
<h2><strong>Tentang Mati Syahid</strong></h2>
<p><em>Mati syahid itu mati yang bagaimana?</em></p>
<p>Dari: Hebri</p>
<p>(Dikirim melalui <a title="Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone" href="https://itunes.apple.com/id/app/tanya-ustadz/id442094053?mt=8" target="_blank" rel="nofollow"><strong>Aplikasi Tanya Ustadz untuk Windows Phone</strong></a>)</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><a title="Syahid" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank"><strong>Syahid</strong></a> secara bahasa merupakan turunan dari kata sya-hi-da [arab: شهد] yang artinya bersaksi atau hadir. Saksi kejadian, artinya hadir dan ada di tempat kejadian.</p>
<p>Istilah ini umumnya digunakan untuk menyebut orang yang meninggal di medan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah.</p>
<p>Ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa mereka disebut syahid. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan sekitar 14 pendapat ulama tentang makna syahid. Berikut diantaranya,</p>
<ul>
<li>Karena <a title="orang yang mati syahid" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank">orang yang mati syahid</a> hakekatnya masih hidup, seolah ruhnya menyaksikan, artinya hadir. Ini merupakan pendapat An-Nadhr bin Syumail.</li>
<li>Karena Allah dan para malaikatnya bersaksi bahwa dia ahli surga. Ini merupakan pendapat Ibnul Anbari.</li>
<li>Karena ketika ruhnya keluar, dia menyaksikan bahwa dirinya akan mendapatkan pahala yang dijanjikan.</li>
<li>Karena disaksikan bahwa dirinya mendapat jaminan keamanan dari neraka.</li>
<li>Karena ketika meninggal tidak ada yang menyaksikannya kecuali malaikat penebar rahmat.</li>
</ul>
<p>Dan masih beberapa pendapat lainnya yang dirinci oleh ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari syarh Shahih Bukhari (6/42 – 43).</p>
<h3><strong>Hukum Khusus untuk Jenazah Mati Syahid</strong></h3>
<p>Ada 4 kewajiban kaum muslimin terhadap jenazah muslim yang lain: dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikubur.</p>
<p>Khusus untuk jenazah muslim yang <a title="mati shahid" href="https://konsultasisyariah.com/apa-itu-mati-syahid" target="_blank">mati syahid</a>, ada 2 hukum khusus:</p>
<p><strong>1. Tidak boleh dimandikan</strong></p>
<p>Jenazah ini dibiarkan sebagaimana kondisi dia meninggal, sehingga dia dimakamkan bersama darahnya yang keluar.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda terkait jenazaj korban perang Uhud:</p>
<p class="arab">لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“Jangan kalian mandikan mereka, karena setiap luka atau darah, akan mengelluarkan bau harum minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 14189 dan dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).</p>
<p>Dalam riwayat lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda ketika perang Uhud:</p>
<p class="arab">ادْفِنُوهُمْ فِي دِمَائِهِمْ</p>
<p>“Kuburkan mereka bersama darah mereka.” Jabir mengatakan: “Mereka tidak dimandikan.” (HR. Bukhari 1346)</p>
<p><strong>2. Boleh tidak dishalatkan</strong></p>
<p>Artinya, jenazah korban perang <em>fi sabilillah</em> tidak wajib dishalatkan, dan boleh juga dishalatkan.</p>
<p>Jenazah yang meninggal di perang Uhud, dimakamkan tanpa dishalatkan. Jabir mengatakan,</p>
<p class="arab">وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar memakamkan mereka bersama dengan darah mereka, tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. (HR. Bukhari 1343)</p>
<p>Sementara dalil bahwa mereka boleh dishalatkan, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menshalatkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman beliau yang meninggal ketika perang Uhud. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,</p>
<p class="arab">أنّ شهداء أُحد لم يغسّلوا، ودفنوا بدمائهم، ولم يُصَلَّ عليهم؛ غير حمزة</p>
<p>“Para syuhada perang Uhud tidak dimandikan, mereka dikuburkan bersama darahnya, tidak dishalatkan, selain Hamzah.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 2688).</p>
<h3><strong>Bukan Syahid tapi Mendapat Pahala Syahid</strong></h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan beberapa orang yang mati di selain medan jihad, namun beliau menggelarinya sebagai syahid.</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”</p>
<p>‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.</p>
<p>“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,</p>
<p class="arab">مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ</p>
<p><em>“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.”</em> (HR. Muslim 1915).</p>
<p>Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ</p>
<p><em>“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.”</em> (HR. Bukhari 2480).</p>
<p>Dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ</p>
<p><em>“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.”</em> (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<p>Mereka digelari oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai syahid, namun jenazahnya disikapi sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah.</p>
<p>Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,</p>
<p class="arab">فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين</p>
<p>“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).</p>
<h3><strong>Macam-Macam Syahid</strong></h3>
<p>Dari berbagai hadis yang menyebutkan tentang mati syahid, Al-Hafidz Al-Aini membagi syahid menjadi tiga macam. Beliau mengatakan dalam lanjutan penkelsannya,</p>
<p class="arab">وَفِي (التَّوْضِيح) : الشُّهَدَاء ثَلَاثَة أَقسَام: شَهِيد فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة، وَهُوَ الْمَقْتُول فِي حَرْب الْكفَّار بِسَبَب من الْأَسْبَاب، وشهيد فِي الْآخِرَة دون أَحْكَام الدُّنْيَا، وهم من ذكرُوا آنِفا. وشهيد فِي الدُّنْيَا دون الْآخِرَة، وَهُوَ من غل فِي الْغَنِيمَة وَمن قتل مُدبرا أَو مَا فِي مَعْنَاهُ.</p>
<p>Dalam kitab ‘At-Taudhih’ disebutkan: Orang yang mati syahid ada 3:</p>
<ul>
<li>Syahid dunia dan akhirat, merekalah orang yang terbunuh karena sebab apapun di medan perang melawan orang kafir.</li>
<li>Syahid akhirat, namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka adalah orang yang disebut syahid, namun mati di selain medan perang.</li>
<li>Syahid dunia, dan bukan akhirat. Dialah orang yang mati di medan jihad, sementara dia ghulul (mencuri ghanimah), atau terbunuh ketika lari dari medan perang, atau sebab lainnya.</li>
</ul>
<p>(Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).</p>
<p>Untuk orang yang berstatus syahid dunia, namun bukan akhirat, karena ketika dia mati, kaum muslimin menyikapinya sebagaimana orang yang mati di medan perang, jasadnya tidak dimandikan. Namun mengingat orang ini melakukan pelanggaran ketika jihad, dia tidak mendapatkan pahala mati syahid di akhirat.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi keluarga dan rubrik kesehatan" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<blockquote>
<p>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="dofollow"><strong>Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</strong></a>.</p>
<p>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</p>
<ul>
<li>SPONSOR hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>DONASI hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial</li>
<li>Keterangan lebih lengkap: <a title="peluang menjadi sponsor dan muhsinin" href="https://konsultasisyariah.com/peluang-meraih-dua-keuntungan-berlipat-ganda" target="_blank"><strong>Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur</strong></a>
</li>
</ul>
</blockquote>
 