
<p>Apa itu khusyuk dalam shalat? Bagaimana kiat-kiat meraih khusyuk dalam shalat? Apa sih pentingnya khusyuk?</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;"><strong>بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat</strong></span></p>

<h2>Apa itu khusyuk?</h2>
<p>Imam Ibnu Hajar membawakan bahasan khusyuk dalam shalat. Di dalamnya berisi bahasan khusyuk dan pengaruhnya di dalam shalat. Khusyuk adalah ruh dan inti shalat. Hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam Ibnu Hajar nantinya adalah hadits larangan mengenai perbuatan yang melemahkan atau meniadakan khusyuk.</p>
<p>Khusyuk secara bahasa berarti tenang dan tunduk.</p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً</p>
<p>“<em>Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang</em>.” (QS. Fussilat: 39). Yang dimaksud <em>khasyi’atan</em> di sini adalah tunduk, tenang.</p>
<p>Khusyuk dalam shalat berarti hadirnya hati ketika menghadap Allah dan tenangnya anggota badan, juga perkataan dan perbuatan orang yang shalat ikut dihadirkan sejak awal hingga akhir shalat dengan penghadiran dalam rangka pengagungan, pendekatan diri hamba kepada Allah, dan bahwasanya ia sedang bermunajat kepada Allah.</p>
<p>Khusyuk ini bisa muncul ketika seseorang takut kepada Allah dan dekat dengan-Nya. Kedekatan dengan Allah ini dirasakan ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, mencintai-Nya, khasyah (rasa takut berdasarkan ilmu) kepada-Nya, mengikhlaskan ibadah kepada Allah, khauf (takut), raja’ (berharap), itulah yang menyebabkan seseorang makin khusyuk.</p>
<p>Khusyuk itu dihasilkan di dalam hati, lalu diikuti dengan khusyuk <em>jawarih</em> (anggota badan). Dari khusyuknya hati, barulah pendengaran, penglihatan, kepala, dan anggota badan lainnya ikut khusyuk, sampai <em>kalaam</em> (ucapan) ikut juga khusyuk. Namun, jika hati tidak khusyuk, yang dihasilkan adalah <em>ghaflah</em> (lalai, pikiran ke mana-mana), waswas (kegelisahan yang tidak berdasar), dan rusaklah khusyuk anggota badan.</p>
<p>Khusyuk inilah perkara terpenting dalam shalat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ , الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya</em>.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)</p>
<p>Khusyuk itu cepat sekali hilang, lebih-lebih lagi zaman ini. Dalam hadits Abu Ad-Darda’ <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أوَّلُ شَيءٍ يُرفعُ مِن هذِهِ الأمَّةِ الخُشوعُ حتَّى لا تَرى فيها خاشِعًا</p>
<p>“<em>Perkara yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyuk sampai tak terlihat orang yang khusyuk di dalam shalatnya</em>.” (HR. Ath-Thabrani, dengan sanad hasan. Lihat <em>Shahih At-Targhib wa At-Tarhib</em>, 1:288).</p>
<p>Shalat yang di dalamnya tidak ada khusyuk dan tidak menghadirkan hati, <strong>walaupun sah</strong>, tetapi besarnya pahala dilihat dari makin khusyuknya kita di dalam shalat. Dari ‘Ammar bin Yasir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها</p>
<p>“<em>Ada yang selesai dari shalatnya, tetapi ia hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.</em>” (HR. Abu Daud, no. 796; An-Nasai dalam Al-Kubra, 1:316; Ahmad, 31:189; Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 3:136-137. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’, 2:65, menyatakan bahwa hadits ini hasan).</p>
<p>Imam Nawawi dalam <em>Al-Majmu’</em> (2:314) menyatakan bahwa khusyuk dalam shalat dianjurkan. Hal ini disepakati oleh para ulama.</p>
<p>Hendaklah setiap muslim menghindari khusyuknya orang munafik. Sebagaimana kata Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata mengenai khusyuknya orang munafik adalah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنْ تَرَى الجَسَدَ خَاشِعاً وَالقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ</p>
<p>“Jasad terlihat khusyuk, tetapi hati tidaklah khusyuk.” (<em>Madarij As-Salikin</em>, hlm. 521)</p>
<p> </p>
<h2>Kiat untuk meraih khusyuk ada dua</h2>
<ol>
<li>Melakukan “<strong><em>quwwah al-muqtadha</em></strong>” (melakukan hal-hal yang menguatkan khusyuk), yaitu persiapan shalat, thumakninah di dalamnya, tartil membaca surah, tadabbur ayat, tadabbur pada bacaan-bacaan shalat, dan lebih-lebih ketika sujud.</li>
<li>Menghilangkan “<strong><em>da’fu asy-syaaghil</em></strong>” (menghilangkan hal-hal yang melemahkan khusyuk), yaitu gangguan-gangguan yang dapat menghilangkan kekhusyukan. Inilah yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam bahasan Bulughul Maram melalui hadits-hadits yang ada.</li>
</ol>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/28965-tsalatsatul-ushul-penjelasan-menarik-mengenai-doa-harap-takut-khusyuk-dan-tawakal.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Menarik Mengenai Doa, Harap, Takut, Khusyuk, dan Tawakal</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/21000-doa-agar-tidak-malas-disucikan-jiwa-diberi-hati-yang-khusyuk.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Doa Agar Tidak Malas, Disucikan Jiwa, Diberi Hati yang Khusyuk</strong></span></a></li>
</ul>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:429-431.</p>
<p>—</p>
<p>Rabu pagi, 1 Safar 1443 H, 8 September 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 