
<p><em>Al-Hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du</em>.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Definisi iman</strong></span></h2>
<p>Al-Bukhari <em>Rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَهُوَ قوْلٌ وَفِعْلٌ وَيَزِيْدُ وَيَنْقُصُ</span></p>
<p>“Iman itu ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang” (Shahih Al-Bukhari).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penjelasan</strong></span></h2>
<p>Iman itu terdiri dari ucapan hati dan ucapan lisan, maupun perbuatan hati dan perbuatan anggota tubuh lahir. Jadi, iman itu adalah ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin.</p>
<p>Maksud dari ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin (hati), yaitu:</p>
<p>1. Ucapan hati berbentuk keyakinan dan pembenarannya.</p>
<p>2. Perbuatan hati berbentuk gerakan hati yang membuahkan amal lahir dan ucapan lisan, contohnnya adalah niat, ikhlas, tawakal, takut, cinta, harap, dan selainnya.</p>
<p>3. Ucapan lahir (lisan) berbentuk ucapan dua kalimat syahadat, bacaan Alquran, zikir, dan selainnya.</p>
<p>4. Perbuatan anggota tubuh lahir berbentuk salat, puasa, zakat, haji, dan selainnya.</p>
<p>Iman itu bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah, bahkan bisa musnah dengan kekafiran. Pertambahan keimanan itu menyebabkan tercapainya kesempurnaan iman, baik kesempurnaan yang wajib maupun sunah. Berkurangnya keimanan itu menyebabkan berkurangnya kesempurnaan iman, baik yang wajib maupun sunah. Musnahnya keimanan itu karena hilangnya dasar iman, dengan melakukan perbuatan atau mengucapkan ucapan kekafiran (mengeluarkan pelakunya dari Islam).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dalil definisi iman</strong></span></h2>
<p>Dalil yang menunjukkan definisi iman adalah hadis dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ</span></p>
<p>“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘<em>laa ilaha illallah</em>’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Alasan pendalilan</strong></span></h2>
<p>Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin.</p>
<p>1. Cabang iman <em>qauliyyah</em> (ucapan lisan) ditunjukkan oleh “ucapan <em>laa ilaha illallah</em>”.</p>
<p>2. Cabang iman <em>‘amaliyyah</em> (perbuatan anggota tubuh lahir) ditunjukkan oleh “menyingkirkan gangguan”.</p>
<p>3. Cabang iman <em>‘amalul qalb</em> (perbuatan hati) ditunjukkan oleh “malu”.</p>
<p>4. Cabang iman <em>i’tiqadul qalb</em> (ucapan hati/keyakinan) ditunjukkan oleh “ucapan <em>laa ilaha illallah</em>”.</p>
<p>Dan hadis yang agung ini juga menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan berkurang serta bertingkat-tingkat. Sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (artinya: yang paling tinggi adalah perkataan ‘<em>laa ilaha illallah</em>’) dan وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ (artinya: yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan) ini menunjukkan bahwa iman itu bisa naik ke tingkatan paling tinggi, inilah pertambahan iman. Sebaliknya, bisa juga turun ke paling rendah, dan inilah turunnya iman. Sekaligus hal ini menunjukkan bahwa iman itu bertingkat-tingkat.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/66871-penyembah-berhala-di-masa-jahiliyah-juga-beriman.html" data-darkreader-inline-color="">Penyembah Berhala di Masa Jahiliyah Juga Beriman?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bagan tingkatan iman berdasarkan Al Quran surat Fathir ayat 32 dan hadis Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> riwayat Imam Muslim <em>Rahimahullah</em></strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ</span></p>
<p>“<em>Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”</em> (QS. Fathir: 32).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penjelasan surat Fathir ayat 32</strong></span></h2>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>Rahimahullah</em> menjelaskan bahwa manusia dalam keimanan ada tiga tingkatan, yaitu:</p>
<p>1. <em>Zhalim linafsihi</em> (golongan yang menzalimi diri sendiri), yaitu seorang hamba yang berbuat maksiat dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.</p>
<p>2. <em>Muqtashid</em> (golongan pertengahan), yaitu seorang hamba yang melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman.</p>
<p>3. <em>Sabiqun bilkhairat</em> (golongan yang lebih dahulu berbuat kebaikan), yaitu seorang hamba yang melaksanakan perkara yang wajib dan sunah, serta meninggalkan perkara yang haram dan makruh dengan segenap kemampuannya. (<em>Majmu’ Fatawa,</em> 10: 6-7 dengan bahasa bebas) [1].</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadis malaikat jibril <em>‘Alaihis salam</em> riwayat Imam Muslim <em>Rahimahullah</em></strong></span></h2>
<p>Umar bin Al-Khathhab <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>meriwayatkan bahwa Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Beliau bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">&gt;يا محمد، أخبرني عن الإسلام</span></p>
<p>“Wahai (Nabi) Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam”</p>
<p>Lalu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، وتُقيم الصلاة، وتُؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعتَ إليه سبيلًا</span></p>
<p>“Islam adalah Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah apabila mampu.”</p>
<p>Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">صدقتَ</span></p>
<p>“Engkau benar.”</p>
<p>Kami pun heran kepadanya, dia bertanya namun ia pula yang membenarkannya,</p>
<p>Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> berkata</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فأخبرني عن الإيمان</span></p>
<p>“Lalu, kabarkan kepadaku tentang iman.”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن تُؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره</span></p>
<p>“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta Engkau beriman kepada takdir, baik perkara yang ditakdirkan itu kebaikan maupun keburukan.”</p>
<p>Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">صدقتَ</span></p>
<p>“Engkau benar.”</p>
<p>Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam</em> pun berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فأخبرني عن الإحسان</span></p>
<p>“Lalu kabarkan kepadaku tentang ihsan?”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك</span></p>
<p>“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya. Namun jika Engkau tidak mampu (beribadah dengan seakan-akan) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/60461-sedekah-adalah-bukti-keimanan.html" data-darkreader-inline-color="">Sedekah adalah Bukti Keimanan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penjelasan hadis Jibril</strong></span></h2>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>Rahimahullah</em> menjelaskan bahwa dalam hadis Malaikat Jibril <em>‘Alaihis salam </em>di atas, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> membagi agama Islam dan pemeluknya menjadi tiga tingkatan.</p>
<p><strong>Tingkatan pertama: Islam,</strong> pelakunya adalah <em>muslim.</em> Dalam tingkatan ini jika dia meninggalkan kewajiban keimanan, maka disebut muslim yang <em>zhalim linafsihi</em> (golongan yang menzalimi diri sendiri).</p>
<p><strong>Tingkatan kedua: Iman,</strong> pelakunya adalah <em>muqtashid</em>, yaitu seorang <em>mukmin</em> yang sempurna imannya dengan melaksanakan kewajiban keimanan.</p>
<p><strong>Tingkatan ketiga: Ihsan,</strong> ini adalah tingkatan tertinggi. Pelakunya disebut dengan <em>sabiqun bilkhairat</em>, yaitu seseorang <em>muhsin</em> yang beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah.</p>
<p>Barang siapa yang telah mencapai suatu tingkatan di atas, maka tingkatan di bawahnya telah diraih (<em>Majmu’ Fatawa,</em> 7: 357 dengan bahasa bebas) [2].</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> https://dorar.net/aqadia/3280.</p>
<p><strong>[2]</strong> https://dorar.net/aqadia/3280</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60275-kedudukan-iman-kepada-para-rasul.html" data-darkreader-inline-color="">Kedudukan Iman kepada Para Rasul</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60248-bagaimana-bermuamalah-dengan-orang-orang-yang-menyimpang.html" data-darkreader-inline-color="">Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color=""> Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 