
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/04/Amalan-Shalih-Bagi-Orang-SIbuks.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/04/Amalan-Shalih-Bagi-Orang-SIbuks.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Sekarang kita akan melihat beberapa amalan ringan untuk orang sibuk namum tak kalah dari sisi pahala.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Amalan #01: Dua Rakaat Shalat Sunnah Wudhu</h3>
<p> </p>
<p>Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy <i>radhiyallahu ‘anhu</i>; ia berkata bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ</p>
<p><span class="Apple-converted-space"> </span>“<i>Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga</i>.” (HR. Muslim, no. 234)</p>
<p>Dari Utsman bin ‘Affan <i>radhiyallahu ‘anhu</i>; ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<i>Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaan dengan tidak mengucapkan pada dirinya, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu</i>.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <i>rahimahullah</i> mengatakan, “Dianjurkan shalat dua rakaat setelah berwudhu meskipun pada waktu yang dilarang, hal itu dikatakan oleh Syafi’iyyah.” (<i>Al-Fatawa Al-Kubra</i>, 5:345)</p>
<p>Zakariya Al-Anshari dalam kitab ‘<i>Asna Al-Mathalib</i> (1:44) mengatakan, “Dianjurkan bagi yang berwudhu, shalat dua rakaat setelah wudhu pada waktu kapan pun.”</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Amalan #02: Dua Rakaat Shalat Sunnah Fajar</h3>
<p> </p>
<p>Dari ‘Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha</i>;<i> </i>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</p>
<p>“<i>Dua raka’at fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya</i>.” (HR. Muslim, no. 725).<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Dalam lafal lain, ‘Aisyah <i>radhiyallahu ‘anha </i>berkata bahwa Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbit fajar shubuh,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا</p>
<p>“<i>Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya.</i>” (HR. Muslim, no. 725).</p>
<p>Hadits terakhir di atas juga menunjukkan bahwa shalat sunnah fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar shubuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah fajar dengan mereka maksudkan untuk dua raka’at ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah fajar dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Ini jelas keliru. Imam Nawawi <i>rahimahullah </i>mengatakan, “Shalat sunnah Shubuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Shubuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” (<i>Syarh Shahih Muslim</i>, 6:3)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Amalan #03: Shalat Berjamaah di Masjid bagi Pria</h3>
<p> </p>
<p>Dari Anas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> pada suatu malam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً</p>
<p>“<i>Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian</i>.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Amalan #04: Shalat Wanita di Rumah</h3>
<p> </p>
<p>Dari Ummu Salamah <i>radhiyallahu ‘anha</i>, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ</p>
<p>“<i>Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka</i>.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)</p>
<p>Istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> lantas menjawab,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى</p>
<p>“<i>Aku telah mengetahui hal itu bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya, beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Allah (meninggal dunia, pen.)</i>. (HR. Ahmad, 6:371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <i>hasan</i>)</p>
<p>Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjama’ah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutup aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar <i>radhiyallahu ‘anhuma</i> berkata, “Aku mendengar Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا</p>
<p>“<i>Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia</i>.” (HR. Muslim, no. 442)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Amalan #05: Memperbanyak Sujud (Memperbanyak Shalat Sunnah)</h3>
<p> </p>
<p>Ma’dan bin Abi Thalhah Al-Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban–bekas budak Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>–, lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Atau Ma’dan berkata, ‘Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah.’ Ketika ditanya, Tsauban malah diam.</p>
<p>Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً</p>
<p>‘<i>Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.’ Lalu Ma’dan berkata, ‘Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku</i>.’ (HR. Muslim, no. 488)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan keutamaan (<i>fadhilah</i>) memperbanyak shalat khususnya shalat sunnah. Itulah maksud memperbanyak sujud. Imam Nawawi <i>rahimahullah</i> berkata bahwa maksud memperbanyak sujud adalah memperbanyak sujud dalam shalat. (<i>Syarh Shahih Muslim</i>, 4:184)</p>
<p><i>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</i></p>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>@ <a href="http://darushsholihin.com" target="_blank" rel="noopener">Perpus Rumaysho</a>, 22 Rajab 1439 H, Sabtu sore</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 