
<h1><b>Apakah Seseorang Berdosa jika Sekedar Punya Kecenderungan LGBTQ?</b></h1>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Para pengusung LGBTQ biasanya melontarkan syubhat: “Tidak mungkin seseorang berdosa ketika sekedar punya orientasi seksual yang berbeda?”, atau mereka mengatakan, “Mana mungkin seseorang berdosa karena sesuatu yang sifatnya naluriah?”. Bagaimana menanggapi syubhat ini? </span></em></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi was shahabah. Amma ba’du,</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita katakan, jika yang terjadi pada seseorang itu hanya sekedar orientasi seksual yang berbeda (semisal suka sesama jenis), maka orang tersebut tidak sampai berdosa. Karena dosa itu terkait dengan perbuatan, baik perbuatan hati atau anggota badan. Orang yang melakukan sesuatu yang di luar kesengajaannya, maka ia tidak dianggap berdosa. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">رُفعَ القلمُ عن ثلاثةٍ : عن النائمِ حتى يستيقظَ ، وعن الصبيِّ حتى يحتلمَ ، وعن المجنونِ حتى يعقِلَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Pena (catatan amal) diangkat dari tiga jenis orang: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga ia berakal”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. An-Nasa-i no. 7307, Abu Daud no. 4403, Ibnu Hibban no. 143, dishahihkan Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Al-Jami’</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 3513).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga orientasi seksual yang berbeda tersebut, jika itu muncul secara naluriah, maka tidak berdosa. Walaupun tidak sampai dosa, namun tetap saja itu adalah </span><b>penyakit</b><span style="font-weight: 400;"> yang seharusnya disembuhkan. Ibnu Hajar al-Asqalani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika mendefinisikan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-mukhannats</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">من يشبه خَلْقُه النساءَ في حركاته وكلامه وغير ذلك فإن كان من أصل الخلقة ليس عليه لوم، وعليه أن يتكلف إزالة ذلك، وإن كان بقصد منه وتكلف فهو المذموم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-mukhannats </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah) lelaki yang perangainya mirip wanita, baik dalam gerakannya, cara bicaranya atau lainnya. Jika itu terjadi secara natural, maka ia tidak tercela. Namun tetap ia dituntut oleh syariat untuk menghilangkan sifat tersebut. Jika ia demikian karena disengaja maka ia tercela” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Bari</span></i><span style="font-weight: 400;">, 9/246).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan Ibnu Hajar ini, jika seseorang muncul pada dirinya orientasi seksual yang menyimpang, lalu ia pelihara terus-menerus, maka ini menjadi sebuah dosa. Karena di sini ia sudah melakukan perbuatan, yang perbuatan tersebut bisa berkonsekuensi dosa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis dari Abdullah bin Abbas</span><i><span style="font-weight: 400;"> radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 5885).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mempertahankan orientasi seksualnya yang menyimpang, ia dengan <strong>sengaja menyerupakan diri seperti lawan jenis</strong>. Padahal jelas ini terlarang dan merupakan perbuatan dosa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga, orang yang mempertahankan orientasi seksualnya yang menyimpang, sama saja ia mendekatkan dirinya pada perbuatan </span><i><span style="font-weight: 400;">liwath </span></i><span style="font-weight: 400;">(sodomi) yang jelas merupakan dosa besar. Atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya seperti: pacaran, bermesraan, memandang dengan syahwat, dll. Dan semua sarana kepada perbuatan dosa hukumnya juga terlarang. Kaidah yang disebutkan para ulama:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">للوسائل حكم المقاصد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua bentuk sarana, hukumnya sama dengan apa yang ditujunya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama ketika membahas tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhannats</span></i><span style="font-weight: 400;">, mereka menjelaskan bahwa selama orientasi tersebut tidak membuahkan suatu perbuatan, ia tidak dianggap maksiat. Namun tetap dianggap suatu penyakit sehingga pelakunya perlu diasingkan. Agar penyakit tersebut tidak menjalar kepada masyarakat yang lain. Dalam hadis dari Abdullah bin Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat mukhannats (laki-laki yang kebanci-bancian) dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Bukhari no. 5886).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hadis ini, para ulama menyebutkan bahwa hukuman bagi </span><i><span style="font-weight: 400;">mukhannats </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah diasingkan (direhabilitasi):</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">نفي المخنث مع أنه ليس بمعصية وإنما فعل للمصلحة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hukuman bagi banci adalah diasingkan bukan karena ia merupakan maksiat, namun ia dihukum untuk kemaslahatan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Asnal Mathalib</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/130).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini jelas, bahwa LGBTQ jika baru muncul dalam diri seseorang secara naluriah, maka itu tidak dianggap maksiat atau dosa, namun tetap saja sebuah penyakit yang seharusnya disembuhkan. Dan juga merupakan sarana kepada perbuatan-perbuatan dosa dan perkara yang jauh dari fitrah yang lurus. Sehingga walaupun belum memunculkan amalan apa-apa, tetap saja penyakit ini tidak boleh dibiarkan atau bahkan dianggap biasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika sudah sampai pada level melakukan perbuatan-perbuatan yang terkait dengan orientasi seksualnya yang menyimpang, maka jelas ini perbuatan dosa. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-A’raaf: 81).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memberi taufik.</span></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 