
<p><em>Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Syekh Muhammad At-Tamimi <em>Rahimahullah</em> membuat bab tentang nadzar dalam <em>Kitab Tauhid </em>dengan judul:</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من الشرك النذر لغير الله</span></p>
<p>“Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allah”</p>
<p>Maksud syirik di sini adalah syirik besar. Mempersembahkan nadzar kepada selain Allah adalah syirik besar karena nadzar termasuk ke dalam ibadah.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Definisi nadzar</strong></span></h2>
<p>Definisi nadzar yaitu seseorang mengharuskan kepada dirinya sendiri sesuatu yang hukum asalnya tidak wajib baginya, baik secara <em>mutlaq</em> (tanpa syarat) maupun <em>muqoyyad</em> (bersyarat).</p>
<p>– Contoh nadzar <em>mutlaq</em> (tanpa syarat) misalnya, <em>“Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”</em></p>
<p>– Contoh nadzar <em>muqoyyad</em> (bersyarat) misalnya, <em>“Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.”</em></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Perbedaan antara ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzar</strong></span></h2>
<p><strong>Ibadah nadzar</strong> adalah ucapan seseorang ketika bernadzar. Misalnya, saya bernadzar menghatamkan Alquran untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.</p>
<p><strong>Ibadah penunaian nadzar</strong> dalam kasus di atas adalah menghatamkan Alquran ketika ia sembuh, dengan niat menunaikan nadzar tersebut.</p>
<p><strong>Ibadah nadzar,</strong> baik jenis <em>mutlaq</em> maupun <em>muqoyyad</em>, <strong>wajib dipersembahkan</strong> kepada Allah semata.</p>
<p>Demikian pula<strong> ibadah penunaian nadzar</strong>, baik jenis penunaian nadzar <em>mutlaq</em> maupun <em>muqoyyad</em>, <strong>wajib dipersembahkan</strong> kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Ibadah nadzar</strong> dan <strong>ibadah penunaian nadzar</strong> yang dipersembahkan kepada Allah semata merupakan ibadah tauhid. Sedangkan jika keduanya dipersembahkan kepada selain-Nya, merupakan ibadah syirik.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kapan nadzar dikatakan ibadah, makruh, ataupun syirik?</strong></span></h2>
<p><strong>Pertama,</strong> nadzar <em>mutlaq</em> yang bernilai ibadah tauhid adalah jika bernadzar untuk Allah semata.</p>
<p>Contoh: <em>“Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”</em></p>
<p>Sedangkan nadzar <em>mutlaq</em> yang termasuk syirik apabila bernadzar untuk mayyit, jin penunggu/penguasa pantai selatan, wali/kyai fulan yang sudah meninggal dunia, dan bentuk yang ditujukan kepada selain Allah, dalam rangka <em>taqarrub</em> (mendekatkan diri) kepada hal tersebut.</p>
<p>Contoh: <em>“Saya bernadzar menyembelih sapi untuk jin desa ini.”</em></p>
<p><strong>Kedua,</strong> penunaian nadzar <em>mutlaq</em> (tanpa syarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.</p>
<p>Adapun bentuk penunaian nadzar <em>mutlaq</em> untuk jin, malaikat, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya adalah syirik.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> penunaian nadzar <em>muqoyyad</em> (bersyarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.</p>
<p>Adapun bentuk penunaian nadzar <em>muqoyyad</em> untuk sunan fulan (<em>mayyit</em>), Ali bin Abi Tholib, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya, merupakan syirik.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> adapun untuk nadzar <em>muqoyyad</em>, maka <strong>hukumnya makruh, ditinjau dari sisi keyakinan dan pensyaratan</strong>, bukan ditinjau dari sisi asal ibadah nadzar.</p>
<p><strong>Namun jika ditinjau dari sisi asal ibadah</strong>, maka nadzar <em>muqoyyad</em> itu ibadah yang harus dipersembahkan untuk Allah semata. Adapun nadzar <em>muqoyyad</em> bentuk yang syirik adalah dipersembahkan untuk selain Allah.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat</strong></span></h2>
<p>Jika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat dapat ditinjau sebagai berikut:</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Berdasarkan tujuan</strong></span></h3>
<p>– Nadzar syirik adalah nadzar yang dipersembahkan untuk selain Allah. Tujuannya ber-<em>taqarrub</em> dan beribadah kepada selain Allah. Maka ini syirik besar.</p>
<p>– Nadzar maksiat adalah nadzar untuk Allah, namun isi nadzarnya maksiat.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><b>Berdasarkan lafaz</b></span></h3>
<p>– Contoh lafaz nadzar syirik misalnya, “<em>Saya bernadzar puasa untuk penghuni kubur ini.</em>”</p>
<p>– Contoh lafaz nadzar maksiat misalnya, “<em>Saya bernadzar kepada Allah akan pesta miras jika lulus ujian.</em>”</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><b>Berdasarkan keabsahan</b></span></h3>
<p>– Nadzar maksiat itu sah, tapi tidak boleh dilaksanakan. Pelakunya wajib bertaubat dan menebus <em>kaffarah</em>.</p>
<p>– Nadzar syirik besar itu tidak sah dan tidak ada kewajiban <em>kaffarah.</em> Hanya saja pelakunya murtad dan wajib taubat darinya.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Berdasarkan jenis dosanya</strong></span></h3>
<p>– Nadzar syirik adalah jenis dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu termasuk syirik besar.</p>
<p>– Nadzar maksiat adalah jenis dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu bukan termasuk syirik besar.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dalil-dalil tentang nadzar dan memenuhi nadzar</strong></span></h2>
<p>Syekh Muhammad At-Tamimi <em>Rahimahullah</em> membuat bab tentang nadzar dalam kitabnya <em>Kitab Tauhid</em>. Dalam bab tersebut menunjukkan bahwa nadzar dan memenuhi nadzar merupakan bentuk ibadah. Beliau menyebutkan 3 dalil dalam bab tersebut, yakni:</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/4229-nadzar-dalam-sorotan.html" data-darkreader-inline-color="">Nadzar dalam Sorotan</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Dalil pertama, QS. Al-Insan ayat 7 </strong></span></h3>
<p>Untuk memahami ayat ke-7 ini, perlu mengetahui sebagian ayat sebelumnya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur”</em> (QS. Al-Insan: 5).</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا</span></p>
<p><em>“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya”</em> (QS. Al-Insan: 6).</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا</span></p>
<p><em>“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana”</em> (QS. Al-Insan: 7).</p>
<p>Pada Al-Insan ayat 5 sampai dengan 7 menyebutkan pujian terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.</p>
<p>Pujian Allah kepada mereka salah satunya disebabkan karena mereka memenuhi nadzar. Hal ini menunjukkan memenuhi nadzar adalah ibadah. Wasilah (sarana) kepada suatu ibadah merupakan ibadah. Sehingga wasilah memenuhi nadzar juga termasuk ibadah. Sehingga seseorang telah melakukan kesyirikan apabila dia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah. Sedangkan seseorang dikatakan ibadah dan mentauhidkan Allah apabila dia bernadzar dan dipersembahkan untuk Allah semata.</p>
<p><strong>Kesimpulan: </strong>baik nadzar maupun memenuhi nadzar, maka keduanya adalah ibadah.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/57981-letak-pentingnya-tauhid-dan-keimanan.html" data-darkreader-inline-color="">Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Dalil kedua, QS. Al Baqarah ayat 270</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</span></p>
<p><em>“Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat zalim” </em>(QS. Al-Baqarah: 270).</p>
<p>Pada ayat ini Allah <em>Ta’ala</em> mengorelasikan antara nadzar dengan ilmu-Nya. Maksud dari ayat ini adalah Allah akan memberikan <em>jazaa’ </em>(pahala) yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang bernadzar karena Allah mengetahui nadzar hamba-Nya. Tidaklah sesuatu dijanjikan pahala bagi pelakunya, kecuali sesuatu itu termasuk ibadah. Dimana jika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.</p>
<p><strong>Kesimpulan: </strong>nadzar itu ibadah. Dikatakan tauhid jika seseorang bernadzar untuk Allah. Sedangkan dikatakan syirik apabila bernadzar untuk selain Allah.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Dalil ketiga, hadis Aisyah <em>Radhiyallahu ‘anha</em></strong></span></h3>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">«من نذر أن يطيع الله، فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله، فلا يعصه»</span></p>
<p>“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaatinya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepadanya” (HR. Bukhari).</p>
<p>Alasan pendalilannya ada dua, yaitu:</p>
<p>1. Jika nadzar tersebut berisikan ketaatan, maka statusnya disebutkan pelakunya mentaati Allah. Hal ini artinya nadzar adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.</p>
<p>2. Nadzar yang berisikan kemaksiatan tidak boleh dipenuhi (dan dalam fikih diwajibkan bagi orang yang bernadzar maksiat untuk menebus <em>kaffarah yamiin</em>/ sumpah). Hal ini menunjukkan asal perbuatan nadzar itu sah dengan bukti pelaku tersebut disuruh menebus sumpahnya.</p>
<p>Tidak boleh sebuah amal dalam syariat dikatakan sah kecuali dia merupakan ibadah. Sehingga dari sisi ini <strong>nadzar itu ibadah</strong>. Jika ia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/256-bernazar-untuk-selain-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Bernazar untuk Selain Allah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59697-menghukum-diri-karena-tertinggal-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Menghukum Diri Karena Tertinggal Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color=""> Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 