
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Tidak Cukup Sekedar Angan-Angan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan memang cita-cita orang beriman, namun untuk bisa meraih cita-cita tersebut, tentulah butuh niat yang ikhlas, tawakal, memohon pertolongan kepada Allah, tekad yang kuat, serta usaha yang sungguh-sungguh. Jangan lupa, bahwa setiap cita-cita yang tinggi itu membutuhkan pengorbanan yang besar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan tentunya membutuhkan pemahaman yang benar terhadap kiat-kiat untuk meraihnya</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, dalam serial artikel ini, dijelaskan secara ringkas sebab-sebab untuk bisa menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.</span></p>
<p><b>1. Meyakini bahwa Allah adalah Al-Fatt</b><b>āḥ</b><b> dan Melaksanakan Tuntutan Peribadahan darinya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk modal terbesar bagi seorang hamba dalam meraih kedudukan pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan adalah keyakinan yang benar bahwa Allah adalah <em>Al-Fatt</em></span><em><span style="font-weight: 400;">āḥ</span></em><span style="font-weight: 400;"> (Yang Maha Pembuka kebaikan dan Pemberi keputusan hukum). Dialah yang membuka semua pintu-pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Al-Fatt</span><span style="font-weight: 400;">āḥ</span><span style="font-weight: 400;"> -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdur Rahmân As-Sa’di</span><i><span style="font-weight: 400;"> ra</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ḥ</span></i><i><span style="font-weight: 400;">imahull</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">h-</span></i><span style="font-weight: 400;"> di samping mengandung pengertian </span><i><span style="font-weight: 400;">al-</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> ḥ</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ukmu, </span></i><span style="font-weight: 400;">(menghukumi atau memutuskan) sebagaimana firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: right;">قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah: “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Saba`:26) juga mengandung makna lainnya, yaitu:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dialah yang membuka semua pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: right;">مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Fathir: 2).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia-lah Sang Pembuka pintu-pintu kebaikan dunia dan agama bagi hamba-hamba-Nya, dengan cara membuka hati-hati orang-orang yang dipilih-Nya dengan kelembutan dan perhatian-Nya, dan menghiasi hati mereka dengan tauhid dan keimanan kepada-Nya, yang semua itu akan menyempurnakan agama mereka dan menjadikan mereka istiqamah, tetap tegar di atas jalan yang lurus. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah juga membukakan bagi hamba-hamba-Nya pintu-pintu rezeki. Dia menganugerahkan kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya lebih dari apa yang mereka minta dan harapkan, memudahkan bagi mereka mengatasi semua urusan yang sulit.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan yang mulia ini akan melahirkan pada diri seorang hamba sikap tawakal hanya kepada Allah semata, mentauhidkan Allah dalam peribadahan, serta berdo’a, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, demi tercapainya cita-cita dirinya menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan menghayati kandungan nama Al-Fatt</span><span style="font-weight: 400;">āḥ</span><span style="font-weight: 400;">, seorang hamba akan menyadari bahwa tidak mungkin ia sanggup memahami kebenaran dan memahamkan kebenaran kepada orang lain serta tidak mungkin ia sanggup mengamalkan suatu amal saleh dan mengajak orang lain untuk beramal saleh, kecuali jika Allah</span> <span style="font-weight: 400;">membukakan kebaikan tersebut baginya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, di antara sebab-sebab berikutnya yang akan disebutkan agar seseorang bisa menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan adalah tawakal dan berdo’a kepada Allah</span> <span style="font-weight: 400;">semata, inilah buah dari keyakinan bahwa Allah lah satu-satunya Al-Fatt</span><span style="font-weight: 400;">āḥ</span><span style="font-weight: 400;">, Yang Maha Pembuka kebaikan dan Yang Maha Memutuskan hukum.</span></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Prof. DR. Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang berjudul : </span><i><span style="font-weight: 400;">“Kaifa takunu miftahan lilkhoir”.</span></i>
</li>
<li><span style="font-weight: 400;">Halaman web: <a href="https://almanhaj.or.id/3605-Al-Fattah-Maha-Pembuka-kebaikan-dan-Pemberi-keputusan.html">https://almanhaj.or.id/3605-Al-Fattah-Maha-Pembuka-kebaikan-dan-Pemberi-keputusan.html</a></span></li>
</ol>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 