
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penomoran hadis (<em>tarqimul ahadits</em>)</strong></span></h3>
<p>Perlu diketahui bahwa umumnya para ulama terdahulu menulis kitab-kitab hadis tidak diberi nomor. Namun, nomor diberikan oleh para ulama-ulama setelahnya.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk suatu hadis yang sama, bisa jadi Anda temukan nomornya berbeda antara satu tulisan dengan tulisan yang lain yang menukil hadis tersebut.</p>
<p>Jadi, masing-masing kitab hadis biasanya memiliki beberapa metode penomoran.</p>
<p><strong>Contoh untuk kitab <em>Shahih Al-Bukhari</em>, minimal ada 3 metode penomoran yang <em>masyhur</em>:</strong></p>
<ul>
<li>Metode penomoran Ibnu Hajar dalam kitab <em>Fathul Baari</em>
</li>
<li>Metode penomoran Syekh Musthafa Bugha</li>
<li>Metode penomoran <em>Al-‘Alamiyyah </em>(yang dipakai aplikasi Lidwa)</li>
</ul>
<p><strong>Untuk kitab <em>Shahih Muslim</em>, minimal ada 2 metode penomoran:</strong></p>
<ul>
<li>Metode penomoran Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi</li>
<li>Metode penomoran <em>Al-‘Alamiyyah</em>
</li>
</ul>
<p><strong>Untuk kitab <em>Sunan At-Tirmidzi</em>, minimal ada 2 metode penomoran:</strong></p>
<ul>
<li>Metode penomoran Syekh Ahmad Syakir</li>
<li>Metode penomoran <em>Al-‘Alamiyyah</em>
</li>
</ul>
<p>Jadi, kalau menemukan nomor hadis yang berbeda untuk hadis yang sama, jangan buru-buru mengklaim penulisnya dusta. Cek dulu lebih teliti.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58413-faidah-hadits-tentang-keutamaan-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Faidah Hadits Tentang Keutamaan Ilmu</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Beberapa kaidah dalam penulisan <em>takhrij</em> hadis</strong></span></h3>
<h3><strong style="font-size: 16px;">Pertama, sebutkan takhrij hadis dari kitab <em>mutaqaddimin.</em></strong></h3>
<p>Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx</p>
<p>Hindari sebisa mungkin penyebutan takhrij hadits dari kitab <em>muta’akhirin</em>.</p>
<p>Contoh kurang tepat: HR. An-Nawawi dalam <em>Al Arba’in </em>no. xxx, HR. Al-Haitsami dalam <em>Majma’ Az-Zawaid </em>no. xx, HR. Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jami’</em> no. xxx</p>
<p><strong>Kedua, usahakan menyebutkan sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ketika menukil hadis.</strong></p>
<p>Contoh: <em>“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda …”</em></p>
<p>Jika tidak, maka sebutkan di <em>takhrij</em> hadis.</p>
<p>Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx dari sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p><strong>Ketiga, jika menyebutkan <em>takhrij</em> dari beberapa kitab, sebutkan secara berurutan.</strong></p>
<p>Ada 2 pilihan metode yang biasa digunakan para ulama:</p>
<p>Pilihan pertama, urutan berdasarkan tahun wafat, yang lebih dahulu wafatnya lebih dahulu disebutkan.</p>
<p>Contoh:</p>
<ul>
<li>Malik (wafat 179H)</li>
<li>Asy-Syafi’i (wafat 204H)</li>
<li>Al-Bukhari (wafat 256H)</li>
<li>Muslim (wafat 261H)</li>
<li>Abu Daud As-Sijistani (wafat 275H)</li>
<li>At-Tirmidzi (wafat 279H)</li>
</ul>
<p>Sehingga penulisan yang benar: HR. Malik no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Abu Daud no. xxx</p>
<p>Contoh yang keliru: HR. At-Tirmidzi no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Malik no. xxx</p>
<p>Pilihan kedua, urutan berdasarkan kemasyhuran dan keagungan penulisnya.</p>
<ul>
<li>
<em>Shahih Bukhari</em> dan <em>Shahih Muslim</em> disebutkan lebih dulu dari yang lain</li>
<li>Kitab-kitab Al-Bukhari disebutkan lebih dahulu dari kitab yang lain</li>
<li>
<em>Kutubus Sittah</em> lebih didahulukan dari yang lain.</li>
<li>Kitab hadis yang lebih dikenal lebih didahulukan dari kitab yang kurang dikenal</li>
</ul>
<p>Contoh yang benar: HR. Bukhari no. xxx, HR. Muslim no. xxx, HR. Abu Daud no. xxx</p>
<p>Contoh yang keliru: HR. Al-Baihaqi dalam <em>Dalail An-Nubuwwah</em> no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx, HR. Bukhari no.xxx</p>
<p><strong>Keempat, ketika sebuah hadis tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam <em>Shahih Bukhari</em> dan atau Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim</em>, dan tidak dikenal status kesahihannya, maka sebutkan penghukuman hadisnya setelah <em>takhrij.</em></strong></p>
<p>Contoh yang kurang tepat: HR. Al-Hakim (tidak ada keterangan sahih atau tidak).</p>
<p>Contoh yang benar: HR. Al-Hakim no. xxx, beliau mengatakan: “sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.</p>
<p>Contoh benar yang lain: HR. Al-Baihaqi no.xxx, disahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Silsilah Ash-Shahihah</em> no. xxx</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58384-kedudukan-ilmu-dan-ulama-hadits.html" data-darkreader-inline-color="">Kedudukan Ilmu dan Ulama Hadits</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Apa yang dimaksud dengan <em>takhrij</em> hadis?</strong></span></h3>
<p><em>Takhrij</em> adalah seorang ulama hadis menyebutkan sanad suatu hadis mulai dari menyebutkan gurunya sampai kepada ujung sanad. Ujung sanad ini bisa Rasulullah s<em>hallallahu ‘alaihi wasallam</em>, atau sahabat Nabi, atau yang lainnya.</p>
<p>Contoh, ketika kita mendapati perkataan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أخرجه البخاري في صحيحه</span></p>
<p>“Al-Bukhari men-<em>takhrij</em>* hadis ini dalam <em>Shahih</em>-nya”.</p>
<p>Maka maksudnya, Al-Bukhari menyebutkan sanad hadis tersebut dari gurunya sampai kepada ujung sanadnya di kitab <em>Shahih Al-Bukhari</em>.</p>
<p>Namun, ada makna lain dari “<em>takhrij</em>” yang ini masyhur di kalangan ulama <em>mu’ashirin</em> (zaman sekarang).</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">عزو الأحاديث إلى من ذكرها في كتابه من الأئمة وبيان درجتها من الصحة أو الحسن أو الضعف</span></p>
<p>“Takhrij adalah menyandarkan hadis-hadis kepada para imam hadis yang menyebutkannya pada kitab-kitab mereka. Serta menjelaskan derajat hadis tersebut apakah <em>shahih</em> atau <em>dha’if.</em>” (<em>Hasyiyah Kitab Al-Wasith fi Ulumi Musthalahil Hadits</em>, hal. 353)</p>
<p>Contohnya, setelah menyebutkan hadis lalu disebutkan bahwa hadis tersebut riwayat Al-Bukhari nomor sekian, riwayat Muslim nomor sekian, riwayat At-Tirmidzi nomor sekian disahihkan oleh Al-Albani, riwayat Al-Hakim juz sekian halaman sekian disahihkan oleh Adz-Dzahabi, dan semisalnya. Ini juga disebut <em>takhrij</em> hadis.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>*) sering diterjemahkan: “mengeluarkan”</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27741-hadits-palsu-tentang-ilmu-ladunni.html" data-darkreader-inline-color="">Hadits Palsu Tentang Ilmu Ladunni</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21020-hadits-palsu-saya-kota-ilmu-dan-ali-pintunya.html" data-darkreader-inline-color="">Hadits Palsu: Saya Kota Ilmu Dan Ali Pintunya</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 