
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/56275-ayat-ayat-shiyam-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Ayat-Ayat Shiyam (Bag. 3)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tafsir QS. al-Baqarah ayat 186</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” </span></i><b>[QS. al-Baqarah: 186]</b></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Makna Ayat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</span><span style="font-weight: 400;">” menuntut hamba untuk bertakbir mengagungkan Allah dan bersyukur kepada-Nya, maka ayat ini menjelaskan Allah Ta’ala memperhatikan atas setiap dzikir orang yang mengingat-Nya dan syukur setiap orang yang bersyukur kepada-Nya, bahwa Dia mendengar panggilannya dan memenuhi permohonannya [Tafsir ar-Razi 5/260; Tafsir Abu Hayyan 2/205]. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna ayat di atas adalah jika orang-orang beriman bertanya kepadamu, wahai Muhammad, perihal kedekatan diri-Ku, maka katakanlah Diri-ku dekat dengan mereka. Aku memenuhi permohonan setiap orang yang memohon kepada-Ku. Karena itu, hendaknya mereka tunduk kepada-Ku dengan menaati segala perintah-Ku dan menjauhi segenap larangan-Ku. Hendaknya mereka meyakini bahwa Aku akan memberikan ganjaran pahala atas ketundukan mereka kepada-Ku; memenuhi permohonan dan do’a mereka, sehingga dengan hal itu semua mereka berada di atas kebenaran dan taufik tetap menyertai mereka dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih [Tafsir Ibnu Jarir 3/222-228; Tafsir as-Sa’di hlm. 87; Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/342-343]. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30342-mendoakan-orang-yang-memberi-buka-puasa.html" data-darkreader-inline-color="">Mendoakan Orang yang Memberi Buka Puasa</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">  </span><b>Faidah-Faidah Ayat</b></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,…”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat isyarat bahwa: </span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">do’a orang yang berpuasa sangat berpotensi dikabulkan;</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">do’a-do’a yang dipanjatkan di bulan Ramadhan sangat berpotensi dikabulkan; dan</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">disyari’atkan berdoa di setiap penghujung hari Ramadhan [Tafsir Ibnu Asyur 2/179].  </span></li>
</ol>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">menunjukkan akan bimbingan Allah kepada para hamba-Nya untuk bermunajat (berbisik) dalam do’a mereka dan bukan menyeru dengan meninggikan suara. Itulah yang ditanyakan dan dijawab bahwa Allah Ta’ala dekat sehingga tidak perlu meninggikan suara dalam do’a dan permohonan mereka. Hal yang ditanyakan adalah perihal Dzat yang dekat dan menjadi tujuan bermunajat, bukanlah Dzat yang jauh sehingga perlu diteriaki. Kedekatan Allah Ta’ala dengan orang yang berdo’a kepada-Nya ini adalah kedekatan khusus dan tidak bersifat umum sehingga mencakup setiap orang [Badai’ al-Fawaid 3/7].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Disisipkannya perkara do’a dalam penyebutan hukum-hukum puasa, merupakan isyarat agar hamba bersungguh-sungguh dalam do’a ketika menyempurnakan bilangan hari bulan Ramadhan, bahkan sepatutnya bersungguh-sungguh berdo’a ketika berbuka puasa [Tafsir Ibnu Katsir 1/509; Tafsir Ibnu Asyur 2/179].</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Setiap orang yang diberi ilham untuk berdo’a, sungguh do’a yang dipanjatkannya ingin dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” </span></i><b>[QS. Ghafir: 60]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dan dalam redaksi ayat di atas Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku … ”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Al-Jawab al-Kafi hlm. 17].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">pengabulan do’a tidak dikaitkan dengan kehendak Allah Ta’ala, sementara pada firman Allah Ta’ala di surat al-An’am ayat 41, pengabulan do’a dikaitkan dengan kehendak-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka Dia menghilangkan bahaya yang</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” </span></i><b>[QS. al-An’am: 41]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini dikarenakan ayat yang pertama berkenaan dengan do’a yang dipanjatkan orang-orang beriman, sehingga tidak perlu dikaitkan dengan kehendak Allah. Do’a orang beriman tidak akan ditolak kecuali karena adanya dosa atau faktor pemutus yang menyebabkan do’anya tertolak. Adapun ayat yang kedua, pengabulan do’a dikaitkan dengan kehendak Allah, karena berkenaan dengan do’a yang dipanjatkan orang-orang kafir [Al-Adzb an-Namir 1/239].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Apabila timbul pertanyaan, “Apa faidah dari firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">إِذَا دَعَانِ</span><span style="font-weight: 400;">” yang disebutkan setelah firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">الدَّاعِ</span><span style="font-weight: 400;">”. Padahal seseorang tidak disifati sebagai orang yang berdo’a setelah dia berdo’a terlebih dahulu?  </span>
</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah karena ada maksud dari firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">إِذَا دَعَانِ</span><span style="font-weight: 400;">”, yaitu apabila dia jujur dalam berdo’a kepada-Ku, dengan menyadari bahwa dia sepenuhnya membutuhkan Allah Ta’ala; Dia Maha mampu untuk mengabulkan do’a yang dipanjatkan; dan memurnikan do’a hanya kepada Allah ‘azza wa jalla, dimana hati tidak bergantung kepada selain-Nya [Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/342]</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pengabulan do’a hamba dipengaruhi oleh sejumlah hal seperti akidah yang benar dan ketaatan yang sempurna. Hal ini karena redaksi ayat yang membicarakan perihal do’a diikuti dengan firman Allah,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ … maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku … ”</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada arahan agar hamba menaati perintah-Nya dan beriman kepada-Nya dengan akidah yang benar dalam redaksi ayat tersebut </span><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">[Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyah 14/33].</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30148-sakit-yang-membolehkan-tidak-puasa.html" data-darkreader-inline-color="">Sakit yang Membolehkan Tidak Puasa</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Aspek-Aspek Balaghah pada Ayat</b></span></h2>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Arah pembicaraan yang disampaikan Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">menunjukkan akan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi [Tafsir Abu as-Su’ud 1/200].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِنِّي قَرِيبٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat upaya untuk mendekatkan jawaban dan mengingatkan betapa dekatnya hamba dengan Allah Ta’ala ketika berdo’a. Sekaligus Allah Ta’ala menginformasikan bahwa diri-Nya tidak membutuhkan perantara sehingga menegaskan akan kedekatan dan kehadiran-Nya bersama setiap orang yang berdo’a. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman dengan kata “</span><span style="font-weight: 400;">فَإِنّي</span><span style="font-weight: 400;">” dan bukan dengan frasa “</span><span style="font-weight: 400;">فقل إني</span><span style="font-weight: 400;">” yang berarti, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya Aku … ”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hal ini dikarenakan apabila ditetapkan dengan redaksi “قل” niscaya akan menimbulkan kesan jauh padahal konteksnya tidak demikian. Selain itu, pengungkapan dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">فقل: إني</span><span style="font-weight: 400;">” akan menimbulkan kesan bahwa yang berbicara adalah selain Allah, sehingga perlu pengungkapan dengan redaksi “إن الله” atau yang semisal [Nazhm ad-Durar 3/71; Tafsir Ibnu Asyur 2/179].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِنِّي قَرِيبٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat penegasan dengan huruf “</span><span style="font-weight: 400;">إن</span><span style="font-weight: 400;">” untuk menegaskan bahwa Allah Ta’ala dekat dengan hamba-Nya, meski mereka tidak melihat-Nya [Tafsir Ibnu Asyur 2/179].</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Penutupan ayat ini dengan firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">merupakan salah satu hal yang terindah, karena ketika memerintahkan para hamba-Nya untuk memenuhi segala perintah dan beriman kepada-Nya, Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tujuan pembebanan syari’at semata-mata agar hamba berada dalam jalan yang benar dengan menaati perintah-Nya. Tidak ada keuntungan yang diperoleh Allah dari hal itu, sehingga keuntungan itu hanyalah diperoleh hamba [Tafsir Abu Hayyan 2/210].</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30048-puasa-adalah-perisai-seorang-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Puasa adalah Perisai Seorang Muslim</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30035-ternyata-puasa-itu-luar-biasa.html" data-darkreader-inline-color="">Ternyata Puasa Itu Luar Biasa</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: </b><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color=""><b>Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.</b></a></span></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 