
<p>Baca pembahasan sebelumnya <strong>Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)</strong></p>
<p><b>Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikan</b></p>
<p>Yaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan <a href="https://muslim.or.id/42015-lima-kiat-untuk-istiqamah-dalam-beramal-bag-1.html">kebaikan</a> dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الدِّينُ النَّصِيحَةُ</span></p>
<p>“Agama ini hanyalah nasihat.” <b>(HR. Muslim no. 55)</b></p>
<p>Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ</span></p>
<p>“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” <b>(QS. Maryam [19]: 31)</b></p>
<p>Ibnul Qayyim <i>rahimahullahu Ta’ala</i> berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” <b>(</b><b><i>Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, </i></b><b>hal. 5)</b></p>
<p><strong>Baca juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42535-lebih-baik-tidak-minta-didoakan-ketika-memberi-sedekah.html">Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah</a></span></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>kemudian bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ</span></p>
<p>“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” <b>(HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih Al-Jami’ </i></b><b>no. 2603).</b></p>
<p> </p>
<p><b>Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambung</b></p>
<p>Yang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.</p>
<p>Ketika <a href="https://muslim.or.id/29541-menarik-hati-manusia-dengan-harta-untuk-agama.html">hati</a> kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ</span></p>
<p>“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” <b>(QS. Ar-Rahman [55]: 60)</b></p>
<p>Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.</p>
<p>Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى</span></p>
<p>“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” <b>(QS. Ar-Ruum [30]: 10)</b></p>
<p>Juga terdapat <a href="https://muslim.or.id/25321-sejarah-penulisan-hadits-1.html">hadits</a> Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً</span></p>
<p>“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” <b>(HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam </b><b><i>Syu’abul Iman </i></b><b>no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Ash-Shahihah </i></b><b>no. 2231)</b></p>
<p>Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.</p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><strong>Baca juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/5245-al-fattaah-maha-pembuka-kebaikan-dan-pemberi-keputusan.html">Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan</a></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/2942-soal-32-kebaikan-hilang-karena-maksiat.html"><span style="color: #ff0000;">Kebaikan Hilang Karena Maksiat</span></a></li>
</ul>
<p><b>***</b></p>
<p>@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018</p>
<p>Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</p>
<p><b>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></b></p>
<p>Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p>Disarikan dari kitab <b><i>Kaifa takuunu miftaahan lil khair </i></b>karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.</p>
 