
<h2><strong>Berdakwah Lewat Whatsapp</strong></h2>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Berdakwah bukan hanya tanggung jawab tokoh agama.Setiap mukmin memiliki beban berdakwah sesuai kemampuannya. Salah satu cara dakwah yang paling mudah adalah sebar nas</em><em>I</em><em>hat melalui pesan singkat. </em><em>Tapi </em><em>jangan salah, </em><em>cara dahwah itu </em><em>ada aturannya</em></p>
<p><strong>Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p>Dengan sarana komunikasi kita mudah meraih pahala. Dengan <em>handphone</em> mungil, mengirim <em>Whatsapp</em> (WA) kepada kerabat atau <em>shohib</em> dekat berisi nasihat yang menyentuh <em>qolbu</em>, kita pun bisa meraih pahala. Nasihat itu bisa kita dapatkan dari bacaan buku atau seorang ustadz, lalu kita <em>forward</em> ke nomor kontak lainnya.</p>
<p>Berikut ini tip sederhana untuk mendapatkan pahala lewat dakwah melalui pesan singkat, walau mungkin kita bukan seorang <em>da’i,</em> sekadar pem<em>-forward</em> pesan.</p>
<p><strong>Keutamaan Berdakwah</strong></p>
<p>Nasihat sederhana seperti ajakan sholat, penjelasan keutamaan suatu amalan, ajakan mengerjakan puasa sunnah, penjelasan perihal hukum Islam, bahaya keyakinan menyimpang dan amalan tanpa dasar, bisa menjadi pesan dakwah sederhana. Walau sederhana, namun kita bisa meraih pahala dari orang yang mengikuti ajakan kita.</p>
<p>Rasulullah <em>S</em><em>hallallahu</em> <em> ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.</em>” –HR Muslim</p>
<p>Ada tiga tanda umat terbaik: gemar mengajak pada kebaikan (<em>ma’ruf</em>) dan mencegah kemungkaran (<em>munkar</em>) serta beriman kepada Allah. Dalam suatu ayat disebutkan (yang artinya), “<em>Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.</em>”—QS Ali Imron: 110</p>
<p>Allah juga memuji para <em>da’i </em>karena memiliki perkataan yang baik, berupa ajakan dakwahnya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “<em>Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?</em>”—QS Fushshilat: 33</p>
<p>Di samping itu, seorang <em>da’i </em>juga dijanjikan akan mendapat <em>shalawat</em> dari penduduk langit dan bumi. Dari Abu Umamah Al Bahili <em>R</em><em>adhiyallahu ‘anhu, </em>bahwa Rasulullah <em>S</em><em>hallallahu</em> <em> ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua  bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia</em>.”—HR Tirmidzi ( <em>shahih</em>)</p>
<p><strong>Modal Dakwah</strong></p>
<p>Berdakwah tidak bisa hanya asal-asalan. Ada modal yang mesti dimiliki. Ibnu Taimiyah <em>R</em><em>ahimahullah </em>menjelaskan bahwa ada tiga modal bagi setiap pengajak kebaikan dan orang yang mencegah kemungkaran. Modal tersebut adalah ilmu, sikap lemah lembut dan sabar. Ilmu harus dimiliki sebagai modal dakwah. Lemah lembut harus ada sebagai penghias nasihat. Sementara sabar sangat dibutuhkan untuk menghadapi setiap gangguan atau sikap bosan karena hidayah belum kunjung datang pada sasaran dakwah.</p>
<p>Tidak boleh seseorang berdakwah asal-asalan, tanpa didasari ilmu, seperti menyampaikan sesuatu yang tidak pernah dituntunkan oleh Islam (baca: <em>bid’ah</em>).  Seringkali kami jumpai orang yang menyebarkan amalan lewat WA, SMS atau pesan BBM. Padahal amalan tersebut tidak diketahui dasarnya, apakah dari hadits <em>shahih</em> ataukah <em>dho’if</em> (hadits lemah). Hanya sekadar mem-<em>forward</em>, tanpa melakukan cek dan ricek pada orang yang lebih berilmu. Ingat, dakwah termasuk ibadah. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “<em>Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia dia timbulkan lebih banyak dari pada kebaikannnya</em>.”</p>
<p>Begitu pula dakwah mesti dengan lemah lembut, tidak bisa langsung dengan kekerasan atau kata-kata kasar. Dakwah semacam ini pasti membuat orang lain sulit menerima. Rasul <em>S</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memberikan petuah berharga, “<em>Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia menyukai kelembutan. Dia akan memberi kebaikan karena sikap kelembutan yang tidak Dia berikan jika bersikap kasar</em>.” –HR Muslim</p>
<p>Selanjutnya, setelah melakukan <em>amar ma’ruf nahi mungkar</em> (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), haruslah ada sikap sabar terhadap setiap gangguan. Ibnu Taimiyah berkata, “<em>Setiap orang yang ingin melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pastilah mendapat rintangan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bersabar, maka hanya akan membawa dampak kerusakan dari pada mendatangkan kebaikan</em>.”</p>
<p>Lukman pernah berkata pada anaknya, “<em>Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)</em>.” –QS Luqman: 17</p>
<p><strong>Berandil dalam D</strong><strong>akwah</strong></p>
<p>Dengan tiga modal utama ini: didasari ilmu, disertai sikap lemah lembut dan miliki sifat sabar, seseorang sudah boleh berdakwah.</p>
<p>Disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah <em>S</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat</em>” .—HR. Bukhari</p>
<p>Yang dimaksud dengan hadits itu adalah sampaikan kalimat yang bermanfaat. Bisa jadi dari ayat Al-Quran atau hadits–lihat <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 7: 360. Asalkan yang disampaikan benar atau <em>shahih</em>. Bukan ilmu atau amalan yang asal-asalan dan tanpa tuntunan (alias: <em>bid’ah</em>), maka sampaikanlah.</p>
<p>Sekarang Anda bisa memanfaatkan <em>handphone</em> Anda, BBM (BlackBerry Messenger), atau jaringan sosial Anda di Facebook atau Twitter untuk berdakwah dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih manfaat, atau dalam rangka menuai pahala. Coba manfaatkan sarana-sarana tadi melalui pesan singkat, memberi nasihat sederhana, ajakan untuk beramal atau penjelasan untuk suatu kemungkaran. Nasihat yang beredar saat ini bisa Anda peroleh dari buku bacaan, nasihat seorang ustadz atau dari tulisan di sebuah <em>website</em> yang Anda telusuri.</p>
<p>Di sinilah Anda bisa mendapatkan keutamaan amar ma’ruf nahi mungkar. Tentu saja dakwah dimulai dengan amalan oleh diri sendiri, memperbaiki diri, hari demi hari dan mencerminkan akhlak mulia, sehingga orang yang kita ajak bisa tertarik pada dakwah kita.</p>
<p>Rasulullah <em>S</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memberi nasihat berharga, “<em>Sesungguhnya kalian tidak dapat menarik hati orang dengan harta kalian. Kalian hanya dapat membuat hati mereka tertarik dengan wajah berseri dan akhlak luhur kalian</em>.”—HR Al Bazzar dalam <em>musnad</em>nya dan Abu Nu’aim dalam <em>Al Hilyah</em>, <em>hasan</em> dilihat dari jalur lainnya</p>
<p>Ingatlah, tugas kita hanya menyampaikan. Sedangkan hidayah hanyalah datang dari Allah.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.</em>”—QS Al Qashshash: 56</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em> ***<strong> </strong></p>
<p><strong>Pull quote:</strong></p>
<ol>
<li><em>Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya.</em></li>
<li>Tiga tanda umat terbaik:gemar mengajak pada kebaikan (<em>ma’ruf</em>), dan mencegah kemungkaran (<em>munkar</em>), serta beriman kepada Allah.</li>
<li>“<em>Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia dia timbulkan lebih banyak dari pada kebaikannnya</em><em>.”</em>
</li>
<li>Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ada tiga modal utama dakwah: ilmu, sikap lemah lembut dan sabar.</li>
</ol>
 