
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46558-aqidah-pertengahan-ahlus-sunnah-di-antara-berbagai-kelompok-yang-menyimpang-bag-3.html" data-darkreader-inline-color=""> Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pokok ke empat: dalam masalah janji <i>(al-wa’du) </i>dan ancaman <i>(al-wa’iid)</i></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah janji atau harapan </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-wa’du) </span></i><span style="font-weight: 400;">dan ancaman </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-wa’iid), </span></i><span style="font-weight: 400;">ahlus sunnah bersikap pertengahan di antara dua kelompok ekstrim yang menyimpang, yaitu kelompok </span><b><i>wa’idiyyah</i></b> <span style="font-weight: 400;">di satu sisi, dan kelompok </span><b><i>murji’ah</i></b> <span style="font-weight: 400;">di sisi yang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">wa’idiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">lebih memperhatikan dalil-dalil yang berisi ancaman (masuk neraka) daripada dalil-dalil yang berisi janji atau harapan agar dosa-dosa terampuni. Yang termasuk kelompok ini adalah kelompok </span><b><i>khawarij </i></b><span style="font-weight: 400;">dan </span><b><i>mu’tazilah, </i></b><span style="font-weight: 400;">yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar itu bukan muslim alias kafir. Semua pelaku dosa besar (seperti pezina dan peminum khamr) menurut </span><i><span style="font-weight: 400;">khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kafir, kekal di neraka selamanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tazilah </span></i><span style="font-weight: 400;">sama-sama meyakini bahwa pelaku dosa besar itu kekal di neraka (hukum akhirat). Dan di dunia, mereka telah keluar dari iman (hukum dunia). Akan tetapi, setelah mereka keluar dari iman, </span><i><span style="font-weight: 400;">khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tazilah </span></i><span style="font-weight: 400;">berselisih pendapat, apakah sebutan untuk mereka ketika di dunia? </span><i><span style="font-weight: 400;">Khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan bahwa mereka kafir, sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tzailah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “bukan muslim dan bukan kafir.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27464-pelajaran-aqidah-dan-manhaj-dari-surat-al-fatihah-1.html" data-darkreader-inline-color="">Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun </span><i><span style="font-weight: 400;">murji’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">mereka lebih memperhatikan dalil-dalil yang berisi janji dan harapan diampuninya dosa, dan meremehkan dalil-dalil yang berisi ancaman. Menurut </span><i><span style="font-weight: 400;">murji’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">iman itu hanya semata-mata pembenaran dalam hati </span><i><span style="font-weight: 400;">(tashdiiqul qalbi), </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan amal lisan dan anggota badan itu bukan bagian dari iman. Oleh karena itu, menurut </span><i><span style="font-weight: 400;">murji’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">maksiat seorang hamba itu tidak membahayakan keimanan sama sekali. Pelaku maksiat, semacam pezina dan peminum khamr, itu tidak berhak masuk neraka, dan keimanan mereka tetap selevel dengan keimanan Abu Bakr dan ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mirip dengan aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">murji’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">ini adalah apa yang dijumpai dari banyak pelaku maksiat, namun mengaku sebagai muslim. Mereka memperbanyak maksiat, terus-menerus berbuat maksiat, dan di sisi lain, mereka banyak meninggalkan kewajiban. Lalu mereka merasa aman karena bersandar pada hadits-hadits yang berisi tentang janji (masuk surga), semacam sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan ditutup dengannya, maka dia masuk surga.” </span><b>(HR. Ahmad no. 23324, dinilai </b><b><i>shahih lighairihi</i></b><b> oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/18469-fatwa-ulama-adakah-khilafiyah-dalam-masalah-aqidah.html" data-darkreader-inline-color="">Adakah Khilafiyah Dalam Masalah Aqidah?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau bersandar dengan hadits,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan mengharapkan wajah Allah Ta’ala.” </span><b>(HR. Bukhari no. 425 dan Muslim no. 33)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun aqidah ahlus sunnah adalah aqidah pertengahan dari dua kelompok di atas. Ahlus sunnah menyeimbangkan pemahaman antara dalil-dalil yang berisi janji (masuk surga) dan harapan (agar dosa terampuni) dengan dalil-dalil yang berisi ancaman (masuk neraka). Karena siapa saja yang lebih melihat dalil-dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’du </span></i><span style="font-weight: 400;">dan menihilkan dalil-dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’iid, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka dia akan sesat sebagaimana </span><i><span style="font-weight: 400;">murji’ah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Karena selain dalil yang berisi </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’du, </span></i><span style="font-weight: 400;">ada banyak dalil yang berisi ancaman, misalnya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak akan masuk surga orang yang berbuat adu domba </span><i><span style="font-weight: 400;">(namimah)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (silaturahmi).” </span><b>(HR. Bukhari no. 5984 dan Muslim no. 2556)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau dalil yang berisi ancaman kepada pelaku pembunuhan, yaitu firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, dia lama di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya, serta menyediakan azab yang besar baginya.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 93)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/41311-beberapa-kesalahan-dan-kemungkaran-terkait-ibadah-haji-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, siapa saja yang lebih melihat dalil-dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’iid </span></i><span style="font-weight: 400;">dan menihilkan dalil-dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’du, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka dia akan sesat sebagaimana </span><i><span style="font-weight: 400;">khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tzailah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ketika </span><i><span style="font-weight: 400;">khawarij </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tzailah </span></i><span style="font-weight: 400;">menihilkan dalil-dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wa’du, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka hilanglah harapan mereka agar dosa terampuni, mereka pun berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Dan sebagai akibatnya, mereka pun memvonis semua pelaku dosa besar sebagai orang kafir dan kekal di neraka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, aqidah ahlus sunnah meyakini bahwa seorang muslim yang terjerumus dalam maksiat dan dosa besar, tidaklah keluar dari Islam (tidak kafir), akan tetapi dia adalah seorang muslim yang kurang sempurna keimanannya. Maka dia adalah seorang mukmin dengan keimanan yang ada dalam hatinya, namun dia adalah orang fasik dengan dosa besar yang ada pada dirinya. Namun, hal ini dengan tiga syarat: </span><b>(1) </b><span style="font-weight: 400;">dosa besar tersebut bukanlah dosa kemusyrikan atau kekafiran akbar; </span><b>(2) </b><span style="font-weight: 400;">dia tidak meyakini halalnya perbuatan dosa tersebut; dan</span><b> (3) </b><span style="font-weight: 400;">dia tidak melakukan pembatal Islam jenis yang lainnya. Sedangkan urusan dia di akhirat, dia tergantung pada kehendak Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala menghendaki, Allah Ta’ala akan mengampuninya. Namun jika Allah Ta’ala menghendaki, dia akan dihukum sampai bersih dari dosa-dosanya, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Tidaklah kekal di neraka kecuali orang-orang yang kafir kepada Allah Ta’ala atau berbuat kemusyrikan syirik akbar (syirik besar). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini sesuai dengan definisi iman yang ditetapkan oleh ahlus sunnah, yaitu “keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan; (iman) bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40163-siapakah-ulil-amri-atau-penguasa-yang-wajib-ditaati-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Siapakah Ulil Amri atau Penguasa yang Wajib Ditaati?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35817-kutunggu-engkau-di-telagaku-01.html" data-darkreader-inline-color="">Kutunggu Engkau di Telagaku</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 28 Rajab 1440/4 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:</strong> <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""><strong>Muslim.or.id</strong></a></span></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 19-20;</span> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">(cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H),</span></p>
 