
<p>Berikut lanjutan dari serial  “<em>maadza taf’alu fii haalatit taliyah</em>” karya Syaikh Muhammad bin Shaleh  al-Munajid:</p>
<p>1. Apa yang harus dilakukan,  ketika kita merasa mendapat gangguan dari setan, terlintas pikiran yang  mengganggu konsentrasi shalat, sehingga menyebabkan kita tidak bisa khusyu  dalam shalat?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin  Abil ‘Ash <em>radliallahu ‘anhu</em>, beliau datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengadukan gangguang yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau bersabda:</p>
<p>ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا  أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً</p>
<p><em>“Itu  adalah setan, namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlilndungan  kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”</em></p>
<p>Kata Utsman: Aku-pun  melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku. (HR. Muslim no.  2203)</p>
<p><strong>Pelajaran hadis</strong>:</p>
<p>1. Dalam hadis di atas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan  setan dalam shalat:</p>
<p>a. Memohon perlindungan  kepada Allah, dengan membaca <em>ta’awudz</em> (<em>a-‘udzu billahi minas  syaithanir rajiim</em>). Bacaan ini dilafadzkan, bukan dibatin. Dan ini hukumnya  dibolehkan dan tidak membatalkan shalat</p>
<p>b. Meludah ringan ke kiri,  bentuknya dengan meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini  dibolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya  dan tidak mengotori masjid.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>2. Ketika sedang  melaksanakan shalat witir, tiba-tiba di tengah shalat mendengarkan adzan subuh.  Bolehkah kita melanjutkan shalat witir?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Ketika seseorang mendengar adzan subuh, sementara dia sedang shalat witir maka  dia sempurnakan shalat witirnya dan semacam ini dibolehkan. (<em>Fatawa  Islamiyah Syaikh Ibn Utsaimin</em>, 1:346)</p>
<p>Permasalahan semacam ini,  sebenarnya termasuk dalam pembahasan waktu shalat witir. Ulama berselisih  pendapat, apakah berakhirnya waktu shalat witir itu sampai terbit fajar ataukah  sampai selesainya shalat subuh. Mayoritas ulama berpendapat, waktu berakhirnya  shalat witir adalah sampai terbit fajar. Meskipun, banyak ulama lainnya yang  membolehkan shalat witir setelah adzan subuh, bagi yang berhalangan, sehingga  tidak bisa melaksanakannya sebelum subuh. (<em>Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah</em>)</p>
<p>3. Ketika seseorang belum  sempat melaksanakan shalat asar karena alasan yang dibenarkan, kemudian di  datang ke masjid, dan ternyata shalat maghrib telah dimulai, apa yang harus  dilakukan?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn Taimiyah  –<em>rahimahullah</em>– mengatakan:</p>
<p>Dia disyariatkan untuk  melaksanakan shalat maghrib berjamaah bersama imam, kemudian shalat asar. Ini  berdasarkan kesepakatan ulama. Apakah orang ini harus mengulangi shalat  maghribnya, setelah mengerjakan shalat asar? Dalam hal ini ada dua pendapat:</p>
<p>a. Dia harus mengulangi  maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Umar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan  pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.</p>
<p>b. Tidak perlu mengulangi  maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Abbas, Imam Syafi’i, dan pendapat kedua  Imam Ahmad.</p>
<p>Pendapat kedua lebih kuat.  Karena Allah tidak-lah mewajibkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat wajib  dua kali, jika sikapnya ini disebabkan adanya udzur diperbolehkan. (<em>Majmu’  Fatawa Ibn Taimiyah</em>, 22:106)</p>
<p>4. Ketika seorang musafir  hendak mengikuti shalat jamaah, sementara dia tidak tahu apakah imamnya itu  musafir ataukah penduduk asli. Kemudian si musafir ini mengikuti shalat jamaah  menjadi makmum, apakah dia niatkan untuk qashar ataukah niat sebagaimana  shalatnya orang mukim, empat rakaat?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Yang lebih kuat, hendaknya  dia melihat ciri imamnya, sehingga bisa memperkirakan apakah dia musafir  ataukah mukim. Kemudian dia mengambil sikap sebagaimana dugaan kuat yang dia  ketahui. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn  Abbas, bahwa beliau ditanya: Mengapa musafir shalatnya diqashar ketika  sendirian dan empat rakaat ketika menjadi makmum orang yang mukim? Beliau  menjawab: “Itu adalah sunnah Abul Qasim (Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).”  Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau untuk musnad  Imam Ahmad.</p>
<p><strong>Catatan</strong>:</p>
<p>Seorang musafir menjadi  makmum masbuk, ketinggalan 2 rakaat, dan dia berniat qashar, karena beranggapan  imamnya seorang musafir, padahal imamnya bukan musafir. Setelah salam bersama  imam, dia mendapat info bahwa imam bukan musafir, maka dia harus menambahi dua  rakaat lagi untuk menyempurnakan shalatnya dan sujud sahwi setelah salam.  Demikian keterangan Imam an-Nawawi dalam <em>al-Majmu’</em>, 4:356. Syaikh  Muhammad al-Munajid menambahkan: Pembicaraan yang dilakukan orang ini di  sela-sela shalatnya (setelah salam di rakaat kedua), tidaklah menyebabkan  shalatnya putus. Namun dia dibolehkan melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya,  tanpa harus memulai dari awal. Selama pembicaraan itu bertujuan untuk  kepentingan shalatnya.</p>
<p>5. Ketika di tengah shalat,  tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Atau ada seorang ibu yang shalat,  sementara bayinya melakukan tindakan yang berbahaya, apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Dibolehkan bagi orang yang  shalat untuk melakukan gerakan ringan, karena suatu kebutuhan yang mendesak,  dengan syarat, tidak mengubah arah kiblatnya. Seperti membukakan pintu yang  berada di arah kiblat.</p>
<p>Dalilnya adalah hadis yang  diriwayatkan Abu Daud, dari A’isyah <em>radliallahu ‘anha</em>, beliau  mengatakan:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah shalat, sementara pintu rumah terkunci. Kemudian saya datang, dan saya  minta agar dibukakan. Beliau-pun berjalan dan membukakan pintu, lalu beliau  kembali lagi ke tempat shalatnya. Disebutkan bahwa pintu rumah beliau berada di  arah kiblat. (HR. Abu Daud no. 922 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>Demikian pula seorang ibu  yang sedang shalat, dan dia melihat anaknya melakukan hal yang membahayakan,  maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan ringan ke kanan, ke kiri, ke depan,  atau belakang. Dan ini tidak merusak shalatnya. Termasuk dalam hal ini adalah  orang yang shalat, tiba-tiba sarungnya mau lepas, maka dia dibolehkan untuk  melakukan gerakan dalam rangka mengencangkan sarungnya. Bahkan, dalam kondisi  tertentu yang sangat mendesak, syariat membolehkan melakukan gerakan yang  banyak, meskipun menyebabkan kiblatnya berubah. Sebagaimana disebutkan dalam  hadis dari Abu Hurairah <em>radliallahu ‘anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Bunuhlah dua hewan yang hitam (meskipun) ketika sedang shalat,  yaitu ular dan kalajegking.”</em> (HR. Abu Daud no. 921 dan dishahihkan  al-Albani)</p>
<p>6. Bagaimana cara menjawab  salam ketika shalat?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Dari Shuhaib bin Sinan <em>radhiallahu  ‘anhu</em>, beliau mengatakan: “Saya melewati Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika beliau  sedang shalat. Kemudian saya mengucapkan salam kepada beliau dan beliau  menjawabnya dengan isyarat.” (HR. Abu Daud no. 925 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>Bagaimana cara isyaratnya?</p>
<p>Disebutkan dalam beberapa  riwayat, diantaranya dari Ibn Umar <em>radliallahu ‘anhuma</em> beliau  mengatakan: Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pernah berangkat menuju masjid Quba untuk  melaksanakan shalat. Kemudian datanglah sekelompok masyarakat anshar dan mengucapkan  salam kepada beliau, ketika beliau sedang shalat. Ibn Umar bertanya kepada  Bilal, “Bagaimana yang kamu lihat ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab orang anshar  yang menngucapkan salam kepada beliau, sementara beliau sedang shalat?” Bilal  menjawab: “Beliau berisyarat seperti ini.” Bilal membuka telapak tangannya.  Salah seorang perawi yang bernama Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya,  dimana bagian telapak tangan mengarah ke bawah dan bagaian punggung mengarah ke  atas. (HR. Abu Daud no. 927 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>7. Jika ada orang yang  berhadats ketika shalat jamaah, apa yang harus dia lakukan untuk bisa  meninggalkan tempat, tanpa menimbulkan rasa malu?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Hendaknya dia pegang  hidungnya, kemudian keluar. Dalil tentang hal ini adalah hadis dari A’isyah,  bahwa Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ  فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ</p>
<p><em>“Apabila  kalian berhadats ketika shalat jamaah maka hendaknya dia pegang hidungnya kemudian  dia meninggalkan tempat.”</em> (HR. Abu Daud no. 1114 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>Imam at-Thibi mengatakan:  Adanya perintah memegang hidung ketika batal shalatnya, agar dikira dia  mimisan. Dan ini tidak termasuk berbohong, namun sebatas menutupi keadaan dengan  perbuatan. Tindakan semacam ini mendapatkan keringanan agar setan tidak  menggodanya untuk tidak melaksanakan jamaah karena malu dengan jamaah lainya.  (Lih. <em>Mirqatul Mafatih</em>, 3: 18)</p>
<p>Syaikh Muhammad Munajid  memberikan komentar:</p>
<p>Semacam ini termasuk <em>tauriyah</em> yang dibolehkan dan tindakan menutupi diri dengan bentuk yang terpuji, dalam  rangka menghilangkan ras malu. Sehingga orang yang melihatnya menyangka kalau  dia keluar disebabkan mimisan di hidungnya. Disamping itu, manfaat lain dari  petunjuk Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>ini adalah untuk menghilangkan godaan setan,  dengan tetap berada di shaf atau melanjutkan jamaah sementara dia berhadats.  Ini merupakan tindakan yang tidak Allah ridhai. Betapa tidak, padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk pergi.</p>
<p>8. Seseorang telah  melaksanakan shalat di suatu masjid, kemudian dia berangkat menuju masjid yang  lain untuk acara kegiatan tertentu, seperti kajian atau yang lainnya.  Sesampainya di masjid kedua, ternyata shalat belum selesai. Apa yang harus dia  lakukan?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Hendaknya dia masuk masjid  dan langsung ikut shalat berjamaah, dan dia niatkan sebagai shalat sunnah.  Shalat ini boleh dilakukan, meskipun dilakukan di waktu-waktu yang terlarang  untuk shalat. Dalilnya adalah hadis dari Yazid bin Aswad <em>radliallahu ‘anhu</em>,  beliau mengatakan:</p>
<p>Saya ikut haji bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Kemudian beliau shalat subuh bersama beliau di masjid khaif. Setelah selesai  shalat, beliau berbalik. Tiba-tiba ada dua orang duduk di belakang yang tidak  ikut shalat bersama beliau. Beliau bersabda: “Suruh dua orang itu ke sini.”  Keduanya-pun disuruh menghadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sementara badannya gemetaran (karena takut).  Beliau bertanya: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak shalat jamaah bersama  kami?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi sudah shalat di jalan.  Kemudian beliau bersabda: “Jangan kamu lakukan itu, jika kalian telah shalat di  jalan, kemudian kalian singgah di masjid yang sedang dilaksanakan jamaah,  ikutlah shalat bersama mereka. Sesungguhnya shalat yang kedua ini menjadi  shalat sunnah bagi kalian.” (HR. Turmudzi no. 219 dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p>Syaikh Muhammad Munajid  mengatakan:</p>
<p>Dalam hadis di atas  disebutkan bahwa kedua orang tersebut datang ke masjid setelah melaksanakan  shalat subuh. Dan ini termasuk waktu terlarang. Diriwayatkan oleh Imam Malik  dalam al-Muwatha’, dari Mihjan <em>radliallahu ‘anhu</em>, bahwa beliau berada di  majlis Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Tiba-tiba adzan dikumandangkan. Rasulullah-pun  melaksanakan shalat bersama jamaah. Sementara Mihjan tetap berada di tempat  duduknya dan tidak ikut shalat berjamaah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya: “Apa  yang menghalangimu untuk ikut shalat jamaah, bukankah kamu seorang muslim?”  Mihjan menjawab: “Betul, wahai Rasulullah, akan tetapi saya sudah shalat di  rumahku.” Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Jika kamu datang (di masjid), shalatlah  berjamaah bersama masyarakat. Meskipun kamu sudah shalat.” </em>(<em>al-Muwatha’</em>,  1:130 dan dishahihkan al-Albani).</p>
<p>***<br>
<a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
Penyusun dan penerjemah: Ust  Ammi Nur Baits</p>
<p>Baca Apa Yang Harus Anda Lakukan Ketika Kondisi Berikut (Bagian 1)</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 