
<p style="text-align: center;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong></p>
<p><strong>Soal :</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <i>“Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat , ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” </i>(QS. Al Baqarah : 30)</p>
<p>Apakah maknanya bahwa Allah telah menciptakan manusia sebelum Adam ‘<em>alaihissalam</em>? Apabila tidak, bagaimana malaikat bisa tahu bahwa manusia akan melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah? Dan apa maksud Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan khalifah di muka bumi? Khalifah untuk siapa?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah jalla <em>wa ‘alaa</em> menjadikan manusia yaitu Adam ‘<em>alaihisshalatu wassalam</em> sebagai <em>khalifah</em> (pengganti) di muka bumi, yaitu menggantikan mereka yang berbuat kerusakan dan tidak istiqamah (dalam mengerjakan perintah Allah Ta’ala –ed). Perkataan malaikat ini adalah dalil bahwa sudah ada kaum yang melakukan kerusakan di muka bumi, mereka masih menghuni bumi sehingga malaikat berkata sesuai apa yang sedang terjadi di muka bumi. Atau bisa juga kaum tersebut telah keluar dari bumi, dan malaikat menceritakan kelakuan mereka di muka bumi dahulu. Hingga kemudian Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> mengabarkan kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat. Bahwasanya khalifah yang menggantikan mereka akan berhukum di muka bumi dengan syari’at dan agama Allah, menyebarkan dakwah tauhid, mengikhlaskan peribadatan dan beriman kepadaNya.</p>
<p>Dan demikian juga anak keturunan Adam yang kemudian mereka menjadi para Nabi, para Rasul, orang-orang pilihan, ulama yang shalih, dan hamba-hamba yang ikhlas. Mereka inilah yang mewujudkan peribadatan pada Allah semata, berhukum dengan syariatNya, mengerjakan perintahNya, dan mencegah apa yang dilarangNya di muka bumi. Inilah apa yang diupayakan para Nabi, para Rasul, ulama yang shalih, dan hamba yang ikhlas. Setelah nampak ketetapan Allah dalam hal ini, tahulah para malaikat bahwa ini adalah kebaikan yang agung.</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat, sesungguhnya ada kaum sebelum Adam yaitu sekelompok manusia dan makhluk lain yang disebut <em>al-jinn</em> dan <em>al-hinn</em>.</p>
<p>Ringkasnya, Adam <em>‘alaihissalam</em> adalah khalifah yang menggantikan kaum sebelumnya. Dan apa peristiwa yang terjadi sebelum Adam ‘<em>alaihissalam</em> hanya diketahui oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Tidak diketahui adanya dalil yang menjelaskan keadaan makhluk sebelum Adam <em>‘alaihissalam</em>, bagaimana sifat mereka, amalan mereka, tidak ada penjelasan atas hal itu. Tetapi dijadikannya mereka sebagai khalifah menunjukkan bahwa sebelumnya mereka memang ada di muka bumi. Maka Adam menggantikan mereka dalam hal menampakkan kebenaran, menjelaskan syariat Allah <em>Ta’ala</em> dan berhukum dengannya, dan menjelaskan apa yang Allah ridhai dan dapat mendekatkan diri padaNya (yaitu ibadah –ed), dan mencegah dari kerusakan di muka bumi.</p>
<p>Demikianlah pula yang dilanjutkan oleh keturunan Adam ‘<em>alaihissalam</em>, yaitu para Nabi, orang-orang shalih dan pilihan. Mereka menyeru pada kebenaran dan menjelaskannya, membimbing umat kepada agama Allah Ta’ala, menyuruh segenap penghuni bumi untuk menaati Allah, mengesakanNya dengan tauhid, berhukum dengan syariatNya, dan mengingkari siapa yang menyelisihiNya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <a href="http://ar.islamway.net/fatwa/47033" target="_blank">http://ar.islamway.net/fatwa/47033</a></p>
<p>Penerjemah: Yhouga Pratama Ariesta</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 