
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: medium;"><b>Hukum Membaca Al-Quran dengan Mushaf saat Hadats Kecil</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><b>Soal:</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;">Bolehkah orang yang dalam keadaan hadats kecil (misalnya setelah bangun tidur / buang air) membaca Al-Quran dengan mushaf (murni al-quran tanpa terjemah)?</span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><b>Jawab</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;">Salah satu jawaban Al-Lajnad Ad-Daimah, “</span><span style="font-size: medium;"><b>Tidak boleh</b></span><span style="font-size: medium;"> seseorang yang sedang </span><span style="font-size: medium;"><b>junub (dalam keadaan berhadats besar)</b></span><span style="font-size: medium;"> membaca Al-Quran, baik ia membaca dengan mushaf atau pun tanpa mushaf (hafalan), hingga ia mandi wajib. Tidak boleh pula membaca Al-Quran dengan mushaf (bukan hafalan) sampai ia bersuci (berwudhu) sempurna dari hadats besar dan hadats kecil.” [Fatawa No. 8859] </span></p>
<p>***</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: medium;"><b>Hukum Lupa Hafalan Al-Quran</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><b>Soal:</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;">Bagaimana hukum penghafal Al-Quran yang lupa dengan hafalannya?</span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><b>Jawab</b></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><b>Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Saudi)</b></span><span style="font-size: medium;"> menjawab, “Maka tidak layak bagi seorang penghafal Al-Quran jika lalai dari membaca Al-Quran dan meremehkan untuk merutinkan membaca Al-Quran. Bahkan sepantasnya ia membaca Al-Quran sebagai </span><span style="font-size: medium;"><i>wiridnya</i></span><span style="font-size: medium;"> (amalan rutin, pent.) dalam rangka membantunya dalam menjaga hafalannya agar tidak lupa. Berharap pahala dan manfaat dari aqidah dan amalan ibadah yang ada di dalam Al-Quran. Akan tetapi, jika ia berusaha menjaga hafalannya namun ia lupa karena kesibukan atau tidak sengaja lupa, maka ia tidaklah berdosa. Adapun riwayat-riwayat tentang ancaman bagi yang lupa hafalannya, tidaklah shahih dari Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">. Wallahul Muwaffiq.” [ <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta</em>’ (4/64)] </span></p>
<p><span style="font-size: medium;">Referensi: <em>Kitabul Adab</em> karya Syaikh Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub</span></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: <a href="http://muslim.or.id/author/wiwit">Wiwit Hardi P.</a></p>
<p>Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 