
<p>Apakah musafir tetap mengerjakan shalat sunnah saat safar?</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Shalat Sunnah Ada Dalam Safar</span></h4>
<p>Imam Ahmad pernah ditanya mengenai hukum melakukan shalat sunnah ketika safar. Beliau menjawab, “Aku harap melakukan shalat sunnah ketika safar tidaklah masalah.” (Dinukil dari <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1: 456)</p>
<p>Ini berarti shalat sunnah boleh dilakukan ketika safar. Sebagaimana dibuktikan pula dari hadits Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya menghadap ke arah kendaraan mengarah, beliau berisyarat dengan kepalanya.” Ibnu ‘Umar pun melakukan yang demikian. (HR. Bukhari no. 1105).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Shalat Rawatib Ditinggalkan Kecuali Shalat Sunnah Fajar</span></h4>
<p>Namun ada shalat sunnah yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tinggalkan yaitu shalat sunnah rawatib. Hanya shalat sunnah fajar (shalat sunnah qabliyah Shubuh) saja yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetap jaga.</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Allah <em>Ta’ala </em>memberi keringanan bagi musafir dengan menjadikan shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at. Seandainya shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu disyari’atkan ketika safar, tentu mengerjakan shalat fardhu dengan sempurna (empat raka’at) lebih utama.” (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 1: 298)</p>
<p>Yang membuktikan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu menjaga shalat sunnah fajar dapat dilihat pada perkataan ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, di mana ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.” (HR. Bukhari no. 1169)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> begitu perhatian pada shalat sunnah fajar karena keutamaannya yang luar biasa. Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qabliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</p>
<p>“<em>Dua raka’at fajar (shalat sunnah qabliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.</em>” (HR. Muslim no. 725).</p>
<p>Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا</p>
<p>“<em>Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya</em>” (HR. Muslim no. 725).</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar” (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 1: 456).</p>
<p>Adapun shalat malam (tahajud), shalat Dhuha, shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnah mutlak lainnya, masih boleh dilakukan ketika safar. Sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam <em>Majmu’ Fatawanya </em>(15: 258).</p>
<p>Meskipun orang yang bersafar mendapatkan keringanan seperti di atas, namun ia akan dicatat mendapatkan pahala seperti ia mukim. Ketika safar ia mengerjakan shalat 2 raka’at secara qashar, maka itu dicatat seperti mengerjakannya sempurna 4 raka’at. Itulah kemudahan yang Allah berikan bagi hamba-Nya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا</p>
<p>“<em>Jika seseorang sakit atau bersafar, maka dicatat baginya pahala sebagaimana ia mukim atau ketika ia sehat</em>.” (HR. Bukhari no. 2996)</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H.</p>
<p><em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyyah.</p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di <a href="http://darushsholihin.com/">Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin</a>, 5 Rajab 1436 H</p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 