
<h2><span style="font-size: 21pt;">Hukum waris pada jaman jahiliyyah</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada<a href="https://muslim.or.id/22339-perilaku-jahiliyah-menganggap-para-ulama-itu-dangkal-pemahamannya.html"> jaman jahiliyyah,</a> wanita dan anak-anak kecil tidak boleh mendapatkan <a href="https://muslim.or.id/19033-harta-mayit-ke-mana-disalurkan.html">harta warisan.</a> Harta warisan hanya bagi laki-laki dewasa yang sudah mahir menunggang kuda dan memainkan senjata.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu datanglah syariat Islam yang menghapus dan membatalkan hukum jahiliyyah tersebut. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 7)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda 180 derajat dari ketentuan <a href="https://muslim.or.id/11590-maksud-jahiliyah.html">hukum jahiliyyah jaman dahulu</a> adalah hukum yang ditetapkan oleh orang-orang jaman sekarang. Yaitu mereka memberikan hak warisan bagi perempuan, namun dengan bagian yang sama dengan kaum lelaki. Dengan alasan kesetaraan gender, kesamaan hak asasi manusia, lalu mereka pun melampaui batas dengan melanggar ketentuan syariat dalam hukum waris.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29468-hartaku-untuk-surgaku.html" data-darkreader-inline-color="">Hartaku Untuk Surgaku</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, Allah Ta’ala dengan tegas menyatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian waris untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 11)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan,</span> <span style="font-weight: 400;">maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 176)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, ketentuan waris dalam Islam adalah sesuai dengan hak perempuan. Hak tersebut tidak dinihilkan sama sekali, sebagaimana hukum waris <a href="https://muslim.or.id/11590-maksud-jahiliyah.html">era jahiliyyah jaman dulu.</a> Namun, tidak juga diberikan dengan melampaui batas dengan disamakan haknya dengan kaum lelaki, sebagaimana hukum waris yang dianut orang-orang yang bodoh pada jaman ini.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27551-zakat-untuk-harta-yang-digadaikan.html" data-darkreader-inline-color="">Zakat Untuk Harta Yang Digadaikan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pembagian hukum waris dalam Islam itu didasarkan atas ilmu dan hikmah</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang melontarkan klaim-klaim dan tuduhan dusta terhadap<a href="https://muslim.or.id/46659-ilmu-waris-ilmu-yang-terlupakan.html"> hukum Allah yang berkaitan dengan masalah warisan.</a> Mereka menuduh bahwa hukum waris dalam Islam itu tidak adil, mengkebiri hak-hak kaum perempuan, bias gender, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau mereka mau membuka Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah memberikan isyarat bahwa hukum waris dalam Islam itu ditetapkan berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala yang mengetahui apa yang maslahat untuk umatnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini bisa kita renungkan ketika Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala tutup dengan firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ini adalah ketetapan dari Allah. </span><b>Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.”</b> <b>(QS. An-Nisa’ [4]: 11)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, terdapat faidah luar biasa ketika Allah menyebutkan dua sifat Allah yang mulia, setelah menyebutkan ketentuan hukum waris, yaitu sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">al-‘ilmu </span></i><span style="font-weight: 400;">(Maha mengetahui) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-hikmah </span></i><span style="font-weight: 400;">(Maha bijaksana).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, karena Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26660-fatwa-ulama-sahkah-haji-dan-muamalah-yang-menggunakan-harta-haram.html" data-darkreader-inline-color="">Sahkah Haji Dan Muamalah Yang Menggunakan Harta Haram?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ijtihad</span></i><span style="font-weight: 400;"> (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah</span> <span style="font-weight: 400;">Ta’ala, atau mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya hukumnya begini atau begitu”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah</span> <span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span> <span style="font-weight: 400;">Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. (Lihat </span><b><i>Al-Qawa’idul Hisaan, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 51-57) </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Allah Ta’ala mensifati bahwa hukum Allah itulah hukum yang paling baik. Dan Allah Ta’ala sifati hukum selain hukum Allah sebagai hukum jahiliyyah. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” </span><b>(QS. Al-Maidah [5]: 50)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, renungkanlah wahai para pencari kebenaran.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Ancaman terhadap orang-orang yang mengubah-ubah ketentuan warisan</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Melaksanakan ketentuan hukum waris sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang telah kami kutip sebelumnya, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><b>Ini adalah ketetapan dari Allah.</b><span style="font-weight: 400;"> Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 11)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 12)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, tidak boleh mengubah-ubah ketentuan dalam pembagian harta warisan dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ؛ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah batasan-batasan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26106-bolehkah-menjual-harta-wakaf.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Menjual Harta Wakaf?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 13-14)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy-Syaukani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ: تِلْكَ إِلَى الْأَحْكَامِ الْمُتَقَدِّمَةِ، وَسَمَّاهَا حُدُودًا: لِكَوْنِهَا لَا تَجُوزُ مُجَاوَزَتُهَا، وَلَا يَحِلُّ تَعَدِّيهَا وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فِي قِسْمَةِ الْمَوَارِيثِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ، كَمَا يُفِيدُهُ عُمُومُ اللَّفْظِ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Isyarat dalam firman Allah Ta’ala, </span><span style="font-weight: 400;">(</span><b>تِلْكَ</b><span style="font-weight: 400;">)</span> <span style="font-weight: 400;">merujuk kepada hukum-hukum di ayat sebelumnya (yaitu, yang berkaitan dengan hukum waris). Dan Allah Ta’ala menyebutnya sebagai “batasan”, karena tidak boleh dilampaui atau tidak boleh dilewati. “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-nya”, yaitu dalam pembagian harta waris dan aturan-aturan syariat lainnya -sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh cakupan makna ayat yang bersifat umum-, “niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai.” </span><b>(</b><b><i>Fathul Qaadir, </i></b><b>1: 501)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ فَرَّ مِنْ مِيرَاثِ وَارِثِهِ، قَطَعَ اللَّهُ مِيرَاثَهُ مِنَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang lari dengan membawa warisan ahli warisnya, Allah akan memutus warisannya dari surga pada hari kiamat.” </span><b>(HR. Ibnu Majah no. 2703) [1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang mengutak-atik pembagian waris sebagaimana yang telah ditentukan oleh syariat, sehingga dia mewariskan harta kepada orang yang seharusnya tidak berhak menerimanya; atau dia mencegah (menahan) pembagian sebagian atau seluruh harta waris kepada orang yang seharusnya berhak menerimanya; atau dia menyamakan antara laki-laki dan perempuan dalam pembagian harta waris, sebagaimana dijumpai dalam undang-undang sekuler buatan manusia yang bertentangan dengan hukum syariat bahwa bagian perempuan itu setengah dari bagian lelaki; maka orang tersebut telah kafir dan berhak berada di neraka selamanya, kecuali dia bertaubat kepada Allah Ta’ala sebelum meninggal dunia. (Lihat </span><b><i>Al-Mulakhkhas Fiqhiy</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 335)</span><b> [2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19033-harta-mayit-ke-mana-disalurkan.html" data-darkreader-inline-color="">Harta Mayit ke Mana Disalurkan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18625-bolehkah-anak-memanfaatkan-harta-orang-tua-dari-pekerjaan-haram.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Anak Memanfaatkan Harta Orang Tua dari Pekerjaan Haram?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> <span style="font-weight: 400;">Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Al-Albani.</span></p>
<p><b>[2]</b> <span style="font-weight: 400;">Hal ini tentunya jika syarat-syarat pengkafiran telah terpenuhi pada diri orang tersebut dan tidak ada penghalang kekafiran. Misalnya, dia telah mengetahui bagaimanakah hukum Allah Ta’ala terkait warisan, tapi dia ganti dengan hukum buatan sendiri, dan dia meyakini bolehnya hal itu (tidak ada rasa bersalah atau berdosa); atau dia meyakini bahwa sama saja antara hukum Allah dengan hukum dia; atau dia meyakini bahwa hukum dia itulah hukum yang lebih baik dan lebih bijaksana.</span></p>
 