan disebutkan oleh beliau diantaranya wanita dan minyak wangi[4], dan beliau juga menyukai suara yang bagus dalam membaca Al Qur’an dan adzan, Singkatnya, beliau menyukai semua kesempurnaan dan kebaikan serta segala hal yang mengantarkan kepada keduanya.</p>
<p>Demikian. Dan bentuk khabar yang bisa dimaknai sebagai <em>hashr</em> (pembatasan), yang disebutkan para ulama ushul fiqih dengan istilah <em>ta’riful juz’ain</em> (dua hal yang <em>ma’rifah</em>) adalah sebagaimana hadits:</p>
<p style="text-align: right;">تَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ</p>
<p>“<em>shalat itu batas pengharamannya adalah takbir, dan batas penghalalannya adalah salam</em>“.</p>
<p>Dalam kasus ini, baru bisa diterapkan makna <em>hashr</em> (pembatasan). Mafhumnya, tidak mungkin seseorang dikatakan memulai shalat kecuali dengan melakukan takbir dan tidak dikatakan selesai shalat kecuali dengan salam. Ini adalah adalah madzhabnya jumhur, pendapat yang berbeda hanya dari Hanafiyah dan Zhahiriyah.</p>
<p>Maka kaidahnya: konteks <em>khabar</em> yang seperti demikian bisa dimaknai dengan <em>hashr</em> (pembatasan) selama tidak ada dalil yang menggugurkan pembatasan tersebut. Jika ada dalil maka, maka dimaknai sesuai dalil.</p>
<p>Dan zahir hadits di atas (hadits tentang <em>al fa’lu</em>) adalah bermakna umum dan luas cakupannya mencakup semua kalimat yang merupakan jalan kebaikan. Maka <em>al fa’lu</em> tidak terbatas pada <em>kalimat thayyibah</em> saja namun juga mencakup semua hal yang membuat dada lapang dan mengangankan kebaikan. Baik itu berupa <em>kalimat thayibah</em>, atau (merasa optimis) karena nama yang baik, atau (merasa optimis) karena keberadaan orang yang shalih, atau (merasa optimis) karena lewat di tempat yang baik, ini semua termasuk dalam prasangka baik kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Oleh karena itulah mengapa Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menyukai <em>al fa’lu</em>, yaitu karena ia merupakan bentuk prasangka baik kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Dan poin lain yang menunjukkan bahwa <em>al fa’lu</em> tidak terbatas pada kalimat thayyibah adalah peristiwa Suhail bin Amr dalam perjanjian Hudaibiyah. Ketika Suhail akan bergabung untuk berunding bersama Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, tatkala Rasulullah melihat Suhail datang beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">سُهِّلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ</p>
<p>“<em>Perkara kalian akan dimudahkan</em>”</p>
<p>Maka terjadilah sebagaimana yang diharapkan, yaitu dihasilkan kebaikan dengan kedatangan Suhail.</p>
<p style="text-align: right;">والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلَّم تسليمًا</p>
<p>***</p>
<p><strong>Catatan kaki</strong></p>
<p>[1] HR. Bukhari dalam kitab Ath Thib bab “laa ‘adwa” no. 5776, Muslim dalam kitab <em>As Salam</em> no. 2224, dari hadits Anas <em>radhiallahu’anhu</em></p>
<p>[2] <em>Miftah Daaris Sa’adah</em> (3/306), karya Ibnul Qayyim</p>
<p>[3] Lihat hadits yang dikeluarkan Al Bukhari dalam kitab Ath’imah bab “<em>Al halwa wal ‘asl</em>” no. 5431, Muslim dalam kitab <em>Ath Thalaq</em> no. 1474, dari hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu’anha</em></p>
<p>[4] HR. An Nasa’i dalam kitab <em>‘Asyaratun Nisa</em> bab “<em>Hubbun nisa</em>” no. 3939, Al Baihaqi (dan ini merupakan lafadznya) no. 13454, dari hadits Anas <em>radhiyallahu’anhu</em>. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jami’</em> no. 3124.</p>
<p>[5] HR. Abu Daud dalam kitab <em>Ath Thaharah</em> bab “<em>Fardhul wudhu</em>” no. 61, At Tirmidzi dalam kitab <em>Ath Thaharah</em> bab “<em>Maa ja’a anna miftahas shalah ath thuhur</em>” no. 3, Ibnu Majah dalam kitab Ath Thaharah bab “<em>Miftahus shalah ath thuhur</em>” no. 275, dari hadits Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu’anhu</em>. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jami</em> no. 5885.</p>
<p>[6] HR. Bukhari dalam kitab <em>Asy Syuruth</em> bab “<em>Asy Syarthu fil jihad wal mushalahah ma’a ahlil harbi wa kitabatis syuruth</em>” no. 2731, dari hadits Al Miswar bin Makhramah <em>radhiallahu’anhuma</em> dan Marwan bin Al Hakam.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.ferkous.com/home/?q=fatwa-206">http://www.ferkous.com/home/?q=fatwa-206</a></p>
<p>Penyusun: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 