
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <a href="http://muslim.or.id/43707-aqidah-al-wala-wal-bara-aqidah-asing-yang-dianggap-usang-bag-11.html">Aqidah Al-Wala’ wal Bara’, Aqidah Asing yang Dianggap Usang (Bag. 11)</a></em></p>
<h2><span style="font-size: 23pt;">Mendoakan keburukan bagi orang kafir</span></h2>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>mendoakan keburukan berupa laknat kepada orang Yahudi dan Nasrani menjelang beliau wafat. ‘Aisyah dan Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhuma</i> berkata, ”Ketika Nabi menjelang wafat, beliau menutupkan kain ke wajahnya, lalu beliau buka lagi kain itu ketika terasa menyesakkan nafas. Ketika dalam kondisi seperti itulah, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</span></p>
<p>“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” <b>(HR. Bukhari no. 435, 436 dan Muslim no. 1215)</b></p>
<p>Begitu juga, ketika terjadi perang Ahzab (perang Khandaq), Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>juga mendoakan keburukan kepada musuh-musuhnya. Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَلَأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا، كَمَا شَغَلُونَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ</span></p>
<p>“Semoga Allah memenuhi kubur-kubur dan rumah-rumah orang-orang musyrik dengan api, karena mereka telah menyibukkan kita sehingga kita belum shalat ashar hingga matahari terbenam.” <b>(HR. Bukhari no. 6396 dan Muslim no. 627)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26012-doa-doa-dari-al-quran-1.html">Inilah Doa-Doa Dari Al Qur’an</a></span></p>
<p>Ketika menjelaskan hadits perang Khandaq di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p>“Boleh mendoakan keburukan bagi orang-orang kafir, <b>akan tetapi kepada mereka secara umum. </b>Adapun mendoakan keburukan dalam bentuk khusus (maksudnya, dengan menyebutkan person nama tertentu dari orang kafir, pen.), dilakukan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>ketika mendoakan kejelekan atas Abu Jahl dan gembong (pemimpin) orang musyrik yang lain, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ</span></p>
<p>“Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengadzab mereka.” <b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 128)</b></p>
<p>Oleh karena itu, pendapat yang kuat dari beberapa pendapat ulama dalam masalah ini adalah bahwa<strong> tidak boleh melaknat orang kafir tertentu secara khusus, ketika mereka masih hidup.</strong> Karena bisa jadi Allah Ta’ala akan memberikan hidayah kepadanya. Jadi, tidak boleh kita berdoa, “Ya Allah, laknatlah si fulan yang merupakan pemimpin orang kafir.” Hal ini karena sesungguhnya Allah Ta’ala mampu (berkuasa) untuk mengubah pemimpin kekafiran menjadi pemimpin dalam keimanan.” <b>(</b><b><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></b><b>1: 440)</b></p>
<p>Beliau <i>rahimahullahu Ta’ala </i>juga berkata,</p>
<p>“Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mendoakan keburukan atas orang-orang musyrik (kafir) (secara umum, pen.) dengan (hukuman) yang berhak mereka terima, baik ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia, karena sabda Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>“Semoga Allah memenuhi kubur-kubur dan rumah-rumah orang-orang musyrik … “ <b>(</b><b><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></b><b>1: 441)</b></p>
<p>Mendoakan laknat dan keburukan bagi orang-orang kafir ini beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>contohkan secara khusus pada qunut nazilah terhadap orang-orang kafir yang telah berbuat dzalim kepada kaum muslimin.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25630-fatwa-ulama-membaca-doa-dari-al-quran-ketika-sujud.html">Bolehkah Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika sujud?</a></span></p>
<p>Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik <i>radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, </i>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلًا، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللهَ وَرَسُولَهُ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>melakukan qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan (laknat) kepada (suku) Ri’lan, Dzakwan, dan Ushayyah, yang telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” <b>(HR. Bukhari no. 4090 dan Muslim no. 677. Lafadz ini milik Muslim)</b></p>
<p>Dalam riwayat Bukhari (no. 4090) disebutkan bahwa suku-suku tersebut sebelumnya telah membunuh 70 orang sahabat Anshar di sumur Ma’unah.</p>
<p>Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Alu Bassam <i>hafidzahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p>“Boleh mendoakan jelek kepada orang dzalim, sesuai dengan kadar kedzalimannya, karena hal itu dinilai sebagai qishash.” <b>(</b><b><i>Taisiir Al-‘Allaam, </i></b><b>hal. 93)</b></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">المنهي عنه هو لعن الكفار في الدعاء على وجه التعيين، أما لعنهم عموما؛ فلا بأس به، وقد ثبت عن أبي هريرة أنه كان يقنت ويلعن الكفرة عموما، ولفظ ما ورد عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ أنه قال: «لأقربن صلاة النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فكان أبو هريرة يقنت في الركعة الأخرى من صلاة الظهر، وصلاة العشاء، وصلاة الصبح، بعدما يقول: سمع الله لمن حمده؛ فيدعو للمؤمنين ويلعن الكفار» ، ولا بأس بدعائنا على الكافر بقولنا: اللهم، أرح المسلمين منه، واكفهم شره، واجعل شره في نحره، ونحو ذلك</span></p>
<p>“<strong>Yang dilarang adalah melaknat orang kafir dalam doa secara khusus (dengan menyebut nama person tertentu). Adapun melaknat mereka secara umum, maka tidak masalah (boleh).</strong> Terdapat riwayat yang valid dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu </i>bahwa beliau melakukan qunut dan melaknat orang kafir secara umum. Lafadz yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau <i>radhiyallahu ‘anhu </i>berkata,</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24654-mari-mendoakan-kebaikan-bagi-para-pemimpin-kita.html">Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita</a></span></p>
<p><i>“</i>Sungguh aku bersungguh-sungguh dalam mencontoh shalat Nabi <i>shallallahu ’alaihi wa sallam.</i>” Abu Hurairah<i> radhiyallahu ’anhu </i>pernah berdoa qunut pada raka’at terakhir shalat zhuhur, shalat ‘isya, serta shalat shubuh setelah beliau membaca, <i>“sami’allahu liman hamidahu.”</i> Kemudian beliau berdoa untuk kebaikan bagi orang-orang mukmin dan doa keburukan atas orang-orang kafir.” <b>(HR. Bukhari no. 797)</b></p>
<p>Jadi, boleh bagi kita untuk mendoakan jelek orang kafir dengan doa semisal, “Ya Allah, lepaskanlah kaum muslim dari (kedzaliman) mereka, hentikanlah kejahatan mereka, dan jadikanlah kejahatan mereka di tenggorokannya”, atau yang semisalnya.” <b>(</b><b><i>Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, </i></b><b>9: 294)</b></p>
<p>Berdasarkan penjelasan beliau di atas, maka boleh bagi kita, misalnya, mendoakan laknat dan keburukan kepada orang-orang kafir di negeri Yahudi secara umum, yang telah menyusahkan dan menimpakan berbagai musibah dan bencana kepada kaum muslimin Palestina. Sebagaimana Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>melaknat kabilah Ri’lan, Dzakwan, dan Ushayyah dalam hadits di atas, tanpa menyebutkan person tertentu di kalangan mereka.</p>
<h2><span style="font-size: 23pt;">Kapan mendoakan kebaikan dan kapan mendoakan kejelekan kepada orang kafir?</span></h2>
<p>Ibnu Hajar Al-Asqalani <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وأنه صلى الله عليه وسلم كان تارة يدعو عليهم وتارة يدعو لهم فالحالة الأولى حيث تشتد شوكتهم ويكثر أذاهم كما تقدم في الأحاديث التي قبل هذا بباب والحالة الثانية حيث تؤمن غائلتهم ويرجى تألفهم كما في قصة دوس</span></p>
<p>“Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>terkadang mendoakan kejelekan dan terkadang mendoakan kebaikan untuk orang kafir. Kondisi pertama (mendoakan kejelekan),<strong> ketika gangguan dari mereka sangat parah dan mereka banyak menyakiti kaum muslimin</strong>, sebagaimana hadits-hadits yang telah disebutkan sebelum bab ini. Kondisi ke dua (mendoakan kebaikan),<strong> ketika merasa aman dari keburukan (gangguan) mereka dan diharapkan lembutnya hati mereka</strong> (untuk masuk Islam, pen.) sebagaimana dalam kisah suku (kabilah) Daus.” <b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>6: 108)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24072-doa-ketika-minum-air-zam-zam.html">Inilah Doa Ketika Minum Air Zam-Zam</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 23pt;">Ketika didoakan kebaikan oleh orang kafir</span></h2>
<p>Jika kita doakan oleh orang kafir dengan doa kebaikan, maka <strong>boleh untuk di-amin-kan</strong>. Hasan bin ‘Athiyyah <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا بأس أن تؤمن على دعاء الراهب إذا دعا لك ، فقال: إنه يستجاب لهم فينا، ولا يستجاب لهم في أنفسهم </span><b><br>
</b></p>
<p>“Tidak masalah Engkau meng-amin-kan doa seorang pendeta jika dia mendoakan kebaikan untukmu.” Beliau lalu berkata (lagi), “Sesungguhnya doa mereka untuk kita itu dikabulkan, sedangkan doa untuk diri mereka sendiri tidak dikabulkan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih, dengan sanad yang shahih. Lihat <b><i>Silsilah Ash-Shahihah </i></b><b>6: 200,</b> karya Al-Albani)</p>
<p>Dalam pergaulan kita sehari-hari, ketika sedang bersin dan ada teman non-muslim di sebelah kita, terkadang mereka mendoakan, <i>“God bless you.” </i>(Semoga Tuhan memberkatimu.) Dalam kondisi semacam ini, maka tidak masalah kita meng-amin-kan doa tersebut.</p>
<h3><span style="font-size: 23pt;">Penutup</span></h3>
<p>Demikianlah pembahasan yang dapat kami kumpulkan terkait dengan ‘aqidah <i>al-wala’ wal bara’ </i>yang wajib dipelajari atas setiap muslim. Dengan mempelajarinya, kita bisa membedakan bagaimanakah sikap loyalitas kepada orang kafir yang dapat membatalkan iman atau minimal hukumnya haram, meskipun tidak sampai derajat membatalkan iman. Kita juga dapat mengetahui sisi keindahan ajaran Islam ketika mengajarkan bagaimanakah bersikap yang baik kepada mereka, dalam bentuk tidak boleh mengambil hak mereka secara dzalim, menyakiti mereka meskipun dengan ucapan, tidak boleh mencaci maki dan mencela mereka, serta sisi-sisi kebaikan lainnya. Sehingga semuanya ini menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>sehingga kita tidak membutuhkan selain ajaran beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43793-mengapa-doaku-belum-dikabulkan.html">Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/32288-sebab-sebab-terkabulnya-doa.html">Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya Doa</a></span></li>
</ul>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p>@Sint-Jobskade 718 NL, 3 Muharram 1440/ 14 September 2018</p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></span></p>
 