
<p><span>Apakah Anda termasuk orang yang suka bercanda? Ataukah Anda adalah orang yang sangat serius dan tidak suka bercanda? Apakah Anda termasuk orang yang banyak tertawa? Ataukah Anda termasuk orang yang tidak sering tertawa?</span></p>
<p><span>Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai watak dan perilaku. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya orang yang memiliki watak demikian. Karena tertawa adalah fitrah manusia, yang tidak diberikan kepada hewan. Apakah pembaca pernah mendapatkan hewan yang tertawa? Jujur saja penulis sendiri belum pernah mendapatkannya. Mungkin, kalau pun ada itu hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan sangat jarang sekali.</span></p>
<p><span>Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah </span><span><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span>, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span>(( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>, </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.))</span></span></p>
<p>“<span><em>Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati</em>.”</span><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></p>
<p><span>Apakah Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> tidak pernah tertawa? Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> pernah tertawa. Banyak </span><span><i>hadits</i></span><span> yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud </span><span><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span> dalam </span><span><i>hadits</i></span><span><i>qudsi</i></span><span> yang panjang, Allah </span><span><i>ta’ala</i></span><span> berkata kepada anak adam:</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span>(( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا ابْنَ آدَمَ مَا يَصْرِينِى مِنْكَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>, </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">أَيُرْضِيْكَ أَنْ أُعْطِيَكَ الدُّنْيَا وَمِثْلَهَا مَعَهَا؟</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>))</span></span></p>
<p>“<em>Wahai anak adam! Saya tidak akan menghalangi apa yang engkau inginkan. Apakah engkau ridha</em><span><em> jika saya berikan kepada engkau dunia dan ditambah dengan yang semisalnya?</em> “</span></p>
<p><span>Anak Adam itu pun berkata:</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span>(( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا رَبِّ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّيْ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>))</span></span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku! Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabb</em><span><em> alam semesta?</em>”</span></p>
<p><span>Kemudian Ibnu Mas’ud pun tertawa dan berkata, “Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku, mengapa aku tertawa?” Murid-murid Ibnu Mas’ud pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa?” Beliau menjawab, “Seperti inilah Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> tertawa. Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah, ‘Mengapa engkau tertawa, ya Rasulullah?’ Beliau pun menjawab:</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span>(( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">مِنْ ضِحْكِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حِيْنَ قَالَ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّيْ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ فَيَقُوْلُ إِنِّيْ لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ وَلَكِنِّيْ عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.))</span></span></p>
<p>‘<em>Karena tawanya Rabb alam semesta ketika dia (anak adam) berkata: Apakah Engkau mengejekku sedangkan Engkau adalah Rabb</em><span><em> alam semesta?’ Kemudian Allah berkata, ‘Sesungguhnya Aku tidak mengejekmu, tetapi semua yang Aku inginkan Aku mampu.’.</em>”</span><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></p>
<p><span>Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> pada </span><span><i>hadits</i></span><span> di atas melarang seseorang untuk banyak tertawa dan bukan melarang seseorang untuk tertawa. Tertawa yang banyak dan berlebih-lebihanlah yang mengandung celaan.</span></p>
<p><span>Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> juga pernah bercanda. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah </span><span><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span>, para sahabat pernah berkata kepada Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> :</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span>( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>)</span></span></p>
<p>“<span><em>Ya Rasulullah! Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.</em>”</span></p>
<p><span>Beliau pun berkata:</span></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><span>(( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">إِنِّيْ لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.))</span></span></p>
<p>“<span><em>Sesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang haq (benar).</em>”</span><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></p>
<p><span>Di antara canda-canda Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> tercantum pada dua </span><span><i>hadits</i></span><span> berikut:</span></p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><strong>Hadits 1</strong></span></h4>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>–</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>– </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَقَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: ( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا رَسُوْلَ اللَّهِ احْمِلْنِى</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.) </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">قَالَ النَّبِىُّ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>–</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>-: (( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">إِنَّا حَامِلُوكَ عَلَى وَلَدِ نَاقَةٍ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>)). </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">قَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: (</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَمَا أَصْنَعُ بِوَلَدِ النَّاقَةِ؟</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>) </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَقَالَ النَّبِىُّ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>–</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>-: (( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَهَلْ تَلِدُ الإِبِلَ إِلاَّ النُّوقُ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.))</span></span></p>
<p><span>Diriwayatkan dari Anas </span><span><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span> bahwasanya seseorang mendatangi Nabi </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span>. Dia pun berkata, “Ya Rasulullah! Angkatlah saya (ke atas onta)!” Nabi </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> pun mengatakan, “Sesungguhnya kami akan mengangkatmu ke atas anak onta.” Lelaki itu pun berkata, “Apa yang saya lakukan dengan seekor anak onta?” Nabi </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> bersabda, “<em>Bukankan onta-onta perempuan melahirkan onta-onta?</em>”</span><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></p>
<p><span>Beliau mencandai orang tersebut dengan menyebut ontanya dengan anak onta. Orang tersebut memahami perkataan beliau sesuai zahirnya, tetapi bukankah semua onta yang ada adalah anak-anak dari ibu onta?</span></p>
<h4><span style="text-decoration: underline;"><strong>Hadits 2</strong></span></h4>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">عَنِ الْحَسَنِ قَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>–</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>–</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">، فَقَالَتْ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: (</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>) </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَقَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: ((</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا أُمَّ فُلاَنٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>.)) </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">قَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَوَلَّتْ تَبْكِي فَقَالَ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: (( </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>: { </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>0</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>0</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">عُرُبًا أَتْرَابًا </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span>} )).</span></span></p>
<p><span>Diriwayatkan dari Al-Hasan </span><span><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span>, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span>. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘<em>Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah </em></span><em>ta’ala</em><span><em> mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.</em>” (QS Al-Waqi’ah)</span><a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></p>
<p><span>Jika kita perhatikan </span><span><i>hadits</i></span><span>–</span><span><i>hadits</i></span><span> di atas, maka kita akan mendapatkan bahwa Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span> bercanda pada beberapa keadaan tertentu, tetapi canda beliau tidak mengandung kedustaan dan selalu benar.</span></p>
<p><span>Orang yang terlalu serius dan selalu terlihat tegang dan kaku, kehidupannya akan terasa sangat penat dan suntuk. Orang jenis ini seharusnya memasukkan canda di dalam hidupnya sehingga terhindar dari pengaruh buruk tersebut.</span></p>
<p><span>Sebaliknya orang yang terlalu sering bercanda, maka sebaiknya dia belajar untuk dapat melatih lisannya agar bisa terbiasa diam dan hanya berbicara pada hal-hal yang bermanfaat saja.</span></p>
<p><span>Seorang penyair terkenal, Abul-Fath Al-Busti</span><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a><span><em> rahimahullah</em> pernah mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">أَفْدِ طَبْعَك الْمَكْدُودَ بِالْجِدِّ رَاحَةً </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يُجَمُّ وَعَلِّلْهُ بِشَيْءٍ مِنْ الْمَزْحِ </span></span></span></span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَلَكِنْ إذَا أَعْطَيْتَهُ الْمَزْحَ فَلْيَكُنْ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">بِمِقْدَارِ مَا تُعْطِي الطَّعَامَ مِنْ الْمِلْحِ</span></span></span></span></p>
<p><span><i>Berikanlah istirahat pada tabiat kerasmu yang serius</i></span></p>
<p><span><i>Dirilekskan dulu dan hiasilah dengan sedikit canda</i></span></p>
<p><span><i>Tetapi jika engkau berikan canda kepadanya, jadikanlah ia</i></span></p>
<p><span><i> Seperti kadar engkau memasukkan garam pada makanan</i></span></p>
<p><span>Layaknya makanan, apabila tidak diberi garam maka dia akan terasa hambar. Akan tetapi, jika terlalu banyak diberikan garam, maka tidak akan enak untuk dimakan.</span></p>
<p><span>Sesuatu yang berlebih-lebihan, kebanyakan akan membawa dampak buruk. Sama halnya dengan bercanda dan tertawa. Apabila terlalu sering bercanda dan tertawa, maka akan mengakibatkan banyak keburukan.</span></p>
<p><span>Di antara keburukan-keburukan orang yang sering bercanda dan tertawa adalah sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<span>Hatinya menjadi mati, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah </span><span><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam<br>
Jika hati seseorang mati, maka akan berakibat buruk baginya, di antaranya: Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan, tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan, tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah</i><i> subhanahu wa ta’ala, </i>tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allah<i>, </i>bertambahnya kecintaannya terhadap dunia dan mendahulukannya atas akhirat, tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah, bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya, tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan <i>ma’ruf</i> dan <i>munkar</i> dll.<a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></span>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span><span>Menyibukkan diri sehingga tidak mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan tidak memiliki wibawa<br>
Oleh karena itu Imam Al-Mawardi pernah mengatakan:<br>
<span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَأَمَّا الضَّحِكُ فَإِنَّ اعْتِيَادَهُ شَاغِلٌ عَنْ النَّظَرِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ ، مُذْهِلٌ عَنْ الْفِكْرِ فِي النَّوَائِبِ الْمُلِمَّةِ</span></span></span></span><span style="color: #000000;">.<br>
<span style="font-family: Tahoma;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَلَيْسَ لِمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ هَيْبَةٌ وَلَا وَقَارٌ، وَلَا لِمَنْ وُصِمَ بِهِ خَطَرٌ وَلَا مِقْدَارٌ</span></span></span></span><span>.</span></span></span></span> 
<p>…Adapun tertawa, apabila seseorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukannya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.<a href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></p>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li><span>Menimbulkan permusuhan secara tidak sengaja dan lain-lain.</span></li>
</ol>
<p><span>Bercanda pun memiliki adab-adab. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperhatikan adab-adab tersebut. Di antara adab-adab bercanda adalah sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<span><span>Tidak boleh ada kedustaan di dalam canda tersebut.<br>
Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:<br>
<span style="color: #000000;">( <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ</span></span></span></span><span style="color: #000000;">.)<br>
<span style="color: #333333;">“</span><span style="color: #333333;">Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.”</span><sup><a href="#sdfootnote9sym">9</a></sup></span></span></span> 
<p>Di zaman sekarang ini, banyak orang yang bekerja sebagai pelawak. Kebanyakan mereka tidak bisa menjaga lisannya dari kedustaan. Oleh karena itu, sebaiknya mereka segera mencari pekerjaan lain yang benar-benar terhindar dari hal yang diharamkan.<br>
Begitu pula kepada para muballigh yang gemar membuat orang tertawa, sudah sepantasnya isi ceramahnya jangan mengada-ada, harus ilmiah dan memiliki rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan.</p>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span><span>Tidak boleh ada unsur penghinaan atau pelecehan terhadap agama Islam<br>
<span style="color: #000000;">{ <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ </span></span></span></span><span style="color: #000000;">(65) <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ </span></span></span></span><span style="color: #000000;">(66) }<br>
<span style="color: #333333;">“ </span><span style="color: #333333;">(65) Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah : 65-66)</span></span></span></span>Di zaman sekarang ini, banyak orang yang suka mengejek ajaran agama Islam dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Sebagai contoh: penghinaan terhadap jenggot dan mengatakan orang yang memanjangkan jenggotnya seperti kambing, penghinaan terhadap jilbab dan mengatakan itu hanya pakaian orang gurun, penghinaan terhadap cadar dan mengatakan bahwa itu ciri-ciri teroris, penghinaan terhadap orang yang tidak isbal (mengenakan kain di bawah mata kaki) dan mengatakan bahwa orang itu kebanjiran dan lain-lain.
<p>Berdasarkan ayat di atas orang yang menghina ajaran Islam <b>terancam</b> untuk keluar dari agama Islam, disadari maupun tidak. Oleh karena itu, jangan sampai kita menganggap remeh permasalahan-permasalahan seperti ini.</p>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<span><span>Tidak boleh ada unsur ghibah dan peremehan terhadap seseorang, suku atau bangsa tertentu</span></span> 
<p><span style="color: #000000;">{ <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ </span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;">(11) }</span></span> </p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiridan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujurat: 11)</p>
</li>
</ol>
<ol start="4">
<li>
<span><span>Tidak boleh mengambil barang orang lain, meskipun bercanda</span></span> 
<p><span style="color: #000000;">(( <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;">.))</span></span> </p>
<p>“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.”<sup></sup><sup><a href="#sdfootnote10sym">10</a></sup> </p>
<p>Meskipun bercanda, mengambil barang teman dengan tujuan menyembunyikan dan membuat dia bingung, hal tersebut tidak diperkenankan di dalam agama Islam.</p>
</li>
</ol>
<ol start="5">
<li>
<span><span>Tidak boleh menakut-nakuti orang lain.</span></span> 
<p><span style="color: #000000;">(( <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;">.))</span></span> </p>
<p>“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.”<a href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></p>
</li>
</ol>
<ol start="6">
<li>
<span><span>Tidak boleh menghabiskan waktu hanya untuk bercanda</span></span> 
<p><span style="color: #000000;">(( <span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: large;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;">.))</span></span> </p>
<p>“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya.”<a href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></p>
</li>
</ol>
<ol start="7">
<li><span>Tidak boleh berbicara atau melakukan hal-hal yang melanggar syariat, seperti: menyebutkan ciri-ciri wanita yang tidak halal baginya kepada orang lain, menipu, melaknat dll.</span></li>
</ol>
<p><span>Demikianlah beberapa penjelasan tentang canda dan tawa yang tercela dan yang diperbolehkan. Mudah-mudahan kita semua dapat mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.</span></p>
<p><span><b>Daftar Pustaka</b></span></p>
<ol>
<li>
<span><i>Adabud-Dunya wad-Din. </i></span><span>‘Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi. </span><span><i>Tahqiq</i></span><span>: Muhammad Karim Rajih. Dar Iqra’.</span>
</li>
<li>
<span><i>Al-Bidayah wan-Nihayah</i></span><span>. Abul-Fida’ Isma’il bin’Umar bin Katsir. </span><span><i>Tahqiq</i></span><span>: ‘Ali Syairi. Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.</span>
</li>
<li>
<span><i>Dzammu Qaswatil-Qalb</i></span><span>. Al-Hâfidzh Ibnu Rajab Al-Hanbali dan </span><span><i>Muqaddimah muhaqqiq</i></span><span>-nya, Abu Maryam Thâriq bin ‘Âtif hijâzi. Dâr Ibni Rajab.</span>
</li>
<li>
<span><i>Dzammul-Hawa</i></span><span>. ‘Abdurrahmân bin Abil-Hasan Al-Jauzi. </span><span><i>Tahqiq</i></span><span> : Mushthafa ‘Abdul-Wahid.</span>
</li>
<li>
<span><i>Al-Maraah fil-mizaah</i></span><span>. Abul-Barakaat Badruddin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazi. </span><span><i>Tahqiq</i></span><span>: Bassam bin ‘Abdil-Wahhab Al-Jabi. Dar Ibni Hazm.</span>
</li>
<li>
<span><i>Walaa tuktsiridh-dhahik, fainna katsratadh-dhahik tumitul-qalba</i></span><span>. Dr. Badr bin ‘Abdil-Hamid. (http://www.saaid.net/Doat/hamesabadr/26.htm)</span>
</li>
<li>
<span>Dan lain-lain, sebagian besar tercantum pada </span><span><i>footnotes</i></span><span>.</span>
</li>
</ol>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote1anc">1</a><sup></sup> HR At-Tirmidzi no. 2305. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (<i>Shahih Sunan At-Tirmidzi</i>.)</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote2anc">2</a><sup></sup> HR Muslim no. 310.</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote3anc">3</a><sup></sup> HR At-Tirmidzi no. 1990. Syaikh Al-Albani berkata, “<i>Shahih</i>.” (<i>Ash-Shahihah</i> IV/304).</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote4anc">4</a><sup></sup> HR Abu Dawud no. 5000 dan At-Tirmidzi no. 1991. Syaikh Al-Albani berkata, “<i>Shahih</i>.” (<i>Shahih Sunan Abi Dawud</i> dan <i>Shahih Sunan At-Tirimidzi</i>).</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote5anc">5</a><sup></sup> HR At-Tirmidzi dalam <i>Syamaa-il-Muhammadiyah</i> no. 240. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (<i>Mukhtashar Syamaa-il</i> dan <i>Ash-Shahiihah</i> no. 2987).</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote6anc">6</a><sup></sup> <i>Adabud-Dunya wad-Din</i> hal. 319 dan <i>Al-Bidayah wan-Nihayah</i> (XI/316)</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote7anc">7</a><sup></sup> Lihat: <i>Hinanya Hati Yang Keras</i>. Said Yai. Majalah As-Sunnah.</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote8anc">8</a><sup></sup> <i>Adabud-Dunya wad-Din</i> hal.321.</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote9anc">9</a><sup></sup> HR Abu Dawud no. 4990. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (<i>Shahih Targhib wat-Tarhiib</i> no. 2944).</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote10anc">10</a><sup></sup> HR Abu Dawud no. 5003. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (<i>Shahih Sunan Abi Dawud</i>)</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote11anc">11</a><sup></sup> HR Abu Dawud no. 5004, . Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih.” (<i>Shahih Sunan Abi Dawud</i>)</span></p>
</div>
<div>
<p><span style="font-size: small;"><a href="#sdfootnote12anc">12</a><sup></sup> HR At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976.</span></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Yai, Lc.<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 