
<p>Berjabat tangan atau bersalaman merupakan amalan yang ringan dan mudah dilakukan. Namun, aktivitas ini terkadang dianggap biasa dan dilakukan sekedar rutinitas atau bukti kesantunan insan beradab. Di sisi lain, terkadang orang kurang memahami keutamaan amal shalih ini, padahal betapa banyak kebaikan dan pahala dari Allah <em>Ta’ala</em> ketika kita menjulurkan tangan kita seraya mengharap kecintaan Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em>. Disinilah pentingnya ilmu dan terus belajar sehingga kita menjadi lebih mengetahui fikih seputar keutamaan bersalaman.</p>
<p> </p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا</p>
<p>“<em>Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah.</em>” (HR. Abu Daud no. 5212 dan at-Tirmidzi no. 2727, dishahihkan oleh al-Albani)</p>
<p> </p>
<p>Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak diperkenankan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ</p>
<p>“<em>Andai kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu masih lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.</em>” (HR. Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman</em> no. 4544, dishahihkan oleh al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> no. 226)</p>
<p> </p>
<p>Al-Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata: “Berjabat tangan itu dapat menambah kecintaan”. Al-Imam Mujahid <em>rahimahullah</em> berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasannya apabila dua orang yang saling mencintai (karena Allah) saling melihat kemudian salah satunya tertawa kepada sahabatnya dan keduanya saling berjabat tangan maka bergugurlah kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana gugurnya daun-daun dari pepohonan”. Seseorang berkata kepada beliau: “Sungguh ini merupakan amalan yang ringan sekali”. Beliaupun menyahut: “Kamu katakan ringan? Padahal Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ</p>
<p>“<em>Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka.</em>” (QS. Al-Anfal : 63) (<em>Jami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, hlm. 291)</p>
<p> </p>
<p><em>Subhanallah</em>, betapa Allah Maha Pemurah menurunkan syariat jabat tangan sebagai media mempererat kecintaan, menambah kuat tali persaudaraan, menjauhkan permusuhan, serta menggugurkan dosa dan kesalahan. Bukan sekedar gerakan tangan tanpa makna, namun yang dimaksudkan adalah jabat tangan yang dilandasi keimanan serta kecintaan pada Allah <em>Ta’ala</em>. Berjabat tangan yang diiringi amalan hati bahwa ia mencintainya karena Allah <em>Ta’ala</em>, diiringi raut muka bersahabat, serta menghindari penampakan <em>dhahiriyah</em> yang menunjukkan sikap permusuhan. Ekspresi kegembiraan terpancar nyata sehingga orang lain merasa nyaman dan bahagia.  Ini merupakan wujud muamalah yang baik karena ia telah memuliakan orang lain sebagaimana yang disyariatkan Islam.</p>
<p> </p>
<p>Tentu dalam aplikasinya, harus pula mengindahkan aturan-aturan syariat, seperti tidak berjabat tangan dengan orang-orang selain mahramnya. Begitu pula adab mulia ini perlu dibiasakan, seperti istri terhadap suami, anak kepada orang tua, saat bertandang ke tetangga, kerabat dan dalam banyak momen-momen pertemuan. Bukankah manusia tempatnya lupa dan salah, apalagi dalam bersosialisasi dengan orang lain. Oleh karena itu, sebagai penghilang kesalahan-kesalahan di antaranya dengan jabat tangan.</p>
<p> </p>
<p>Kehidupan di dunia ini terasa lebih indah lagi harmonis tatkala setiap insan menyadari dan mengamalkan amal shalih. Saat badai perselisihan atau konflik melanda rumah tangga, segera raih tangan pasangan, ucapkan ungkapan maaf penuh kecintaan, genggam erat tangannya seraya berdoa agar Allah <em>Ta’ala</em> menyatukan hatinya.</p>
<p> </p>
<p>Atau menghadapi anak yang tengah rewel, ngambek, atau sulit diatur, segera tenangkan diri Anda, jabat tangannya dan katakan setulus hati bahwa Anda mencintainya karena Allah <em>Ta’ala</em>, mudah-mudahan dengan kiat ini hatinya tak lagi sekeras batu karang dan Allah temukan perasaan cinta dalam hatinya.</p>
<p> </p>
<p>Demikian pula, ketika terjadi konflik dengan orang lain maka bersikaplah <em>tawadhu</em>. Jabat tangannya dan mulailah menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin. Tak ada salahnya Anda memulai dahulu amalan indah ini. Berlomba-lombalah dalam kebaikan dan takwa. Akhlak mulia merupakan bagian dari tujuan diutusnya Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan bagian yang penting dari <em>dien</em> (Islam) adalah akhlak yang mulia.</p>
<p> </p>
<p>Para salaf mengatakan, “Dunia tidak ada artinya, kecuali dengan agama, dan tidak ada agama, kecuali dengan akhlak yang mulia.” (<em>Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam </em>: 399)</p>
<p><strong>Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa</strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li>
<em>Majalah Asy-Syariah</em>, Vol. V/No. 60/1431 H.</li>
<li>
<em>Tiket Meraih Surga</em>, Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Qosim, dan Syaikh Kholid bin Abdurrahman ad-Darwis, Maktabah al-Hanif, Yogyakarta, 2008.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 