
<p>Diriwayatkan dari sahabat ‘Utsman <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ</span></p>
<p>“<em>Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya’</em>” (HR. Abu Dawud no. 3221, Al-Hakim 1: 370).</p>
<p>An-Nawawi <em>Rahimahullah </em>berkata, “Sanadnya <em>jayyid”</em> (<em>Al-Majmu’, </em>5: 292).</p>
<p>An-Nawawi <em>Rahimahullah </em>juga berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan” (Lihat <em>Al-Khulashah, </em>2: 1028-1029 dan <em>Al-Adzkar, </em>hal. 147).</p>
<p>Hadis ini dinilah sahih oleh Al-Albani <em>Rahimahullah</em> dalam <em>Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud </em>(1: 2), <em>Misykat Al-Mashabih </em>(1: 29), dan lain-lain.</p>
<p>Terdapat beberapa faidah yang bisa diambil dari hadis ini.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Faidah pertama</strong></span></h2>
<p>Hadis ini menunjukkan disunnahkannya berdiri sejenak di kubur setelah selesai memakamkan jenazah, untuk mendoakan jenazah agar mendapatkan ampunan, dan agar jenazah diberi ketetapan dan keteguhan ketika mendapatkan pertanyaan malaikat. Dan hendaknya, dia juga memerintahkan orang lain yang hadir di pemakaman ketika itu untuk ikut berdiri sejenak dan mendoakannya. Jenazah dalam kondisi semacam itu sangat membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup dibandingkan ketika sebelum dimakamkan, karena merupakan masa adanya fitnah dan ujian di alam kubur (yaitu adanya pertanyaan malaikat) (lihat <em>Ighatsah Al-Lahfan, </em>1: 202).</p>
<p>Berdasarkan hadis di atas, kita bisa berdoa dengan mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ اغْـفِـرْ لَــهُ</span></p>
<p><em>“ALLAHUM-MAGHFIR LAHU”</em> (Ya Allah, ampunilah dia)</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ ثَـــبـِّـــتْهُ</span></p>
<p><em>“ALLAHUMMA TSABBIT HU”</em> (Ya Allah, berilah keteguhan kepadanya).</p>
<p>Atau doa-doa semisal itu.</p>
<p>Doa untuk jenazah ini tidak memiliki batas jarak tertentu. Adapun hadis yang terdapat dalam <em>Shahih Muslim, </em>dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا</span></p>
<p><em>“Apabila kalian menguburkanku, maka taburkanlah tanah padaku, kemudian berdirilah kalian di sekitar makamku sekitar jarak unta disembelih dan dibagikan dagingnya”</em> (HR. Muslim no. 121)</p>
<p>Perkataan ini hanyalah bersumber dari ijtihad beliau <em>Radhiyallahu ‘anhu. </em>Dan tidak terdapat penjelasan dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>tentang penentuan batas (jarak) dalam hal ini. Artinya, meskipun seseorang tidak ikut memakamkan dan berada di tempat yang jauh dari makam saudaranya tersebut, tetap dianjurkan untuk mendoakan si mayit.</p>
<p>Terdapat dalil dari Al-Qur’an tentang disyariatkannya berdiri di samping makam untuk mendoakan si mayit. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَداً وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فَاسِقُونَ</span></p>
<p><em>“Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”</em> (QS. At-Taubah: 84).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>“Disebutkannya larangan (untuk berdiri mendoakan di kuburnya, pent.) secara khusus (bagi orang-orang kafir, pent.) menunjukkan bahwa selain mereka itu dianjurkan untuk disalatkan dan berdiri di kuburnya (untuk mendoakannya). Karena jika perkara tersebut tidak disyariatkan bagi siapa pun (baik muslim ataupun kafir, pent.), tentu tidak perlu disebutkan larangan itu secara khusus. Dan tidak perlu menyebutkan alasan kafirnya mereka ketika melarang hal itu. Oleh karena itu, menyalatkan jenazah kaum mukminin dan berdiri di kuburnya termasuk <em>sunnah mutawatir</em>” (<em>Majmu’ Al-Fataawa, </em>1: 165 dan 27: 330)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72144-bolehkah-perempuan-mengiringi-jenazah.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Perempuan Mengiringi Jenazah?</a></strong></p>
<p><strong><em>Apakah dilaksanakan secara berjamaah?</em></strong></p>
<p>Doa untuk si mayit tersebut dilakukan secara sendiri-sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah dengan dikomando oleh satu orang. Syekh Ibnu ‘Utsaimin <em>Rahimahullah </em>berkata ketika ditanya tentang mendoakan mayit secara berjamaah di pemakaman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ليس هذا من سنة الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ولا من سنة الخلفاء الراشدين رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم ، وإنما كان الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يرشدهم إلى أن يستغفروا للميت ويسألوا له التثبيت ، كلٌّ بنفسه ، وليس جماعة</span></p>
<p>“Hal semacam ini tidak sesuai dengan sunah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, tidak pula bagian dari ajaran <em>al-Khulafa’</em> <em>ar-Rosyidun</em> <em>Radhiyallahu</em> <em>‘anhum</em>. Namun Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa</em><em>sallam</em> hanya memberikan petunjuk kepada mereka untuk memintakan ampunan bagi jenazah dan memohon keteguhan untuknya. Masing-masing orang membaca sendiri, dan tidak dilakukan secara berjamaah” (<em>Fatawa al-Janaiz,</em> hlm. 228).</p>
<p><strong><em>Apakah dilakukan dengan mengangkat tangan?</em></strong></p>
<p>Syekh Ibnu ‘Utsaimin <em>Rahimahullah </em>menjelaskan kaidah-kaidah mengangkat tangan ketika berdoa. Beliau <em>Rahimahullah </em>berkata menjelaskan kondisi yang kedua,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">القسم الثاني أن لا نعلم أن النبي صلى الله عليه وسلم رفع يديه ولا يكون هو ظاهر الحديث فحينئذٍ لا نرفع الأيدي وذلك مثل الدعاء عند القبر فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل ولم يرد في ذلك رفع يدين فالظاهر عدم الرفع</span></p>
<p>“Kondisi kedua, tidak diketahui apakah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>mengangkat kedua tangannya ataukah tidak, dan <em>dzahir</em> hadis juga tidak menunjukkan bahwa Nabi mengangkat tangan. Dalam kondisi semacam ini, maka tidak perlu mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Contohnya adalah berdoa di makam. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>ketika selesai memakamkan jenazah, beliau berdiri sejenak dan berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.’ Tidak terdapat keterangan dalam hadis tersebut bahwa Nabi mengangkat tangan. Sehingga <em>dzahir</em> hadis menunjukkan tidak mengangkat tangan” (<em>Fataawa Nuur ‘ala Darb, </em>14: 212).</p>
<p>Syekh Abdullah Aba Buthain <em>Rahimahullah </em>ditanya tentang perlukah mengangkat tangan ketika berdiri sejenak mendoakan mayit setelah dimakamkan. Beliau <em>Rahimahullah </em>menjawab, “Tidak perlu mengangkat tangan, karena tidak terdapat dalil.” (<em>Ad-Durar As-Saniyyah, </em>3: 249)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/55113-hukum-menunda-pemakaman-jenazah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menunda Pemakaman Jenazah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Faidah kedua</strong></span></h2>
<p>Hadis ini menunjukkan adanya pertanyaan malaikat kepada mayit di dalam kubur, yaitu tentang Rabbnya, agama, dan Nabinya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis-hadis yang sahih. Yang lebih tepat, pertanyaan ini bersifat umum, ditujukan baik kepada muslim maupun kafir. Ini adalah pendapat sejumlah ulama, seperti Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan selain mereka <em>rahimahumullah </em>(lihat <em>At-Tadzkirah, </em>hal. 62).</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ</span></p>
<p>“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim: 27).</p>
<p>Terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قَالَ: ” {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ} [إبراهيم: 27] ” قَالَ: ” نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ، فَيُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَفِي الْآخِرَةِ} [إبراهيم: 27] “</span></p>
<p><em>“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”</em> (QS. Ibrahim: 27)</p>
<p>Beliau bersabda, <em>“(Ayat ini) turun berkenaan dengan azab kubur. Dia ditanya, “Siapa Rabb-mu?” Dia menjawab, “Rabb-ku Allah, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Itulah firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”</em> (QS. Ibrahim: 27) (HR. Muslim no. 2871)</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Faidah ketiga</strong></span></h2>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa mayit itu bisa memperoleh manfaat dengan sebab doa dan permohonan ampunan untuknya. Seandainya tidak bermanfaat untuk mayit, tidak ada faidahnya perintah untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Ini adalah <em>ijma’</em> ulama sebagaimana yang ditegaskan oleh An-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahumallah </em>(lihat <em>Al-Adzkar, </em>hal 150 dan <em>Majmu’ Al-Fataawa, </em>7: 499 dan 24: 306).</p>
<p>Mereka berdalil dengan firman Allah <em>Ta’ala, </em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ</span></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”</em> (QS. Al-Hasyr: 10)</p>
<p>Dan juga firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ</span></p>
<p><em>“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”</em> (QS. Muhammad: 19)</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</span></p>
<p><em>“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang bermanfa’at baginya, dan (3) anak shalih yang selalu mendoakannya.”</em> (HR. Muslim no. 1631)</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Faidah keempat</strong></span></h2>
<p>Hadis tersebut menunjukkan adanya persaudaraan Islam antara orang-orang yang beriman yang diikat oleh tali agama dan akidah yang sahih. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ</span></p>
<p><em>“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”</em> (QS. Al-Hujurat: 10).</p>
<p>Dan di antara buah dari adanya persaudaraan ini adalah motivasi untuk mendoakan saudaranya yang telah meninggal dunia. Dalam hadis di atas, Nabi menggunakan kalimat,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ</span></p>
<p>“Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian.”</p>
<p>Hal ini untuk melembutkan dan mendekatkan hati saudara-saudaranya yang beriman dan masih hidup agar mendoakan ampunan untuknya dengan penuh keikhlasan.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43876-fikih-pengurusan-jenazah-1-memandikan-dan-mengkafani.html" data-darkreader-inline-color="">Memandikan dan Mengkafani</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24880-fikih-jenazah-2-mendoakan-kebaikan-pada-orang-yang-akan-meninggal.html" data-darkreader-inline-color="">Mendoakan Kebaikan Pada Orang Yang Akan Meninggal</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 28 Jumadil akhirah 1443/ 31 Januari 2022</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Minhatul ‘Allam, </em>4: 350-352 dan sumber-sumber lainnya yang telah disebutkan. Sebagian kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.</p>
 