
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya: <a href="https://muslim.or.id/55879-atasi-corona-dengan-bertauhid-yang-sempurna-bag-2.html"><span style="color: #ff0000;">Atasi Corona dengan Bertauhid yang Sempurna (Bag. 2)</span></a></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Makna melaksanakan tauhid dengan sempurna </b><b><i>(tahqiiqut tauhiid)</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, di dalam kitabnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhiid,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Tauhid itu, telah menjelaskan tentang definisi </span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiiqut tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pelaksanaan tauhid dengan sempurna).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjelaskan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiiqut tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> terbagi menjadi dua tingkatan. Beliau mengatakan,</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka tahqiiqut tauhiid meliputi dua tingkatan, yaitu tingkatan wajib dan tingkatan mustahab (sunnah). Dengan demikian, orang-orang yang melaksanakan tauhid dengan sempurna meliputi dua tingkatan ini pula.”</span></i></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tingkatan wajib dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tingkatan yang wajib adalah meninggalkan sesuatu yang wajib ditinggalkan berupa tiga perkara yang telah disebutkan sebelumnya. (Dengan demikian tingkatan wajib itu) adalah dengan meninggalkan syirik -baik syirik yang samar maupun yang tampak jelas, syirik kecil maupun syirik besar, meninggalkan bid’ah, dan meninggalkan maksiat.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau dengan kata lain, </span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiiqut tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada tingkatan yang wajib adalah membersihkan agama seseorang dari seluruh dosa, baik dosa syirik, bid’ah maupun kemaksiatan, dengan segala macamnya.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Apakah maksud “bersih dari dosa”?</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan penjelasan di atas, inti dari </span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiiqut tauhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada tingkatan yang wajib adalah bersih dari segala dosa dengan segala macamnya. Sedangkan maksud bersih dari dosa dengan segala macamnya (syirik, bid’ah dan maksiat) adalah (1) seorang hamba meninggal dalam keadaan sudah bertaubat dari seluruh dosa; atau (2) dosanya sudah terlebur dengan pelebur </span><i><span style="font-weight: 400;">(mukaffirat)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dosa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, yang dijadikan patokan di sini adalah akhir hidup seseorang, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِنَّمَا الَأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya amalan itu hanyalah berdasarkan penutupnya.”</span><b> (HR. Bukhari)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang melakukan sesuatu kemaksiatan, dosa, atau bid’ah, kemudian belum bertaubat darinya, atau belum terlebur dosanya, maka ia belumlah dikatakan telah melaksanakan tauhid secara sempurna, yaitu jenis tingkatan wajib.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini menunjukkan bahwa</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>العبرة بكمال النهاية ، لا بنقصان البداية</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang dijadikan patokan adalah kesempurnaan pada akhir kehidupan dan bukan pada kekurangan di awal kehidupan.” </span><b>[1]</b></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Kesimpulan tingkatan wajib dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna:</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang yang bersih dari dosa, dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perkara haram.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51538-tanpa-tauhid-amal-ibadah-tidak-akan-bernilai.html" data-darkreader-inline-color="">Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidak akan Bernilai</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tingkatan sunnah (mustahab) dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tingkatan mustahab dalam tahqiiqut tauhiid -sebuah tingkatan yang pelakunya berbeda-beda keutamaannya- dengan perbedaan yang besar, yaitu:</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Tidak adanya pada hati seseorang suatu arah atau tujuan kepada selain Allah Jalla wa ‘Alaa. Maksudnya adalah hati menghadap kepada Allah secara totalitas, tidak terdapat kecondongan kepada selain Allah, sehingga (jika) berucap, (ikhlas) karena Allah. Jika bertingkah laku, (ikhlas) karena Allah. Jika beramal, (ikhlas) karena Allah. Bahkan seluruh gerakan hatinya karena Allah.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama mengungkapkan tingkatan mustahab ini dengan,</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apa (mubah) karena khawatir (berakibat) ada apa-apanya (jika dilakukan).” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya di sini adalah mencakup amal hati, lisan, dan anggota tubuh lahiriyyah.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Kesimpulan tingkatan sunnah dalam melaksanakan tauhid dengan sempurna:</b></span></h3>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang yang melaksanakan perkara yang wajib dan yang sunnah serta meninggalkan keharaman, kemakruhan dan sebagian perkara yang mubah (halal).”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">I’anatul Mustafid</span></i><span style="font-weight: 400;">, ketika beliau menjelaskan tentang golongan </span><i><span style="font-weight: 400;">As-Saabiquun bil khairaat</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Golongan yang selamat dari syirik besar dan kecil, bid’ah, serta (golongan yang) meninggalkan keharaman dan kemakruhan serta sebagian perkara yang mubah (halal). (Di sisi lain) mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal ketaatan, baik amal yang wajib maupun yang sunnah. Mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan </span><i><span style="font-weight: 400;">(As-Saabiqun bil khairaat)</span></i><span style="font-weight: 400;">. Barangsiapa yang sampai pada tingkatan ini, maka ia masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51252-tahapan-mempelajari-ilmu-tauhid-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Tahap-Tahap dalam Mempelajari Ilmu Tauhid</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pelaksanaan tauhid dengan sempurna hakikatnya adalah pelaksanaan </b><b><i>syahadatain</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih Alusy-Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, di dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhiid</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut menjelaskan hal itu sebagai berikut,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pelaksanaan tauhid dengan sempurna, hakikatnya adalah pelaksanaan </span><i><span style="font-weight: 400;">syahadatain ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Karena pada ucapan seorang ahli tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallaah’</span></i><span style="font-weight: 400;">, terdapat tuntutan pelaksanaan tauhid dan jauh dari syirik, dengan segala macamnya. Dan karena pada ucapannya </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’ </span></i><span style="font-weight: 400;">mengandung tuntutan jauh dari kemaksiatan dan bid’ah. Hal itu disebabkan karena konsekuensi syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">“Muhammadar Rasulullah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ‘Beliau ditaati dalam perkara yang beliau perintahkan, dibenarkan dalam perkara yang beliau kabarkan, dijauhi larangannya, dan tidaklah menyembah Allah melainkan dengan syari’at yang diajarkannya.” </span><b>(At-Tamhiid: 33)</b></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Kesimpulan tentang gambaran ahli tauhid yang sempurna</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Melaksanakan tauhid dengan sempurna itu bukan hanya seorang hamba perhatian kepada menjauhi syirik dengan segala macamnya, namun tauhidnya yang sempurna itu menuntutnya untuk meninggalkan keharaman, kemakruhan, dan sebagian perkara yang mubah (halal). Ini semua sebagai bentuk pelaksanaan </span><i><span style="font-weight: 400;">syahadatain</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah’</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam seluruh aktifitas seorang hamba. Karena beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah utusan Allah dan suri teladan terbaik dalam segala hal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahli tauhid yang sempurna inilah yang mendapatkan keamanan dan petunjuk yang sempurna pula, di dunia maupun di akhirat, sebagaimana telah dijelaskan pada seri artikel yang sebelumnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50479-macam-macam-syirik-dalam-ibadah-bag-15-menyembelih-yang-bernilai-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Macam-Macam Syirik dalam Ibadah (bag. 15): Menyembelih yang Bernilai Tauhid</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50667-hakikat-tauhid-adalah-kalimat-laa-ilaaha-illallah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hakikat Tauhid adalah Kalimat Laa ilaaha illallah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>(Bersambung)</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu ‘Ukkasyah</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;"> Ucapan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid.</span></p>
 