
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/07/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-41.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/07/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-41.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Berdzikirlah, jangan sampai menjadi orang lalai.</p>
<h3></h3>
<h3 style="text-align: center;">Ayat Pertama:</h3>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai</em>.” (QS. Al-A’raf: 205). Ahli bahasa berkata, “<em>Al-ashaal </em>adalah bentuk jamak dari <em>ashiil</em>, yaitu waktu Ashar dan Maghrib.”</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Pelajaran dari ayat:</h3>
<p> </p>
<ol>
<li>Ayat ini menunjukkan perintah untuk berdzikir pada pagi dan petang. Dua waktu ini punya keutamaan untuk berdzikir dibanding dengan waktu lainnya.</li>
<li>Hendaklah berdzikir dengan menghimpun rasa harap dan takut, dengan ucapan tanpa suara keras.</li>
<li>“<em>Tadharru’</em>” artinya berdzikir dengan lisan dalam keadaan tunduk, sedangkan “<em>khiifatan</em>” adalah berdzikir dengan hati dalam keadaan takut kepada Allah.</li>
<li>Dzikir kepada Allah bisa dengan hati, bisa dengan lisan, atau bisa dengan hati dan lisan sekaligus. Dzikir dengan hati dan lisan, itulah yang lebih sempurna.</li>
<li>Dzikir cukup dengan lirih, tanpa bersuara keras. Sebagaimana dalam hadits <em>shahihain </em>dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata mengenai para sahabat yang berdoa saat safar dalam keadaan suara keras, lantas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Wahai sekalian manusia, perhatikanlah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah memanggil yang tuli dan sesuatu yang tidak ada. Yang kalian panggil adalah Allah yang Maha Mendengar dan Mahadekat</em>.”</li>
<li>Jangan sampai berdzikir dalam keadaan hati yang lalai.</li>
<li>Orang yang “<em>ghafil</em>” (lalai) adalah orang yang melupakan Allah sehingga Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Inilah yang terhalang dari kebaikan dunia dan akhirat.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:471-472.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>. Ibnu Katsir. Aplikasi Quran Tafsir (iPad). <a href="http://www.pakdata.com/">pakdata.com</a>
</li>
<li>
<em>Tafsir As-Sa’di</em>. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (iPad). <a href="http://www.pakdata.com/">pakdata.com</a>
</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan di Perjalanan Jakarta – Jogja, 6 Dzulqa’dah 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 