
<h2><strong>Dua faktor meraih keshalihan</strong></h2>
<p>Semua kita pasti ingin menjadi orang shalih, juga menginginkan anak keturunan yang shalih. Namun, perlu kita pahami bahwa keshalihan itu tidak bisa diraih kecuali melalui dua jalan.</p>
<p><strong>Pertama, </strong>taufiq dari Allah Ta’ala, juga hidayah, pertolongan, bimbingan, dan kemudahan dari Allah Ta’ala. Karena Dzat yang Maha memberi petunjuk hanyalah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً</strong></span></p>
<p>“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” <strong>(QS. Al-Kahfi [18]: 17)</strong></p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ</strong></span></p>
<p>“Allah menyeru (manusia) ke <em>da</em><em>arussalam</em> (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” <strong>(QS. Yunus [10]: 25)</strong></p>
<p>Berdasarkan ayat di atas, maka hidayah dan keshalihan itu ada di tangan-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki, pasti akan terjadi. Sedangkan yang Allah Ta’ala tidak kehendaki, tidak akan terjadi.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>usaha manusia, kesungguhan dan kegigihannya untuk meraih keshalihan tersebut. Demikian pula, manusia berupaya untuk menempuh sebab, jalan, dan sarana-sarana untuk meraih keshalihan tersebut.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menggabungkan dua hal ini dalam sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ</strong></span></p>
<p>“Bersemangatlah untuk meraih hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah.” <strong>(HR. Muslim no. 2664)</strong></p>
<p>“Bersemangatlah untuk meraih hal-hal yang bermanfaat bagimu”, yaitu dengan mencurahkan segala upaya untuk mencari sebab-sebab yang bermanfaat dan sarana yang mengantarkan kepada keshalihan. Yang dengannya, seseorang bisa meraih keshalihan dan merupakan sebab untuk mendapatkan hidayah. Misalnya, dengan mendatangi majelis ilmu (pengajian), bergaul dengan orang-orang shalih, dan sebagainya.</p>
<p>“Mintalah pertolongan kepada Allah”, maksudnya, bersandarlah kepada Allah Ta’ala, Engkau meminta pertolongan-Nya, dan senantiasa berharap kepada-Nya untuk memberikan Engkau taufiq dan hidayah, juga untuk meneguhkan hatimu di jalan hidayah. Engkau meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala untuk meraih keshalihan dan bisa istiqamah di atasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, hadits tersebut telah mengumpulkan semua kebaikan.</p>
<h2><strong>Sumber meraih keshalihan</strong></h2>
<p>Kita pun perlu mengetahui dua sumber utama meraih keshalihan, yaitu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap orang yang mengingatkan dan mendakwahkan keshalihan, agar yang menjadi pegangan menuju ke sana adalah Al-Qur’an dan juga sunnah Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em></p>
<p>Adapun Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” <strong>(QS. Al-Isra’ [17]: 9)</strong></p>
<p>Adapun sunnah, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي</strong></span></p>
<p>“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang membuat kalian tidak tersesat setelah ada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku.” <strong>(HR. Hakim 1: 172, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’ </em>no. 2937)</strong></p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 2 Muharram 1442/ 21 Agustus 2020</p>
<p><strong>Penulis: M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.Or.Id</strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Shifaatu Az-Zaujati Ash-Shaalihati </em>karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullah, </em>hal. 9-11.</p>
 