
<p><span lang="">Di antara pokok aqidah Islam adalah </span><span lang=""><i>al-wala’ wal bara’. </i></span><span lang="">Seorang muslim yang mengaku cinta kepada Allah Ta’ala dan Rasul-nya </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span><span lang="">maka dituntut untuk membuktikan klaim (pengakuan) tersebut. Yaitu dengan mencintai dan memberikan loyalitas </span><span lang=""><i>(al-wala’) </i></span><span lang="">kepada setiap yang Allah cintai, yaitu orang-orang yang beriman, mencintai tauhid dan orang-orang yang bertauhid. Dan sebaliknya, dia harus membenci, menjauh dan berlepas diri </span><span lang=""><i>(al-bara’) </i></span><span lang="">dari semua yang Allah Ta’ala benci, berupa kekafiran, kemusyrikan, dan para pelakunya. </span><span lang=""><b>[1]</b></span><span lang=""> Meskipun hal ini tidaklah menghalangi kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka, tetap mendakwahi mereka, tidak bersikap dzalim terhadap mereka, atau mencintai mereka sebatas kecintaan yang bersifat tabiat atau naluri sebagai manusia biasa. </span><span lang=""><b>[2]</b></span></p>
<p><span lang="">Akan tetapi, seiring dengan jauhnya umat Islam dari ajaran agama mereka yang murni, maka aqidah </span><span lang=""><i>al-wala’ wal bara’ </i></span><span lang="">ini justru dianggap asing dan aneh, dan akhirnya menjadi rancu dan terbolak-balik. Sebagian umat Islam justru memberikan cinta dan loyalitas </span><span lang=""><i>(al-wala’) </i></span><span lang="">kepada kekafiran dan simbol-simbol kekafiran. Oleh karena itu, kami sebutkan beberapa </span><span lang="id-ID">bentu </span><span lang="id-ID"><i>wala’ </i></span><span lang="id-ID">kepada orang-orang kafir yang sudah terlanjur membudaya di masyarakat kita</span><span lang="">.</span></p>
<h4 lang="id-ID"><span style="color: #ff0000;"><b>Ikut Serta dalam Perayaan Hari Besar Mereka </b></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Inilah salah satu bentuk propaganda kelompok tertentu dengan mengatasnamakan “kerukunan” atau “toleransi” antar umat beragama. Namun toleransi yang dilandasi dengan meruntuhkan dan membuang jauh-jauh terlebih dulu aqidah </span><span lang="id-ID"><i>al-wala’ wal bara’</i></span><i> </i><span lang="">yang diajarkan oleh agama Islam</span><span lang="id-ID"><i>. </i></span><span lang="id-ID">Demi “persatuan antar umat beragama”, mereka membuang dan mencampakkan aqidah Islam</span><span lang="">–</span><span lang="id-ID">nya sendiri dengan bergabung dan ikut serta dalam acara peringatan hari raya orang-orang kafir serta memberi ucapan selamat kepada mereka</span><span lang=""> di hari-hari besar mereka.</span></p>
<p><span lang="id-ID">Padahal Allah Ta’ala</span><i> </i><span lang="id-ID">berfirman</span><span lang=""> ketika menceritakan sifat hamba-hambaNya yang beriman</span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا</p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Dan orang-orang </i></span><span lang="id-ID"><i><u><b>yang tidak menyaksikan perbuatan zur</b></u></i></span><span lang="id-ID"><i><b>, </b></i></span><span lang="id-ID"><i>dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (begitu saja) dengan menjaga kehormatan dirinya</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Furqan </span><span lang="id-ID">[25]: 72)</span></p>
<p><span lang="">Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di </span><span lang=""><i>-rahimahullahu Ta’ala- </i></span><span lang="">menjelaskan,</span></p>
<p align="CENTER">أي: لا يحضرون الزور أي: القول والفعل المحرم</p>
<p>“<span lang=""><i>Maksudnya, mereka tidak menghadiri perbuatan zur, </i></span><span lang=""><i><b>yaitu semua perkataan dan perbuatan yang diharamkan.”</b></i></span><i> </i><span lang=""><b>[3]</b></span></p>
<p><span lang="id-ID">Syaikh </span><span lang="">Dr. </span><span lang="id-ID">Shalih </span><span lang="">Al-</span><span lang="id-ID">Fauzan </span><span lang="">–</span><span lang="id-ID"><i>hafidzahullah</i></span><span lang=""><i>u Ta’ala- </i></span><span lang="id-ID">menjelaskan, maksud ayat ini adalah bahwa di antara sifat hamba-hamba Allah </span><span lang="">Ta’ala </span><span lang="id-ID">adalah tidak menghadiri perayaan hari besar orang-orang kafir.</span> <span lang=""><b>[4]</b></span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="id-ID"><b>Memuliakan dan Mengagungkan Mereka, serta Memuji-muji Akhlak Mereka, tanpa Melihat Aqidah dan Agama Mereka yang Batil dan Rusak</b></span></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Demikianlah sikap sebagian kaum muslimin terhadap orang kafir. Mereka memuliakan dan mengagungkan orang kafir karena menganggap bahwa orang-orang kafir itu lebih hebat dan lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga mereka pun bersikap merendahkan diri mereka sendiri di hadapan orang-orang kafir. Demikianlah kenyataan yang ada, kita sering menjumpai orang yang suka memuji orang kafir atas </span><span lang="">peradaban, </span><span lang="id-ID">kekayaan</span><span lang="">,</span><span lang="id-ID"> dan kemajuan teknologi yang mereka capai, dan mencela saudara mereka sendiri </span><span lang="">(kaum muslimin) </span><span lang="id-ID">karena miskin atau masih jauh tertinggal di belakang orang kafir dalam urusan dunia.</span></p>
<p><span lang="id-ID">Kita tidak mengingkari bahwa pada saat sekarang ini Allah Ta’ala memberikan kepada orang-orang kafir kejayaan, menjadikan mereka sebagai “penguasa” di dunia ini, serta ilmu pengetahuan, teknologi, dan persenjataan mereka lebih unggul dibandingkan dengan kaum muslimin. Akan tetapi, hal ini tidaklah menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu berada di atas kebenaran</span> <span lang=""><i>(al-haq)</i></span><span lang="id-ID">, dan tidak pula menunjukkan bahwa Allah Ta’ala</span><i> </i><span lang="id-ID">meridhai agama dan aqidah mereka. </span></p>
<p><span lang="">Oleh karena itu, Allah Ta’ala tegaskan bahwa orang-orang kafir adalah makhluk paling jelek di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ</p>
<p><span style="color: #000000;">“</span><em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. </span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><b>Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk</b></span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang=""><b>.</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><b>“</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""> (QS. Al-Bayyinah [98]: 6)</span></span></p>
<p><span lang="">Adapun n</span><span lang="id-ID">ikmat yang Allah Ta’ala</span><i> </i><span lang="id-ID">berikan itu hanyalah dalam rangka “hukuman” </span><span lang=""><i>(istidraaj) </i></span><span lang="id-ID">kepada orang-orang kafir tersebut sehingga dosa mereka semakin bertambah-tambah. </span><span lang="">Sehingga berlipat-lipat pula hukuman bagi mereka di akhirat. </span><span lang="id-ID">Allah Ta’ala</span><i> </i><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (55) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ (56)</p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? </i></span><span lang="id-ID"><i><u><b>Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar</b></u></i></span><span lang=""><i><u><b>.</b></u></i></span><span lang="id-ID"><i><b>”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">(QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="id-ID"><b>Menyerupai </b></span><span lang="id-ID"><i><b>(Tasyabbuh) </b></i></span><span lang="id-ID"><b>Mereka dalam Masalah Pakaian dan Ciri Khas Mereka yang Lain</b></span></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Hal ini karena </span><span lang="id-ID"><i>tasyabbuh </i></span><span lang="id-ID">dengan orang-orang kafir </span><span lang="id-ID"><b>dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka</b></span><span lang="id-ID"> adalah tanda kecintaan kepada mereka. Oleh karena itu, Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p align="CENTER">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Abu Dawud</span><span lang=""> no. 4031, hadits ini shahih</span><span lang="id-ID">). </span></p>
<p><span lang="id-ID">Berdasarkan hadits ini, </span><span lang="id-ID"><b>maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka,</b></span><span lang="id-ID"> seperti suka mencukur jenggot dan memanjangkan kumis. Sehingga Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">memerintahkan,</span></p>
<p align="CENTER">خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَوْفُوا اللِّحَى</p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Selisihilah orang-orang musyrik, yaitu pangkaslah kumis </i></span><span lang=""><i>dan biarkanlah (</i></span><span lang="id-ID"><i>lebatkanlah</i></span><span lang=""><i>)</i></span><span lang="id-ID"><i> jenggot</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim</span><span lang=""> no. 259</span><span lang="id-ID">)</span></p>
<p><span lang="id-ID">Dalam hadits yang lain Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">memerintahkan,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ</p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Pangkaslah kumis dan panjangkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi!” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim</span><span lang=""> no. 260</span><span lang="id-ID">)</span></p>
<p><span lang="">Demikianlah beberapa bentuk </span><span lang=""><i>wala’ </i></span><span lang="">(cinta dan loyalitas) kepada orang kafir yang wajib kita jauhi. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kaum muslimin. </span></p>
<p><em><span style="color: #000000;"><span lang=""><b>***</b></span></span></em></p>
<p><span lang="">Dis</span><span lang="id-ID">e</span><span lang="">lesaikan</span> <span lang="">ba’da isya</span><span lang="id-ID">, </span><span lang="">Rotterdam 29 Rabiul Awwal 1438/28 Desember 2016</span></p>
<p lang="id-ID">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p><span lang="id-ID">Penulis: </span><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p><span lang=""><b>Catatan kaki:</b></span></p>
<p><span lang=""><b>[1] </b></span><span lang="">Penjelasan singkat tentang aqidah </span><span lang=""><i>al-wala’ wal bara’ </i></span><span lang="">dapat dilihat pada tautan berikut ini:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><u><a href="https://muslimah.or.id/6845-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-1.html"><span lang="">https://muslimah.or.id/6845-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-1.html</span></a></u></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><u><a href="https://muslimah.or.id/6849-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-2.html"><span lang="">https://muslimah.or.id/6849-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-2.html</span></a></u></span></p>
<p><span lang=""><b>[2] </b></span><span lang="">Silakan dilihat tulisan kami bahwa aqidah </span><span lang=""><i>al-wala’ wal bara’ </i></span><span lang="">tidaklah mengajarkan kedzaliman kepada orang kafir,</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><u><a href="https://muslimah.or.id/6862-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-4.html"><span lang="">https://muslimah.or.id/6862-perayaan-natal-dan-aqidah-al-wala-wal-al-bara-yang-dianggap-usang-4.html</span></a></u></span></p>
<p><span lang=""><b>[3] </b></span><span lang=""><i>Taisiir Karimirrahman,</i></span><i><b> </b></i><span lang="">hal. 587 (Maktabah Syamilah).</span></p>
<p><span lang=""><b>[4] </b></span><span lang=""><i>Al-Irsyaad ila Shahiih Al-I’tiqaad, </i></span><span lang="">hal. 251, cet. Maktabah Salsabila.</span></p>
 