
<h1><strong>Apa yang Dilakukan Masbuk ketika Masuk ke Shaf?</strong></h1>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Ketika seorang makmum terlambat mengikuti shalat jama’ah dan tidak mendapati takbiratul ihram bersama imam, apa yang harus ia lakukan?</span></em></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Landasan utama dari bahasan ini adalah hadis Abu Qatadah di bawah, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Yang kalian dapati dari shalat jama’ah maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.908, Muslim no.602).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> masuk ke shaf shalat berjama’ah, ada beberapa kemungkinan keadaan:</span></p>
<ol>
<li><b> Ia masuk ketika imam berdiri sebelum ruku’</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang dilakukan oleh makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Takbiratul ihram.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Lalu membaca al Fatihah, jika ada di dua rakaat pertama shalat </span><i><span style="font-weight: 400;">sirriyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">atau di rakaat ketiga atau rakaat keempat. Adapun di dua rakaat pertama shalat </span><i><span style="font-weight: 400;">jahriyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka tidak ada kewajiban membaca al-Fatihah, karena yang wajib adalah mendengarkan bacaan imam. Silakan simak kembali pembahasan ini di bab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Membaca Al-Fatihah</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Lalu membaca surat dari Al-Qur’an, jika ada di dua rakaat pertama shalat </span><i><span style="font-weight: 400;">sirriyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Adapun di dua rakaat pertama shalat </span><i><span style="font-weight: 400;">jahriyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka tidak ada kewajiban membaca al-Fatihah, karena yang wajib adalah mendengarkan bacaan imam. Demikian juga jika ada di rakaat ketiga atau keempat maka cukup membaca al-Fatihah dan tidak dianjurkan untuk membaca surat.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti gerakan-gerakan imam hingga imam selesai.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Jika ada rakaat yang terlewat maka ketika imam salam, ia bangkit berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang terlewat sampai selesai.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana dengan makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mendapati imam sudah ruku’ atau sudah akan ruku’? Apakah ia tetap membaca al-Fatihah? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah ruku’, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca al-Fatihah maka dalam keadaan ini kewajiban membaca al-Fatihah gugur darinya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu Fatawa War Rasail</span></i><span style="font-weight: 400;">, 13/128).</span></p>
<ol start="2">
<li><b> Ia masuk ketika imam sudah ruku’ atau setelahnya</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang dilakukan oleh makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Takbiratul ihram</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam kondisi berdiri sempurna.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Takbir intiqa</span></i><span style="font-weight: 400;">l, hukumnya sunnah.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti posisi imam apapun yang ia dapati. Jika imam ruku’ maka ia ikut ruku’. Jika imam duduk di antara dua sujud maka ia pun duduk di antara dua sujud, jika imam sujud maka ia pun sujud, dan seterusnya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Lalu mengikuti gerakan-gerakan imam hingga imam selesai.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Jika ada rakaat yang terlewat maka ketika imam salam, ia bangkit berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang terlewat sampai selesai.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mendapati imam sudah dalam keadaan ruku’, berapa kali ia bertakbir? Beliau menjawab:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يكبر تكبيرتين: إحداهما وهو واقف وهذه هي التكبيرة الأولى وهي تكبيرة الإحرام وهي ركن لا بد منه ولا تنعقد الصلاة إلا بها، ثم ينحط مكبرًا للركوع، فإن خاف أن تفوته الركعة اكتفى بالأولى التكبيرة الأولى وكفت عن تكبيرة الركوع في أصح قولي العلماء</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ia bertakbir dua kali. Yang pertama dalam keadaan berdiri tegak, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">takbiratul ihram</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang merupakan rukun yang harus dipenuhi dan shalat tidak sah tanpanya. Kemudian ia merunduk untuk ruku’ sambil bertakbir (yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">takbir intiqal</span></i><span style="font-weight: 400;">). Jika ia khawatir tertinggal ruku’ maka boleh mencukupkan diri dengan satu takbir saja yaitu yang pertama tanpa melakukan takbir untuk ruku’, menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat yang ada” (Sumber: </span><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/12063"><i><span style="font-weight: 400;">https://binbaz.org.sa/fatwas/12063</span></i></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<ol start="3">
<li><b> Ia masuk ketika imam sudah melewati rukuk pada raka’at terakhir</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ini ulama khilaf dalam dua pendapat:</span></p>
<p><b>Pendapat pertama</b><span style="font-weight: 400;">, seseorang dikatakan mendapatkan shalat jama’ah ketika mendapatkan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyahud akhir</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersama imam. Ini pendapat Syafi’iyah dan Hanafiyah. Mereka berdalil dengan hadis dari Abu Qatadah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">بيْنَما نَحْنُ نُصَلِّي مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ، فَلَمَّا صَلَّى قَالَ: ما شَأْنُكُمْ؟ قالوا: اسْتَعْجَلْنَا إلى الصَّلَاةِ؟ قَالَ: فلا تَفْعَلُوا إذَا أتَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَعلَيْكُم بالسَّكِينَةِ، فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ketika kami akan shalat bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau mendengar orang-orang yang berteriak-teriak. Maka beliau bertanya: Ada apa dengan kalian? Mereka menjawab: Kami terburu-buru untuk mendapati shalat jama’ah. Nabi lalu bersabda: Jangan lakukan demikian (terburu-buru). Jika kalian mendatangi shalat maka hendaknya bersikap tenang. Yang kalian dapati dari shalat jama’ah maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.635, Muslim no.603).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika iqamah sudah dikumandangkan maka jangan berlarian menuju shalat. Namun berjalanlah biasa. Dan hendaknya kalian bersikap tenang. Yang kalian dapati dari shalat jama’ah maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.908, Muslim no.602).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">واستدل بهذا الحديث على حصول فضيلة الجماعة بإدراك جزء من الصلاة؛ لقوله: (فما أدركتم فصلوا) ولم يفصل بين القليل والكثير</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama berdalil dengan hadis ini untuk mengatakan bahwa keutamaan shalat jama’ah didapatkan dengan didapatinya satu bagian dari shalat jama’ah. Karena Nabi bersabda: “Yang kalian dapati dari shalat jama’ah maka ikutilah”. Beliau tidak merinci apakah yang didapatkan itu sedikit ataukah banyak” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Baari</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/118).</span></p>
<p><b>Pendapat kedua</b><span style="font-weight: 400;">, seseorang dikatakan mendapatkan shalat jama’ah ketika mendapatkan satu rakaat. Ini pendapat Hanabilah dan Malikiyah. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Mereka berdalil dengan hadis dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">من أدرك ركعةً منَ الصلاةِ فقد أدركَ الصلاةَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mendapat satu raka’at dari shalat jama’ah maka ia mendapati shalat jama’ah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.580, Muslim no.607).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat kedua ini yang lebih </span><i><span style="font-weight: 400;">rajih</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam masalah ini, karena dalilnya </span><i><span style="font-weight: 400;">sharih</span></i><span style="font-weight: 400;"> (lugas). Sedangkan hadis yang digunakan para ulama yang berpegang pada pendapat pertama termasuk dalil yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mujmal </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">muhtamal.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun orang yang mendapati jama’ah sudah di posisi raka’at terakhir dan sudah melewati ruku’, jika ia terlambat mendapati shalat jama’ah karena suatu </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia tetap mendapatkan pahala shalat jama’ah walaupun tidak mendapati satu raka’at pun dari jama’ah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لكن إذا كان له عذر بسبب ذلك فاتته الصلاة؛ فإن أجر الجماعة يحصل له، وإن لم يصل في الجماعة كالمريض الذي حبسه المرض ثم وجد نشاطًا فرجى أن يدرك الجماعة فلم يدركها، وكإنسان توجه إلى الجماعة فحدث به حادث يمنعه من ذلك كالغائط أو البول، فذهب يتوضأ أو ما أشبهه من الأعذار الشرعية فهذا يرجى له فضل الجماعة إذا لم يفرط، لكن من جاء والإمام في التشهد فإنه يدخل معه، وله الفضل في ذلك لقوله ﷺ: ما أدركتم فصلوا، وما فاتكم فأتموا،</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Namun jika seseorang memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang menyebabkan ia terlewat shalat jama’ah maka pahala shalat jama’ah tetap ia dapatkan. Walaupun ia tidak mendapatkan shalat jama’ah tersebut. Seperti orang yang sakit yang membuat ia tertahan untuk berangkat (di awal waktu) lalu ternyata ia merasa baikan, kemudian berangkat dan telat, atau orang yang sudah berangkat untuk shalat jama’ah namun ia merasakan sesuatu di perutnya, lalu ia buang air besar atau buang air kecil lalu berwudhu atau kasus semisalnya yang termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur-udzur syar’i</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka semoga mereka mendapatkan pahala shalat jama’ah selama bukan karena lalai. Ketika ia mendapat shalat dan imam sudah</span><i><span style="font-weight: 400;"> tasyahud akhir</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka ia masuk ke shaf dan mendapatkan pahala shalat jama’ah. Berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">: </span><i><span style="font-weight: 400;">Yang kalian dapati dari shalat jama’ah maka ikutilah. Yang terlewat maka sempurnakanlah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Sumber: </span><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/18724"><i><span style="font-weight: 400;">https://binbaz.org.sa/fatwas/18724</span></i></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang telat datang ke masjid dan mendapati jama’ah sudah melewati ruku’ maka apa yang harus ia lakukan? Ikut masuk ke dalam jama’ah ataukah membuat jama’ah yang baru? Hal ini perlu dirinci sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فإذا أتى والإمام في التشهد الأخير فالأولى الدخول معه ما لم يعرف أنه يدرك جماعة أخرى، فإن عرف ذلك لم يدخل مع الإمام وصلى مع الجماعة الأخرى سواء كانت جماعة لفي مسجد آخر أو في المسجد الذي أدرك فيه إمامه في التشهد الأخير. وإذا قدر أن دخل مع الإمام في التشهد الأخير ثم حضرت جماعة فله قطع الصلاة ليدرك صلاة الجماعة من أولها في الجماعة الأخرى، وله أن يكمل صلاته وحده</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang </span><i><span style="font-weight: 400;">makmum masbuq</span></i><span style="font-weight: 400;"> datang dan imam sudah </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyahud akhir</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang lebih utama baginya adalah masuk ke jama’ah selama ia tidak mengetahui akan adanya jama’ah yang lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ia mengetahui akan ada jama’ah yang lain, hendaknya ia tidak masuk ke jama’ah namun ia shalat bersama jama’ah yang lain. Baik jama’ah lain tersebut di masjid lain atau di masjid yang ia dapati imamnya sudah</span><i><span style="font-weight: 400;"> tasyahud akhir</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ternyata ia masuk ke jama’ah imam yang sudah </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyahud akhir</span></i><span style="font-weight: 400;">, lalu ternyata setelah itu datang jama’ah lain mendirikan shalat maka ia boleh membatalkan shalat untuk masuk ke jama’ah tersebut dari awal lagi atau boleh juga melanjutkan shalat sendirian” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al-Utsaimin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 15/90).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.</span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 