
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya<a href="https://muslim.or.id/37206-amalku-buah-dari-ilmu-01.html"> <b>Amalku Buah dari Ilmu (Bag. 1)</b></a></em></p>
<p> </p>
<p><em>Bismillah</em>..</p>
<p>Amal, adalah tujuan dari kita belajar. Ilmu yang tak membuahkan amal, menunjukkan perjuangan menuntut ilmu yang dia lalui selama ini, gagal, tak berbuah. Kata pepatah,</p>
<p style="text-align: right;">ألعلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر</p>
<p>“<em>Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tanpa buah</em>.”</p>
<p> </p>
<p>Ada pesan menarik dari Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em>, saat menjelaskan hadis,</p>
<p style="text-align: right;">من يرد الله به خيرا يفقه في الدين</p>
<p>“Siapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, maka akan Allah pahamkan tentang agama.” [1]
</p>
<p>Kata beliau,</p>
<p style="text-align: right;">وهذا اذا أريد بالفقه العلم المستلزم للعمل وأما ان أريد به مجرد العلم فلا يدل على أن من فقه في الدين فقد أريد به خيرا</p>
<p>“Keutamaan ini dapat diraih ketika belajar ilmu kemudian membuahkan amal. Adapun jika belajar ilmu tujuannya sebatas mengilmui/wawasan (tidak diamalkan), yang seperti itu tidak menunjukkan orang yang mempelajari agama berarti diinginkan kebaikan padanya.” [2]
</p>
<p> </p>
<p>Jadi, ilmu itu sarana untuk sampai pada amal yang benar, bagaimana menghamba di hadapan Allah dengan benar. Bahasa ringkasnya, ilmu adalah sarana, sementara amal adalah tujuan.</p>
<p>Beramal tanpa ilmu, sesat seperti orang-orang Nasrani.</p>
<p>Berilmu tanpa amal dapat murka Allah, seperti orang-orang Yahudi.</p>
<p>Kalau kata Sufyan bin ‘Uyainah <em>rahimahullah</em>,</p>
<p style="text-align: right;">من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى</p>
<p>“Bila ada ulama kita yang rusak, maka ia serupa dengan kaum Yahudi. Ahli ibadah kita yang rusak, maka ia serupa dengan kaum Nasrani.”</p>
<p>Karena ulama yang berilmu tanpa amal, rusak, seperti kaum Yahudi. Orang yang rajin ibadah tanpa ilmu, juga rusak, seperti kaum Nasrani.</p>
<p>Seorang tak akan dapat mewujudkan penghambaan yang sempurna di hadapan Allah, kecuali dengan dua modal ini : <em>Ilmu yang manfaat dan amal sholih.</em></p>
<p>Sebagaimana disinggung dalam ayat,</p>
<p style="text-align: right;">هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ</p>
<p><em>“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) al-huda dan diinul haq.”</em> (QS. At Taubah: 33).</p>
<p><b><i>Al-Huda</i></b><b>,</b> kata para ulama tafsir, maknanya adalah <span style="text-decoration: underline;">ilmu yang manfaat</span>.</p>
<p>Sementara <b><i>diinul haq</i></b> maknanya adalah <span style="text-decoration: underline;">amal sholih</span>.</p>
<p>Jadi, pesan utama dari tulisan ini, ilmu adalah sarana dana amal adalah tujuannya.</p>
<p>Untuk memantapkan pesan ini kepada pembaca sekalian, mari simak beberapa point berikut. Inilah yang dikupas sampai akhir serial artikel ini.</p>
<p><b>Pertama : Kita akan ditanya tentang ilmu kita, sudahkah diamalkan?</b></p>
<p>Nabi shallallahualaihiwasallam mengabarkan, di hari kiamat kelak, kita akan ditanya tentang ilmu yang sudah diraih, untuk apa dan sudahkah diamalkan?</p>
<p>Sahabat Abu Barzah Al-Aslami meriwayatkan hadis dari Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><b><br>
</b><b>لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أربع : عن عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.</b></p>
<p>“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti, sampai ditanya tentang empat hal :</p>
<p>(1) tentang umurnya untuk apa dia gunakan,</p>
<p>(2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan ilmunya tersebut,</p>
<p>(3) tentang hartanya, dari mana harta tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan</p>
<p>(4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” [3]
</p>
<p>Mendengar pesan mulia ini, sahabat Abu Darda’ sampai pernah mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">انما أخشى يوم القيامة أن يناديني على رؤوس الخلائق فيقول : يا عويمر ! ماذا عملت فيما علمت؟</p>
<p>“Sungguh aku takut saat kiamat nanti aku dipanggil dihadapan manusia, lalu aku ditanya,”Uwaimir, apa yang sudah kamu amalkan dari ilmu yang kamu ketahui?””</p>
<p>Bisa anda renungkan, beliau adalah sahabat Nabi, hidup bersama Nabi dan berguru langsung kepada Nabi, pernah menghadiri perang di jalan Allah bersama Nabi. Namun, sedemikian besar rasa takut beliau bila-bila ilmu tak diamalkan.</p>
<p>Berbeda dengan sebagian orang sekarang, yang makin bangga saat menguasai banyak ilmu, namun sama sekali tak gelisah saat tak membuahkan amal.</p>
<p>Sungguh sangat indah nasehat Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em>,</p>
<p style="text-align: right;">ان المؤمن جمع بين احسان و مخافة, والمنافق جمع بين اساءة و أمل</p>
<p>“Orang-orang beriman itu mengumpulkan antara amal sholih dan rasa takut pada azab Allah. Sementara orang munafik itu mengumpulkan antara berbuat dosa dan angan-angan kosong.”</p>
<p>Senada dengan pernyataan seorang tabi’in Abdullah bin Abi Mulaikah <em>rahimahullah</em>,</p>
<p style="text-align: right;">أدركت أكثر من ثلاثين صحابيا كلهم يخاف النفاق على نفسه</p>
<p>“Saya sudah berjumpa dengan lebih dari tiga puluh sahabat. Semuanya khawatir kalau-kalau kemunafikan berada pada jiwa mereka.” [4]
</p>
<p>Saat kita merasa nyaman dengan ilmu yang tak membuahkan amal, hadirkan rasa khawatir itu? Adakah ketakutan kalau-kalau mengidap penyakitnya orang munafik, yang mengumpulkan antara dosa dan angan-angan kosong mendapat surga?</p>
<p>Bila iya… mari kita bertaubat, perbaiki hati dan berbuatlah, amalkanlah ilmumu.</p>
<p>Sangat menarik penjelasan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saat menjawab pertanyaan ibunda Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> tentang makna ayat,</p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang mendrmakan apa yang telah mereka berikan, disertai hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.</em>” (QS. Al-Mukminun: 60).</p>
<p>“Apakah yang dimaksud pada ayat ini adalah mereka yang suka minum khomr dan mencuri?” tanya Ibunda Aisyah.</p>
<p>لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ ! وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ )</p>
<p>“Bukan itu maksudnya wahai putri Abu Bakr As-Shiddiq. Maksudnya adalah mereka yang gemar puasa, sholat dan sedekah (rajin ibadah), namun mereka takut kalau-kalau ibadah mereka tidak diterima. Mereka itulah hamba-hamba Allah yang bergegas meraih kebaikan.” [5]
</p>
<p>Inilah karakter orang yang sehat imannya, dia dapat mempertemukan antara amal sholih dan rasa takut kepada Allah…</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita mukmin sejati, dan dijauhkan dari karakter kaum munafik.</p>
<p>Bersambung insyaallah…</p>
<p> </p>
<p>***</p>
<p>Merujuk pada : <i>Tsamaroh Al-Ilmi Al-Amal</i>, karya Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al-‘Abbad -hafidzohumallah-.</p>
<p> </p>
<p>Ditulis oleh : <a href="https://muslim.or.id/author/aanshori">Ahmad Anshori, Lc</a></p>
<p>Artikel : <a href="http://muslim.or.id">muslim.or.id</a></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
[1] HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037
[2] Miftah Dar As-Sa’adah 1/65
[3] HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “<em>As</em> <em>Shahiihah</em>” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.
[4] Lihat Shahih Bukhori 1/110
[5] HR. Tirmidzi
 