
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan</span></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Manakah yang lebih </span><i><span style="font-weight: 400;">afdhal </span></i><span style="font-weight: 400;">(lebih utama)</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> menuntut ilmu agama </span><i><span style="font-weight: 400;">(thalabul ‘ilmi) </span></i><span style="font-weight: 400;">ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Tentu) menuntut ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">(thalabul ‘ilmi) </span></i><span style="font-weight: 400;">terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” </span><b>(QS. Yusuf [12]: 108)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan </span><i><span style="font-weight: 400;">fiqh, </span></i><span style="font-weight: 400;">ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Kasongan, 8 Muharram 1442/ 28 Agustus 2020</span></p>
<p><b>Penulis: M. Saifudin Hakim</b></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab </span><strong><i>Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, </i></strong><span style="font-weight: 400;">hal. 146 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)</span></p>
 