
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kita ketahui bahwa tujuan utama penciptaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">semata</span><span lang="en-US">.</span> <span lang="en-US">Dan sangat penting untuk diketahui bahwa i</span><span lang="id-ID">badah yang kita lakukan akan </span><span lang="en-US">menjadi </span><span lang="id-ID">sia-sia apabila tercampur dengan kemusyrikan. Apabila </span><span lang="en-US">suatu </span><span lang="id-ID">ibadah bercampur dengan kemusyrikan, maka ibadah kita tidak akan diterima. Oleh karena itu, barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">di samping juga beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="en-US"><i>–</i></span><span lang="id-ID"><i>, </i></span><span lang="id-ID">maka ibadahnya kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">adalah ibadah yang batil. Karena </span><span lang="en-US">suatu </span><span lang="id-ID">ibadah tidaklah bermanfaat bagi pelakunya kecuali jika disertai dengan keikhlasan dan tauhid. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Az-Zumar [39]: 65)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Di dalam ayat yang lain, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-An’am [6]: 88) </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita tentang hal ini, Syaikh Muhammad </span><span lang="en-US">At-Tamimy </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">membuat suatu ilustrasi tentang kedudukan tauhid dan ikhlas dalam beribadah. Beliau </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">mengatakan,</span><span lang="id-ID"> ”</span><span lang="id-ID"><i>Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata, </i></span><sup><span lang="id-ID"><i>pen.</i></span></sup><span lang="id-ID"><i>). Sebagaimana shalat tidaklah disebut sebagai shalat kecuali dalam keadaan bersuci (thaharah). Apabila ibadah t</i></span><span lang="en-US"><i>ersebut</i></span><span lang="id-ID"><i> dimasuki syirik, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadats yang masuk dalam thaharah.” </i></span><span lang="id-ID">(</span><span lang="id-ID"><i>Syarh Al-Qowa’idul Arba’, </i></span><span lang="id-ID">hal. 14).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dari ilustrasi yang beliau sampaikan tersebut, jelaslah bahwa ibadah kita tidak akan diterima kecuali dengan tauhid. Hal itu</span><span lang="en-US"> sebagaimana</span><span lang="id-ID"> ibadah shalat dengan bersuci </span><span lang="id-ID"><i>(thaharah). </i></span><span lang="id-ID">Tauhid adalah syarat diterimanya ibadah, sebagaimana bersuci adalah syarat sah ibadah shalat. Sebagaimana shalat tidak sah jika tidak dalam kondisi suci, demikian pula ibadah kita tidak akan sah jika tidak disertai dengan tauhid, meskipun di dahinya terdapat tanda bekas sujud, berpuasa di siang hari, atau rajin shalat malam. Karena semua ibadah tersebut syaratnya adalah ikhlas dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Apabila terdapat satu saja dari ibadah tersebut yang dicampuri dengan kemusyrikan, maka seluruh ibadah yang pernah dia lakukan akan batal dan hilanglah pahalanya. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, di dalam banyak ayat Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">mengumpulkan antara perintah untuk beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">dengan perintah untuk menjauhi perbuatan syirik. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. An-Nisa’ [4]: 36)</span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">juga berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Ketika Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">melarang kita untuk berbuat syirik, maka hal itu menunjukkan bahwa Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">tidak ridha disekutukan dengan apa pun dalam ibadah kepada-Nya. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,’Aku tidaklah butuh adanya tandingan-tandingan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.’” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim no. 7666)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, apabila ada sekelompok masyarakat yang rajin shalat, rajin puasa, bersyahadat </span><span lang="id-ID"><i>laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah, </i></span><span lang="id-ID">dan berhaji ke </span><span lang="id-ID"><i>baitullah, </i></span><span lang="id-ID">namun di sisi lain mereka juga berdoa meminta kepada penghuni kubur, meminta kepada </span><span lang="en-US">“</span><span lang="id-ID">Wali Songo</span><span lang="en-US">”</span><span lang="id-ID"> yang sudah meninggal, maka semua ibadahnya itu sia-sia semata. Hal ini karena mereka menyekutukan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">mereka mengotori ibadah mereka dengan perbuatan syirik. Semua amalnya adalah amal yang batil, sampai dia bertaubat, mentauhidkan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">dalam ibadah, dan mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">semata. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">tidak akan pernah ridha dengan kemusyrikan, meskipun yang dijadikan sebagai sekutu itu adalah malaikat yang paling mulia –yaitu Jibril </span><span lang="id-ID"><i>‘alaihis salaam- </i></span><span lang="id-ID">atau </span><span lang="en-US">salah </span><span lang="id-ID">seorang </span><span lang="en-US">Nabi </span><span lang="id-ID">yang diutus, seperti Muhammad, ‘Isa, Nuh, Ibrahim, dan selainnya. Lalu, bagaimana lagi jika yang dijadikan sebagai sekutu itu adalah selain malaikat dan para nabi, seperti wali dan orang shalih yang kedudukannya tentu sangat jauh di bawah mereka? Tentu Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">lebih tidak ridha lagi dengan hal itu. Maka hal ini adalah bantahan atas anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa syirik itu baru disebut </span><span lang="en-US">sebagai </span><span lang="id-ID">syirik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah malaikat, nabi, atau orang shalih, maka hal itu bukan syirik. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Anggapan </span><span lang="en-US">semacam </span><span lang="id-ID">ini adalah anggapan yang tidak benar. Dan di antara dalil yang menunjukkan atas batilnya anggapan tersebut adalah firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-jin [72]: 18)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kata </span><span lang="id-ID"><i>“ahadan” </i></span><span lang="id-ID">dalam ayat di atas adalah </span><span lang="id-ID"><i>isim nakiroh </i></span><span lang="id-ID">(kata benda indefinitif) yang berada dalam konteks </span><span lang="id-ID"><i>nahi </i></span><span lang="id-ID">(larangan), yaitu kalimat </span><span lang="id-ID"><i>“Janganlah kamu menyembah”. </i></span><span lang="id-ID">Menurut kaidah ilmu ushul fiqh, hal ini mengandung makna yang bersifat umum, </span><span lang="en-US">mencakup seluruh jenis sekutu, </span><span lang="id-ID">tidak ada pengecualian di dalamnya sedikit pun. Maksudnya, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">melarang untuk menujukan ibadah kepada selain Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">siapa pun dia. Baik malaikat yang paling dekat dan paling mulia di sisi Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">seorang nabi, berhala, kubur, wali, orang shalih, baik orang tersebut masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Oleh karena itu, perbuatan syirik tetaplah disebut syirik meskipun yang disembah adalah seorang malaikat, nabi, atau wali dan orang shalih. Semoga Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">melindungi </span><span lang="en-US">dan menjauhkan </span><span lang="id-ID">kita dari perbuatan syirik.</span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Selesai disempurnakan menjelang isya, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 20 Jumadil Ula 1436</span></p>
<p lang="en-US" align="JUSTIFY">Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya.</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Penulis: </span><span lang="en-US"><b>M. Saifudin Hakim</b></span><b> </b></p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 