
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pertama</strong></span></p>
<p>Babi itu haram seluruh bagiannya. Dagingnya, air liurnya, kulitnya, darahnya, lemaknya, semuanya. Ulama ijmak (sepakat) akan hal ini. Tidak ada khilafiah dalam masalah ini.</p>
<p>Ayatnya jelas, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ</span></p>
<p><em>“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”</em> (QS. Al Maa’idah: 3).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالْدَّمَ وَلَحْمَ الْخَنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah”</em> (QS. An Nahl: 115).</p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kedua</strong></span></p>
<p>Selain haram, babi juga najis seluruh bagiannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama yaitu ulama madzhab Syafii, Hambali, dan Hanafi.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ</span></p>
<p><em>“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu <strong>najis</strong>”</em> (QS. Al An’am: 145).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27647-pencucian-benda-yang-terkena-babi-harus-dengan-tanah.html" data-darkreader-inline-color="">Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ketiga</strong></span></p>
<p>Kulit babi tetap najis walaupun sudah disamak. Ini pendapat ulama 4 mazhab. Disebutkan dalam <em>Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah</em> (20: 34),</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اتّفق الفقهاء على أنّه لا يطهر جلد الخنزير بالدّباغ ولا يجوز الانتفاع به لأنّه نجس العين</span></p>
<p>“Para fuqaha sepakat bahwa kulit babi tidak bisa disucikan dengan cara disamak. Dan tidak boleh memanfaatkan kulit babi sama sekali, karena ia <em>najis ‘ain.</em>”</p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keempat</strong></span></p>
<p>Menurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah, najisnya babi adalah najis <em>mughallazhah</em> yang harus disucikan dengan cara dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.</p>
<p>Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 21pt;">طَهُورُ إناءِ أحَدِكُمْ إذا ولَغَ فيه الكَلْبُ، أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بالتُّرابِ</span></p>
<p><em>“Cara mensucikan bejana kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah”</em> (HR. Muslim no.279).</p>
<p>Disebutkan dalam <em>Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah</em> (20/34),</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قالوا‏:‏ فإذا ثبت هذا في الكلب فالخنزير أولى لأنّه أسوأ حالاً من الكلب وتحريمه أشدّ</span></p>
<p>“Para ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyah) mengatakan, hadis ini berlaku untuk anjing. Sedangkan babi lebih buruk keadaannya daripada anjing dan pengharamannya lebih keras lagi.”</p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kelima</strong></span></p>
<p>Jual-beli babi itu tidak sah. Artinya, jual-belinya dianggap batal dan hasilnya haram.</p>
<p>Berdasarkan hadits dari Jabir <em>Radhiallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.” Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh menjual lemak bangkai? Karena ia dapat digunakan untuk mengecat perahu dan meminyaki kulit. Serta dapat dipakai untuk bahan bakar lampu?” Nabi menjawab, “Tidak boleh, ia tetap haram.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda lagi ketika itu, “Semoga Allah memusnahkan orang Yahudi. Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka ubah bentuknya menjadi minyak, kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 1581).</p>
<p>Disebutkan dalam <em>Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah</em> (20: 35):</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أجمع الفقهاء على عدم صحّة بيع الخنزير وشرائه، ولحديث جابر بن عبد اللّه‏</span></p>
<p>“Para fuqaha sepakat tentang tidak sahnya jual-beli babi, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah.”</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27355-makan-daging-babi-karena-tidak-tahu-apa-yang-perlu-dilakukan.html" data-darkreader-inline-color="">Makan Daging Babi Karena Tidak Tahu, Apa Yang Perlu Dilakukan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18155-fatwa-ulama-hukum-menggunakan-barang-dari-kulit-babi.html" data-darkreader-inline-color="">Fatwa Ulama: Hukum Menggunakan Barang Dari Kulit Babi</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 