
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus –<i>hafizhahullah</i>–</span></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan :</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada seorang anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki, ia mempunyai orang tua yang kafir. Ketika telah dewasa, ia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dengan operasi (transgender). Sedangkan umurnya sekarang mendekati tiga puluh tahun. Penampilannya sekarang seperti penampilan perempuan dan berinteraksi seperti halnya perempuan, hingga cara bicaranya juga demikian. Ketika ia masuk Islam, ia menginginkan jenis kelaminnya kembali menjadi yang dahulu kala seperti aslinya yakni laki-laki. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan dana yang besar yang tidak ia mampui sekarang. Sedangkan kini ia ingin untuk pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Muncul kebingungan dalam dirinya apakah ia menempatkan dirinya di bagian laki-laki ataukah di bagian perempuan? Kami mohon faidah dan penjelasannya, </span><i><span style="font-weight: 400;">jazaakumullahu khairan</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27545-dicari-lgbt-yang-mampu-dan-mau-memahami-al-quran-dengan-benar-1.html" data-darkreader-inline-color="">Dicari: LGBT Yang Mampu Dan Mau Memahami Al-Qur’an Dengan Benar!</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawab :</b></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا  بعد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syariat mengharamkan prosedur pengubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Tanpa keraguan lagi, ini bukan termasuk dalam pengobatan medis. Sesungguhnya ini termasuk mengubah ciptaan Allah yang diawali dari godaan setan kepada manusia untuk berbuat durhaka. Dan setan juga mendiktekan manusia untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga berkeinginan untuk merubah fisiknya untuk memperindah dan mempercantik dirinya, tanpa alasan yang darurat atau kebutuhan yang mendesak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah ta’ala berfirman menukil perkataan iblis </span><i><span style="font-weight: 400;">la’anahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“dan akan aku (iblis) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An-Nisa’ : 119). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konteks ayat menunjukkan celaan dan menjelaskan suatu perkara yang haram. Diantaranya perkara tersebut adalah mengubah ciptaan Allah. Dan pelaku perbuatan ini juga mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 5931, Muslim no.2125).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian, jika keinginan itu tumbuh pada laki-laki itu sebelum keislamannya, kemudian Allah menganugerahinya dengan nikmat islam dan istiqamah dalam beragama, maka sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Islamnya seseorang telah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ahmad no. 17777, dari sahabat Amr bin Al Ash <em>radhiallahu’anhu</em>. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 1280).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yakni memutus dan menghapus semua perbuatan kekafiran, kemaksiatan, dosa, yang pernah dilakukan sebelumnya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html" data-darkreader-inline-color="">Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka apabila ia sanggup untuk mengembalikan kelaminnya seperti semula tanpa mengakibatkan bahaya dan kerusakan karena luka-luka (yang sama atau lebih besar dari sebelumnya) maka itulah yang semestinya ia lakukan. Dan mengembalikan kelamin seperti semula ini tidak termasuk dalam larangan yang terdapat dalam hadits, dan hal itu juga tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat dapat mengembalikan organ-organ tubuhnya kelaki-lakiannya. Tidak boleh baginya menanam organ kelaki-lakian milik orang lain, berdasarkan salah satu pendapat ahli ilmu. Karena ini terkait dengan penjagaan keturunan dan memelihara dari tercampurnya pertalian nasab. Jika tidak mampu untuk mengembalikan pada bentuk aslinya maka sesungguhnya hukum syariat berlaku sesuai kapasitas dan kemampuan. Kaidah mengatakan: </span><i><span style="font-weight: 400;">“tidak ada pembebanan kecuali sesuai dengan kemampuan”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dan seseorang tidak diberi pilihan kecuali dalam opsi-opsi yang dimampui. Berdasarkan firman-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">subhanahu wa ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 233). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan firman-Nya, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. At-Taghabun 16). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan juga firman-Nya, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Ath Thalaq: 7).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sabda Nabi ﷺ :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.7288, Muslim no.1337).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Ulama sepakat bahwa ibadah-ibadah itu tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu melakukannya. Dan orang mampu tetap dianggap mampu walaupun ia melanggar ibadah tersebut atau meninggalkannya. Sebagaimana orang mampu melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa, haji, namun ia tidak melakukannya. Maka dia tetap dianggap orang yang mampu, dengan kesepakatan salaful ummah dan para imam. Dan ia berhak mendapat dosa karena meninggalkan perintah padahal ia mampu dan tidak melakukannya. Bukan karena meninggalkan yang tidak mampu ia lakukan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Al Fatawa</span></i><span style="font-weight: 400;">, 8/479).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun soal ibadah dan muamalahnya, yang tepat, dihukumi sebagai perempuan. Dan hukum-hukum syar’i berlaku sesuai jenis kelaminnya saat ini, bukan jenis kelamin aslinya. Berdasarkan kaidah umum yang berlaku pada kasus seperti ini atau yang semisal: </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">العِبْرَةَ بِالحَالِ لَا بِالمَآلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“yang dianggap adalah keadaan yang sekarang, bukan keadaan sebelumnya”. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan juga berlaku kaidah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا قَارَبَ الشَّيْءَ أَوْ أَشْرَفَ عَلَيْهِ يُعْطَى حُكْمَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua yang mirip dengan sesuatu atau menyamainya, maka ia sama hukumnya”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tidak samar lagi bahwasanya dia sekarang menempel pada dirinya sifat-sifat perempuan dan memiliki tanda-tanda kewanitaan. Semisal adanya kelamin perempuan, kencing dari alat kelamin perempuannya tersebut, keluar haid dari tempat tersebut, memiliki payudara, dan yang lainnya. Dengan demikian dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang nampak secara lahiriyah sekarang, bukan kelamin aslinya. Karena telah hilang tanda-tanda kelaki-lakian pada dirinya. Maka ia dihukumi sebagai perempuan, selama belum kembali kepada kelamin aslinya dan bentuk tubuhnya yang terdahulu.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aljazair, 20 Muharram 1439H / 10 Oktober 2017</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57644-hukum-boikot-produk-orang-kafir-dan-pendukung-kemaksiatan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung Kemaksiatan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53983-dalam-islam-lelaki-itu-jantan.html" data-darkreader-inline-color="">Dalam Islam, Lelaki Itu Jantan!</a></strong></li>
</ul>
</div>
<div class="post-meta">
<div class="post-meta">***</div>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber: </span><a href="http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220"><span style="font-weight: 400;">http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220</span></a></p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/rafif" data-darkreader-inline-color="">Rafif Zulfarihsan</a></span></strong></p>
<p><strong>Pemuraja’ah:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 