
<p>Penulis: Ummu Salamah</p>
<p><em>Al</em> <em>Ghaslu</em> adalah meratakan air ke seluruh bagian badan.  Adapun menurut syariat adalah meratakan air yang suci ke seluruh bagian badan  dengan tata cara yang khusus. Dalil yang mendasari pensyariatannya adalah  firman Allah <em>Ta’ala</em>, “<em>Dan</em> <em>jika kamu junub maka mandilah</em>.”  (QS. Al Maidah: 6)</p>
<p><!--more--> Ada beberapa hal yang menjadikan <em>al</em> <em>Ghaslu</em> menjadi wajib,  antara lain:</p>
<ol>
<li>Apabila keluar mani disertai memancar  meski dalam keadaan tidur.</li>
<li>Bertemunya dua kemaluan (senggama),  meskipun tidak terjadi <em>inzal</em> (keluarnya air mani).</li>
<li>Ketika orang kafir masuk Islam.</li>
<li>Berhentinya darah haidh dan nifas.</li>
<li>Meninggal dunia bukan karena syahid di  medan perang.</li>
</ol>
<p>Adapun tata cara mandi wajib adalah berdasarkan hadist berikut ini, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, “<em>Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam, apabila hendak mandi karena janabah, beliau mencuci kedua tangannya  dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian menyela-nyela rambutnya  dengan kedua tangannya, sehingga ketika beliau telah menyangka (mengetahui)  bahwa beliau telah membasahi kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air sebanyak  3 kali. Kemudian beliau membasuh anggota tubuh yang lain</em>.” (HR. Bukhari  dalam <em>Al Ghusl </em> (285)).</p>
<p>Sedangkan dari hadist Maimunah binti Al Harist <em>radhiyallahu</em> ‘<em>anha</em>,  istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mengatakan, “<em>Aku meletakkan  air untuk mandi janabah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau  lantas menuangkan (air) dengan tangan kanannya pada tangan kirinya sebanyak 2  atau 3 kali. Beliau lalu membasuh kemaluannya. Beliau menepukkan tangannya pada  tanah atau tembok-sebanyak 2 atau 3 kali- beliau lantas berkumur-kumur,  memasukkan air ke dalam hidung, membasuh wajah dan kedua lengannya. Beliau  lantas mengguyur air di atas kepalanya, lantas membasuh anggota tubuh yang  lainnya. Beliau lalu menjauh dan mencuci kedua kakinya</em>.” Maimunah berkata,  “<em>Aku lantas mendatangi beliau dengan membawa kain, akan tetapi beliau tidak  menghendakinya. Beliau kemudian mulai mengusap air dengan kedua tangannya.</em>”  (HR. Bukhari dalam <em>Al Ghusl</em> (274)).</p>
<p>Dari dua hadist di atas, hadist kedua menjelaskan hadist pertama, akan  tetapi ada perbedaan antara dua hadist tersebut, yaitu mengenai membasuh kaki,  apakah di awal atau di akhir? Pendapat yang lebih kuat, <em>insya Allah</em>,  menyatakan boleh di awal atau di akhir. Sedangkan mengguyur air ke seluruh  tubuh wajibnya cuma sekali, pendapat ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyyah <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Kemudian apakah ada perbedaan antara mandi wajib karena haidh dan junub?  Wanita tidak wajib membuka pintalan rambutnya ketika mandi wajib, namun wajib  ketika mandi haidh.</p>
<p>Dalil yang mengatakan tidak wajibnya membuka pintalan rambut ketika mandi  junub adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,  beliau berkata, aku pernah bertanya, “<em>Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku  seorang wanita yang sangat baik mengepang rambutku. Lalu apakah aku melepasnya  untuk mandi janabah? Beliau menjawab, “Tidak usah, cukuplah bagimu menuangkan  air ke kepalamu tiga kali caukan, kemudian basahilah tubuhmu dengan air, maka  engkau telah bersuci</em>.” (HR. Muslim).</p>
<p>Imam at-Tirmidzi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Demikian inilah yang  dipahami para ulama. Yaitu bila seorang wanita mandi dari janabah, lalu tidak  melepas kepang rambutnya maka mandinya sah setelah menyiram air di atas kepalanya.”  Dan Ibnu Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan, “Hadist Ummu Salamah ini  menunjukkan bahwa wanita tidak wajib melepas kepang rambutnya untuk mandi  junub.”</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p>Majalah As Sunnah edisi 11/IX/1427/2006 M</p>
<p>Majalah As Sunnah edisi 11/X/1428/2007 M</p>
<p><em>Umdatul Ahkam</em>, Hadist Bukhari Muslim Pilihan (Syaikh Abdul Ghani Al  Maqdisi)</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 