
<p>Apa saja amalan yang bisa kita lakukan di usia senja?</p>

<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Surah An-Nashr tanda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan wafat</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)</p>
<p>“<em>Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat</em>.” (QS. An Nashr: 1-3)</p>
<p>Ada sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku. Lantas Umar bertanya, “Bagaimana komentar kalian tentang ayat (yang artinya), “<em>Seandainya <a href="https://rumaysho.com/19344-faedah-surat-yasin-mencari-pertolongan-dari-selain-allah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">pertolongan Allah</a> dan kemenangan datang (1) dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (2) –hingga ahkir surat.</em> (QS. An Nashr: 1-3). Sebagian sahabat berkomentar (menafsirkan ayat tersebut), “Tentang ayat ini, setahu kami, kita diperintahkan agar <a href="https://rumaysho.com/18314-syarhus-sunnah-pujian-dan-syukur-kepada-allah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">memuji Allah</a> dan meminta ampunan kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.” Sebagian lagi berkomentar, “Kalau kami tidak tahu.” Atau bahkan tidak ada yang berkomentar sama sekali. Lantas Umar bertanya kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu menafsirkan ayat tadi? “Tidak”, jawabku. “Lalu bagaimana tafsiranmu?”, tanya Umar. Ibnu Abbas menjawab, “Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayatnya: “<strong>Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.</strong>” Kata Umar, “Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui.”” (HR. Bukhari, no. 4294)</p>
<p>Dalam<em> Riyadh Ash-Shalihin</em> ketika membawa bahasan ini, Imam Nawawi rahimahullah memberikan judul Bab “<strong><em>Bab 12. Anjuran untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia.</em></strong>”</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Inilah yang menjadi fase kehidupan hingga ajal menjemput</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</p>
<p>“<em>Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).</em>” (QS. Al-Mukmin: 67)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Menurunnya fungsi tubuh</strong></span></h2>
<p>Masa tua adalah fase terakhir yang dihadapi manusia. Dalam ayat tadi disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا</p>
<p><em>“kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua.”</em></p>
<p>Mengenai batasan usia tua, Imam Al-Qurthubi <em>rahimahullah</em> berkata, “<strong>Syaikh (orang yang tua) adalah orang yang telah melewati 40 tahun.</strong>”</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/16690-usiaku-sudah-40-tahun.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Usiaku Sudah 40 Tahun</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ</p>
<p>“<em>Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.</em>” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Saat fase ini mulai datang, kekuataan fisik sedikit demi sedikit menurun, ketajaman mata mulai berkurang sehingga dibutuhkan alat bantu untuk melihat, daya ingat menurun, dan kulit mengendur serta guratan-guratan tanda penuaan pun muncul. Rambut-rambut putih sedikit demi sedikit menghiasai kepalanya. Penyakit-penyakit degeneratif pun banyak muncul pada fase ini.</p>
<p>Dalam surah Yasin disebutkan pula,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ</p>
<p>“<em>Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka apakah mereka tidak memikirkannya?</em>” (QS. Yaasiin: 68)</p>
<p>Ayat di atas semakna dengan ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ</p>
<p>“<em>Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa</em>.” (QS. Ar-Ruum: 54)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Boleh minta panjang umur yang penting baik amalnya</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Abdullah bin Busr, ada seorang Arab Badui bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah manusia yang paling baik. Jawaban Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ</p>
<p>“<em>(Yang paling baik adalah) yang panjang umur dan baik pula amalnya</em>.” (HR. Tirmidzi, no. 2329; Ahmad, 4:190. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 18pt;">Jangan malah sudah di usia senja, pikirannya hanyalah harta</span></strong></h2>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ</p>
<p>“<em>Masih ada yang sudah berumur memiliki hati seperti anak muda yaitu mencintai dua hal: cinta berumur panjang (panjang angan-angan) dan cinta harta.</em>” (HR. Muslim, no. 1046)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ</p>
<p>“<em>Ada yang sudah tua dari usia, namun masih bernafsu seperti anak muda yaitu dalam dua hal: tamak pada harta dan terus panjang angan-angan (ingin terus hidup lama).</em>” (HR. Muslim, no. 1047)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Jangan malah makin tua, makin menjadi-jadi</strong></span></h2>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengingatkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ</p>
<p>“<em>Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka pada hari Kiamat, tidak membersihkan mereka, dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih: orang yang sudah tua tapi berzina, penguasa yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong</em>.” (HR. Muslim, no. 172)</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/3388-cinta-dunia-dan-takut-mati.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Cinta Dunia dan Takut Mati</a></span></span></strong></p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tambah usia harusnya bertambah semakin baik</strong></span></h2>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَا يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتُ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ. إِنَّهُ إِذَا مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ,  وَإِنَّهُ لَا يَزِيْدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا</p>
<p>“<em>Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Dan jangan pula berdoa agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang kepadanya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya dan bahwa tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah pada dirinya kecuali akan menambah kebaikan.</em>” (HR. Muslim, No. 2682)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bagaimana menghadapi usia tua?</strong></span></h2>
<p>Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em> (1:348) mengatakan, “Maka, seyogyanya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal saleh. Meskipun, para remaja juga seharusnya demikian, karena manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi, yang pasti, orang yang sudah berusia senja, ia lebih dekat kepada kematian, lantaran telah menghabiskan jatah usianya.”</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Amalan pada usia senja</strong></span></h2>
<ol>
<li>Lebih memerhatikan amalan-amalan wajib. Sebab, ibadah-ibadab yang bersifat wajib (fardhu) merupakan kewajiban yang bersifat individual yang harus ditegakkan sendiri-sendiri oleh setiap Muslim dan Muslimah hingga ajal datang. Selain itu, amal-amal wajib adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala</li>
<li>Menghindari hal-hal yang diharamkan oleh syariat.</li>
<li>Menambah amalan-amalan sunnah.</li>
<li>Banyak bertahmid, membaca istighfar, dan bertaubat.</li>
<li>Memperbanyak <a href="https://rumaysho.com/tag/amalan-ringan" target="_blank" rel="noopener noreferrer">amal-amal ringan</a>, tapi berpahala besar, seperti berdzikir dan membaca shalawat.</li>
<li>Rutin membaca dzikir pagi dan petang.</li>
<li>Tetap aktif dalam <a href="https://rumaysho.com/12368-ibnu-rajab-menuntut-ilmu-agama-jalan-singkat-menuju-surga.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">thalabul ilmi</a> (menghadiri majelis ilmu). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</li>
</ol>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun.</em>” (HR. Bukhari, no.641)</p>
<ol start="8">
<li>Rutin mempelajari Alquran dan mentadabburinya (merenungkannya) lewat bahasan ulama dalam kitab tafsir (yang tentu lebih mendalam dari sekadar Alquran terjemah).</li>
<li>Berpesan kepada anak-anak dan keturunan agar menjadi saleh dan salehah, gemar mendoakan orang tua baik saat masih hidup atau setelah meninggal, dan membantu mentalqin orang tua ketika akan meninggal.</li>
</ol>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Doa agar umur panjang dan penuh berkah</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;">Rajinlah berdo’a seperti ini,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“ALLAHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOITANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII</strong></p>
<p style="text-align: center;">(artinya: Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).”</p>
<p style="text-align: center;">(Diambil dari kumpulan doa dari Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani rahimahullah dan bisa dilihat pula di buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup, terbitan Rumaysho, pesan di WA <a href="https://wa.me/6285200171222" target="_blank" rel="noopener noreferrer">https://wa.me/6285200171222</a>)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga Allah beri taufik dan hidayah, moga usia kita terus penuh berkah.</em></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/12200-waktu-muda-yang-sia-sia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong>Waktu Muda yang Sia-Sia</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/14662-anak-durhaka-saat-orang-tua-stroke.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong>Anak Durhaka Saat Orang Tua Stroke</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 25 Rabiul Awwal 1441 H (22 November 2019)</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/11/Buletin-Umum-Amalan-di-Usia-Senja.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/11/Buletin-Umum-Amalan-di-Usia-Senja.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 